Kamis, 28 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Aceh dan Pusaka yang Hampir Hilang

Tulisan ini bukan kampanye politik ataupun dukungan terhadap tokoh tertentu. Ini hanya suara keprihatinan dan kerinduan.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Yocerizal
Serambinews.com/HO
Wahdi Azmi, Pemerharti Lingkungan di Aceh 

Jika kita melihat ke cermin hari ini, paradoks tetap tampak jelas. Di satu sisi, Aceh memegang salah satu tutupan hutan terluas di Indonesia. Di sisi lain, kabupaten-kabupaten yang hutannya masih terjaga justru sering tercatat sebagai daerah dengan angka kemiskinan tinggi. 

Rakyat yang hidup di pinggir hutan ikut menanggung risiko ketika hujan turun, ketika sungai mengamuk, ketika jalan putus, ketika tanah longsor. Namun manfaat besar dari hutan dan tambang sering tidak sampai ke dapur mereka. Inilah ironi yang seharusnya mengganggu tidur pemimpin.

Amanah Teungku Hasan Muhammad di Tiro

Di tengah semua itu, ada satu garis yang seharusnya kita pegang erat. Garis yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Aceh dalam satu tarikan nafas. 

Ia tertulis dalam secarik kertas di Stockholm. Pada 15 Juni 2009, ketika Teungku Hasan Muhammad di Tiro, sang Wali Neugara menulis dengan tangan sepuhnya dan membubuhkan tanda tangan basah di bawah pesan singkatnya.

Ia menulis: Peuselamat uteuen Atjeh, sabab uteuen nyan nakeuh salah saboh pusaka keuneubah endatu nyang akan tapulang keu aneuk tjutjo geutanyoe di masa ukee. Bahwa hutan Aceh adalah pusaka nenek moyang yang harus kita selamatkan dan wariskan kepada anak cucu. Pesan yang sederhana, tegas, dan tanpa ruang untuk ditawar.

Baca juga: Darwati A Gani Datangi Satu per Satu Kepala Daerah, Minta Segera Tebus Beras CPP untuk Korban Banjir

Baca juga: Kumpulkan Donasi Rp 10 Miliar, Ferry Irwandi Menangis Ungkap Kondisi Mencekam Aceh Tamiang

Amanah itu tidak lahir untuk satu gubernur. Amanah itu tidak dipatenkan untuk satu periode. Ia ditujukan kepada siapa saja yang diberi mandat memimpin Aceh, dari masa ke masa. Lebih mudah membongkar kuburan daripada merubah wasiat terebut meski satu titik pun. 

Irwandi, dengan segala kekurangan dan kontroversinya, pernah berupaya menjawab amanah itu melalui kebijakan konkret, meski tidak semua berhasil, meski sebagian terhenti di tengah jalan. 

Kini, amanah yang sama melekat juga pada pemimpin Aceh hari ini. Apabila ada amanat wali sebelumnya yang tidak mampu dijalankan, apakah kita tega untuk beramai-rami melecehkan surat wasiat terakhir beliau ini.

Jika dulu, di tengah suasana pascakonflik yang getir, bisa lahir kebijakan seperti moratorium logging, seperti perekrutan pamhut dari eks kombatan, seperti penetapan kawasan cadangan karbon, seperti sidak ke kilang kayu dan pencabutan izin yang menampung kayu ilegal, maka hari ini, ketika situasi politik relatif lebih stabil, seharusnya kita bisa melahirkan kebijakan yang tidak kalah berani. 

Malam ini hujan mungkin akan reda beberapa jam lagi. Air di selokan akan mengalir, sebagian menggenang di titik titik rendah, sebagian meresap perlahan ke tanah. 

Di tempat lain, mungkin ada sungai yang diam-diam meninggi. Mungkin ada batu yang longgar, tanah yang jenuh, akar yang gelisah. Kita tidak tahu. Tetapi satu hal yang pasti, setiap tetes hujan akan mencari jalannya sendiri. Dan jalan itu ditentukan oleh seberapa banyak pohon yang masih bertahan, seberapa banyak hutan yang masih dijaga.

Kita hanya bisa berharap, ketika anak cucu kita suatu hari nanti mendengar cerita tentang masa ini, mereka tidak perlu berkata bahwa kita adalah generasi yang gagal. 

Gagal membaca tanda tanda. Gagal menghormati amanah sang Wali. Gagal melanjutkan satu tarikan nafas yang sudah dimulai. Semoga mereka bisa berkata bahwa kita, meski terlambat, akhirnya kembali ke jalan yang benar.

Hutan Aceh telah menjaga kita begitu lama. Kini saatnya kita menjaga hutan Aceh. Bukan dengan kata-kata, tetapi dengan pilihan kebijakan. Bukan dengan poster, tetapi dengan keberanian. Bukan dengan nostalgia, tetapi dengan tindakan yang membuat amanah itu tetap hidup dari satu pemimpin ke pemimpin berikutnya, masih dalam satu tarikan nafas yang sama. 

Well, bernostalgia rasanya bukan lagi perkara lebay ketika hari ini pembangunan juga melangkah mundur (set-back). Kita akan segera kembali sibuk membangun ulang ratusan jembatan, membangun ulang jalan, dan fasilitas umum yang luluh lantak diterjang banjir bandang. 

Ribuan hektar sawah kembali memulai dari titik yang bahkan lebih rendah dari “nol”, karena kata “nol” terlalu mulia untuk menggambarkan kondisi yang tersisa hari ini.

Salam sayang buat Aceh

* PENULIS adalah Pemerhati Lingkungan di Aceh *)

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca juga: Banjir Belum Surut, Ratusan Warga Aceh Tamiang Masih Mengungsi dan Minim Bantuan

Baca juga: 1.670 LPG 3 Kg Mulai Didistribusi di Banda Aceh

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved