Kupi Beungoh
Pak Presiden: Jika Ini Bukan Bencana Nasional, Lalu Apa?
Di penghujung 2025 ini, Sumatera memantulkan cermin paling jujur tentang bagaimana negara hadir atau justru absen di saat genting
Lebih mengkhawatirkan, para pakar hidrologi dan kehutanan dari UGM dan IPB menegaskan bahwa kerusakan geomorfologi Bukit Barisan dan daerah aliran sungai utama di Sumatera merupakan akumulasi puluhan tahun.
Pemulihan ekologisnya dapat memakan waktu 20–30 tahun.
Tanpa intervensi nasional yang kuat, bencana susulan bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan.
Mengapa Status Nasional Menyelamatkan Waktu
Penetapan Bencana Nasional memungkinkan negara menggerakkan seluruh sumber daya secara serentak: anggaran, personel, logistik, dan dukungan internasional.
Bagi korban, status ini adalah pesan kuat bahwa penderitaan mereka merupakan urusan bersama bangsa, bukan beban daerah semata.
Selama masa tanggap darurat masih berlangsung, belum terlambat untuk bertindak.
Pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi sosial, dunia usaha, dan negara donor dapat bergerak bahu-membahu, memastikan saudara-saudara kita yang masih tidur di tenda pengungsian benar-benar tahu bahwa negara berdiri di belakang mereka.
Keputusan yang Akan Dicatat Sejarah
Bencana ini telah melampaui batas daerah.
Korbannya terlalu banyak, wilayahnya terlalu luas, dan dampaknya terlalu dalam untuk ditangani setengah hati.
Sejarah tidak akan mengingat seberapa rapi prosedur dijalankan, melainkan seberapa cepat nyawa diselamatkan.
Jika hampir seribu nyawa melayang, sejuta warga mengungsi, tiga provinsi lumpuh, dan seluruh syarat hukum telah terpenuhi, tetapi status Bencana Nasional masih juga ditunda, maka yang tertunda bukan sekadar keputusan administratif, melainkan keadilan bagi para korban.
Dalam bencana, keberanian mengambil keputusan adalah bentuk tertinggi dari kepemimpinan.
Dan keberanian itu sedang ditunggu oleh jutaan rakyat Sumatera, hari ini, bukan nanti.
Wallahu’alam bisshawab.
*) PENULIS adalah Dosen Tetap pada Program Studi Magister Keuangan Islam Terapan, Politeknik Negeri Lhokseumawe; Peneliti Sosial–Kemasyarakatan; Pembina Yayasan Generasi Cahaya Peradaban.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Muhammad-Nasir-dosen-politeknik-lhokseumawe.jpg)