Pojok Humam Hamid
Siklon Senyar 25, Aceh, dan The Burning Earth
semacam tsunami darat yang melahap apa saja di hadapannya—tak peduli apakah itu bagian dari ruang hidup manusia atau bukan.
Jared Diamond, dalam Collapse, menjelaskan bagaimana peradaban hancur ketika gagal mengelola lingkungan.
Baca juga: Paparkan Kondisi Terparah Banjir, Kapolda: Aceh Tamiang Sangat Memprihatinkan
Diamond bercerita tentang kehancuran Pulau Paskah akibat deforestasi, atau tentang Viking Greenland yang menolak beradaptasi hingga lenyap dari sejarah.
Apa yang digambarkan Diamond dalam skala lokal, diperluas Amrith menjadi skala planet. Keruntuhan tak lagi tragedi satu bangsa, tetapi potensi tragedi seluruh umat manusia.
Amitav Ghosh, lewat The Great Derangement, menambahkan dimensi budaya: manusia tidak cukup mampu membayangkan besarnya bahaya ekologis yang akan datang.
Kesalahan terbesar kita bukan hanya merusak, tetapi gagal membayangkan dampak dari kerusakan itu.
Amrith memberikan konteks sejarahnya—selama lima abad kita dipelihara oleh narasi bahwa alam adalah sesuatu yang bisa ditaklukkan.
Mike Davis, yang menulis tentang kekeringan global dan kelaparan abad ke-19, menunjukkan bahwa bencana iklim tidak pernah netral. Ia selalu memukul yang miskin terlebih dulu.
Amrith meneruskan logika itu dengan menunjukkan bahwa ketidakadilan ekologis hari ini—banjir, polusi, panas ekstrem—adalah bayangan panjang dari ketidakadilan kolonial.
Leuser dan Ulu Masen hadapi ancaman
Jika gagasan Amrith, Diamond, Ghosh, dan Davis kita bawa ke Aceh—khususnya Ekosistem Leuser dan Ulu Masen—kita melihat betapa relevannya narasi lima abad perusakan bumi itu.
Leuser dan Ulu Masen, salah satu hutan hujan terakhir yang masih utuh di dunia, kini menghadapi ancaman yang sangat mirip dengan pola global tersebut: ekspansi perkebunan dari barat dan selatan, tambang ilegal yang merusak pegunungan, perburuan satwa, pembukaan jalan yang mengiris jantung konservasi, hingga rencana pembangunan pembangkit listrik di kawasan esensial. Semuanya adalah pengulangan babak kelam yang digambarkan Amrith.
Aceh, yang dulunya dikenal sebagai negeri yang harmonis dengan alam, kini berada di persimpangan: mengikuti jejak lima abad sejarah ekstraksi, atau memilih jalan berani untuk melindungi sisa paru-paru bumi.
Baca juga: Malam Mencekam di Blang Awe, Asiah dan Suami Lari Sambil Gendong Anak, Semua Lenyap tak Bersisa
Leuser bukan hanya aset Aceh; ia adalah benteng terakhir harimau Sumatra, gajah, badak, dan orangutan yang hidup berdampingan dalam satu lanskap.
Jika Leuser hancur, keruntuhan ekologis tidak berhenti pada satwa. Ia akan merambah sungai, air bersih, banjir, longsor, hingga hilangnya identitas ekologis masyarakat Aceh sendiri.
Dalam cahaya gagasan Amrith, kehancuran Leuser bukan sekadar masalah lokal—ia adalah fragmen dari tragedi besar bumi yang sedang terbakar.
Namun sebagaimana Amrith, Diamond, Ghosh, dan Davis percaya, sejarah tidak hanya memberikan peringatan. Ia juga menawarkan pilihan.
| Membaca Indonesia Hari Ini: Chairul Tanjung, Purbaya, dan Presiden Prabowo |
|
|---|
| Dolar Naik: Neraca Untung-Rugi Masyarakat Kawasan Pedesaan Kita |
|
|---|
| Prabowo dan The Economist: Indonesia dan Siklus Optimisme - Kewaspadaan Versi Media Internasional |
|
|---|
| JKA, Senyar, dan Otsus: Ujian Serius atau Kembali “Lagee Biasa”? |
|
|---|
| Tenaga Kerja Aceh: Dominasi Sektor Informal, TPT, dan Indikator Tak Sehat Lainnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Ahmad-Humam-Hamid-oktober-2025.jpg)