Kamis, 28 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Aceh dan Pusaka yang Hampir Hilang

Tulisan ini bukan kampanye politik ataupun dukungan terhadap tokoh tertentu. Ini hanya suara keprihatinan dan kerinduan.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Yocerizal
Serambinews.com/HO
Wahdi Azmi, Pemerharti Lingkungan di Aceh 

Jumlah pamhut yang direkrut mendekati angka dua ribu orang, itu setara seperempat dari total polisi hutan yang ada di seluruh negeri ini, sementara luas Aceh tak sampai empat persen dari luas Indonesia. 

Sebagian orang menyebut ini boros. Namun jika kita bertanya pada rumput yang bergoyang, mungkin jawabannya berbeda. 

Kritik pun datang. Ada yang menyebut hutan sebagai cost center, menjadi beban bagi negara. Ada yang gelisah melihat angka belanja untuk pamhut dan patroli. 

Mungkin Irwandi tidak tertarik dengan istilah-istilah ekonomi cantik-cantik lebay manja seperti cost center itu, atau pura pura tidak paham, atau memang ia menolak memandang soal itu dari sudut pandang yang sama.  

Bisa jadi baginya menjaga hutan bukan beban, melainkan konsekuensi normal dari menjadi manusia dan pemimpin yang bertanggung jawab. Melihat hutan sebagai investasi yang tidak diukur dalam rupiah hari ini, tetapi dalam keberlanjutan hidup generasi yang belum lahir. 

Lagipula ia tau total economic value dari keseluruhan hutan aceh yang ia jaga dalam beberapa skenario pengelolaan, dari hasil sebuah kajian yang ia dorong untuk dibuat. 

Tidak berhenti di situ, pada 2009 ia menandatangani SK Gubernur Aceh No. 522/372/2009 yang menetapkan Ulu Masen sebagai kawasan cadangan karbon Aceh. Itu adalah empat tahun sebelum pemerintah pusat memiliki Badan Pengelola REDD+.  

Untuk pertama kalinya juga, nama Ulu Masen masuk dokumen resmi pemerintahan, sebelum menjadi istilah yang akrab di telinga para pegiat lingkungan lokal dan internasional. Di saat Indonesia baru belajar mengeja REDD, Aceh sudah menuliskannya dalam kebijakan. 

Ekosistem Ulu Masen, yang terhubung dengan bentang Leuser, diposisikan bukan hanya sebagai habitat satwa liar dan penyimpan air, tetapi juga sebagai tabungan karbon, sesuatu yang bisa dinegosiasikan di meja dunia.

Baca juga: Gerindra Copot Bupati Aceh Selatan dari Jabatan Ketua DPC: Ketahuan Umrah di Tengah Bencana Banjir

Baca juga: Beutong Ateuh Banggalang Luluh Lantak, Mualem Minta TRK Data Semua Kerusakan

Kerja sama kemudian dijalin dengan mitra internasional, termasuk perusahaan seperti Carbon Conservation yang membawa masuk institusi keuangan global sekelas Meryl Lynch. Aceh memasuki percakapan baru, di mana hutan dibicarakan dalam satu nafas dengan pasar karbon dan skema pendanaan internasional. 

Di atas kertas, ini tampak menjanjikan. Hutan yang dipertahankan akan dihargai, bukan hanya sebagai pemandangan, tetapi juga sebagai pengurangan emisi yang bisa dihitung.

Di panggung global, pada COP 13 UNFCCC di Bali, Irwandi pernah berdiri dan berbicara dengan gaya khasnya, dengan bahasa Inggris yang kental gaya koboi Oregon dan nada yang sering membuat orang tertawa sebelum menyadari bahwa isinya sebenarnya sangat serius.

"We produced oxygen for free all this time. Now you gotta pay!!”.

Kalimat itu terdengar seperti kelakar, tetapi sesungguhnya pengingat keras kepada dunia bahwa provinsi seperti Aceh telah lama memberi jasa ekologi tanpa pernah benar benar dihargai.

Dan suara Aceh kemudian didengar bukan hanya di lembah, tetapi di panggung dunia. Bersama Arnold Schwarzenegger, menjadi salah satu founding father forum gubernur hutan tropis, GCF Task Force, yang kini telah bertumbuh menjadi 45 provinsi/negara bagian di 11 negara, menjaga lebih dari sepertiga hutan tropis dunia. 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved