Senin, 27 April 2026

Pojok Humam Hamid

Bapak Presiden! Anda Punya Tongkat Nabi Musa - Status Bencana Nasional

Ucapan Presiden menegaskan kenyataan fundamental: bencana bukan sekadar angka statistik atau laporan visual. 

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Kehadiran fisik Presiden di lokasi terdampak Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Takengon, juga beberapa lokasi di Sumatera Utara, menegaskan niat untuk menilai kondisi secara langsung dan mendengar keluhan masyarakat. 

Ini adalah langkah penting yang memperlihatkan bahwa perspektif pusat tidak terlepas dari kenyataan lapangan, yang sering kali berbeda dari laporan administratif pembantu Presiden atau visual di media.

Perhatian Presiden terhadap kelestarian lingkungan juga patut diapresiasi. 

Pernyataan tentang penghentian penebangan pohon liar dan pentingnya menjaga alam menunjukkan pemahaman bahwa bencana bukan hanya soal hujan, angin, atau gelombang tinggi, tetapi soal hubungan manusia dengan alam. 

Pencegahan bencana di masa depan membutuhkan kesadaran ini, ditopang pengawasan dan regulasi, bukan hanya himbauan lisan.

Kejujuran Presiden menjadi sinyal positif, tetapi kenyataan menuntut langkah konkret. 

Status bencana nasional adalah tongkat Nabi Musa yang memungkinkan kerja keras di lapangan menjadi efektif. 

Dengan status ini, koordinasi pusat–daerah berjalan lancar, alokasi anggaran cepat, dan mobilisasi bantuan skala besar bisa berlangsung tanpa hambatan birokrasi. 

Tanpa itu, kerja keras, kunjungan, dan niat baik hanya akan terlihat simbolik, tidak langsung meringankan penderitaan warga terdampak.

Baca juga: Tiga Kali Kunjungan Presiden Prabowo ke Aceh Tidak Menjawab Tuntutan Warga

Baca juga: ISAJA Minta Presiden Prabowo Berkantor di Aceh Sementara 

Indikator Legitimasi

Ledakan kritik dan pertanyaan di media sosial bukan ancaman, melainkan indikator legitimasi yang harus dibaca sebagai data. 

Negara rapuh membaca kritik sebagai musuh; negara kuat membaca kritik sebagai masukan untuk memperbaiki kinerja. 

Kejujuran Presiden menunjukkan sikap yang tepat: mengakui keterbatasan bukan berarti menghindari tanggung jawab, melainkan membuka ruang untuk evaluasi dan perbaikan.

Pernyataan Presiden tentang keterbatasan sumber daya adalah pengakuan realistis terhadap kondisi struktural yang ada. 

Tidak ada solusi instan dalam menghadapi bencana berskala besar; yang ada hanyalah kerja keras semua pihak, koordinasi, dan kebijakan yang tepat. 

Pesan ini juga menegaskan tanggung jawab seluruh aparatur negara dan pemerintah daerah: kerja keras harus didukung instrumen yang memungkinkan hasilnya dirasakan di lapangan.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved