Pojok Humam Hamid
Siklon Senyar 25, Aceh, dan The Burning Earth
semacam tsunami darat yang melahap apa saja di hadapannya—tak peduli apakah itu bagian dari ruang hidup manusia atau bukan.
Oleh Ahmad Humam Hamid*)
Ketika Siklon Senyar menghantam Aceh dan sebagian Sumatra pada penghujung November lalu, terasa sejak awal bahwa ada sesuatu yang tidak biasa—jauh sebelum banjir lumpur merusak kehidupan dan penghidupan.
Hujan bukan lagi sekadar siraman atau guyuran biasa. Ia berubah menjadi banjir langit yang tak berhenti satu atau dua hari, tetapi hampir satu minggu penuh.
Yang menyusul kemudian adalah semacam tsunami darat yang melahap apa saja di hadapannya—tak peduli apakah itu bagian dari ruang hidup manusia atau bukan.
Yang terjadi kemudian adalah perubahan wajah bumi dalam skala yang sangat masif.
Citra satelit menunjukkan permukaan tanah yang tercabik secara besar-besaran, membuat batas antara kawasan hulu dan hilir tampak nyaris serupa.
Hamparan lahan tanpa vegetasi—hutan gundul di hulu, sawah yang tertimbun di hilir, hingga permukiman yang tingginya bertambah karena lapisan lumpur—muncul sebagai luka ekologis yang seragam.
Itu pun belum menghitung fenomena-fenomena lain yang menyertai Senyar.
Baca juga: Rumah Terkubur Tanah, Mahmudi: Nyan Keuh Nyoe Gampong Loen
Dalam konteks inilah kaitannya dengan The Burning Earth menjadi sangat jelas.
Dalam The Burning Earth, Sunil Amrith menulis sejarah panjang tentang bagaimana manusia, perlahan tetapi pasti, mengubah bumi menjadi arena luka yang menganga.
Sunil Amrith sendiri adalah seorang sejarawan lingkungan dan sejarah Asia global asal India, yang kini dianggap sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam hubungan manusia–alam.
Ia pernah mengajar di universitas terkemuka seperti Harvard dan Yale, dan karya-karyanya mengungkap bagaimana kolonialisme, pembangunan modern, serta ekonomi ekstraktif selama lima abad terakhir menjadi akar dari krisis ekologis dunia saat ini.
Dengan pendekatan sejarah yang melihat alam sebagai subjek penderitaan, Amrith menunjukkan bahwa bencana lingkungan modern bukanlah kejadian baru, melainkan kelanjutan dari luka panjang yang ditinggalkan manusia pada bumi.
Sejak lima abad terakhir, dunia dibentuk bukan hanya oleh persaingan antar imperium, tetapi oleh hubungan manusia dengan tanah, air, hutan, dan udara.
Amrith mengawali ceritanya bukan dari era perubahan iklim modern, tetapi dari masa ketika hutan-hutan Eropa ditebang untuk kapal perang, pegunungan Andes dibelah untuk perak, dan sungai-sungai Asia dibelokkan demi proyek kolonial yang ambisius.
Baca juga: Kisah Pilu Korban Bencana Aceh Tamiang, Ibu Terpaksa Beri Minum Bayinya dengan Air Banjir
| Kepemimpinan Bencana, Variabel Dasco, dan Pragmatisme Aceh |
|
|---|
| Pengerahan Ribuan Praja dan ASN ke Wilayah Bencana: “Meuhai Yum Taloe Ngon Yum Keubeu” |
|
|---|
| "Rujak Batee Iliek", Netizen, dan Media Sosial: Resep Bupati Nurdin AR untuk Jenderal Maruli |
|
|---|
| Bencana dan Model Kelembagaan R3P Aceh: Mengapa Harus Inklusif dan Partisipatif? |
|
|---|
| Jangan Buru-buru Akhiri Masa Darurat, Aceh Utara Masuk Masa Transisi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Ahmad-Humam-Hamid-oktober-2025.jpg)