Pojok Humam Hamid

Siklon Senyar 25, Aceh, dan The Burning Earth

semacam tsunami darat yang melahap apa saja di hadapannya—tak peduli apakah itu bagian dari ruang hidup manusia atau bukan.

Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Melalui rentang sejarah itu, ia menunjukkan bahwa krisis ekologis bukanlah bencana baru—melainkan warisan panjang dari kesombongan manusia terhadap alam.

Dalam tangan Amrith, sejarah bukan sekadar catatan peristiwa manusia. Ia menjadi catatan penderitaan ekologis. 

Kolonialisme, misalnya, bukan hanya penaklukan manusia atas manusia, tetapi juga penaklukan manusia atas ekologi. 

Belanda ubah sebagai Asia Tenggara jadi lautan perkebunan

Ketika Belanda mengubah sebagian Asia Tenggara menjadi lautan perkebunan; ketika Inggris memaksa sungai-sungai India tunduk pada kanal dan bendungan raksasa; atau ketika Amerika dan Eropa menjadikan Timur Tengah sebagai mesin minyak global—semuanya adalah babak dari kisah bumi yang perlahan dibakar. 

Baca juga: Siklon Senyar 25 dan Keputusan Sementara Prabowo: Berkaca dari Bush dan Katrina

Alam terluka, dan manusia menjadi pelaku sekaligus korban.

Amrith menegaskan bahwa perang—di balik narasi heroismenya—adalah momen ketika bumi diperas dalam skala terbesar. 

Dua Perang Dunia menjadikan hutan sebagai bahan kapal perang, gurun sebagai sumber minyak, dan gunung sebagai ladang logam. 

Mobilisasi militer adalah mobilisasi ekologis. Dan ketika bom terakhir jatuh dan senjata dibersihkan, struktur ekstraktif yang dibangun untuk perang tidak pernah dibongkar.

 Ia justru menjadi fondasi ekonomi fosil yang membawa kita ke krisis iklim hari ini.

Baca juga: Update Jumlah Korban Tewas Bencana di Sumatera Terus Bertambah, Aceh Catat Angka Tertinggi

Dalam alur sejarah ini, manusia bukan hanya perusak; ia juga korban dari kehancuran yang diciptakannya sendiri. 

Amrith menunjukkan bagaimana migrasi besar-besaran sering kali berakar pada hilangnya hutan, tanah yang tidak lagi subur, sungai yang mengering, dan ladang yang hancur. 

Migrasi buruh India ke Burma dan Malaya, migrasi akibat deforestasi di Asia Tenggara, hingga migrasi modern karena bencana iklim—semuanya mengikuti pola yang sama: bumi yang terluka memaksa manusia bergerak.

Ketika Amrith menyebut modernitas sebagai ilusi bahwa manusia telah “bebas” dari alam—karena bisa membelokkan sungai, menimbun laut, mengeringkan rawa, membelah gunung—sesungguhnya ia sedang memberikan peringatan. 

Kesombongan itu ada harganya. Dan harga itu dibayar dunia hari ini melalui banjir, kebakaran hutan, krisis iklim, dan migrasi ekologis yang tak pernah berhenti.

Gagasan Amrith bergema kuat ketika disandingkan dengan para pemikir besar lainnya. 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved