Kupi Beungoh
Membangun Resiliensi Rumah Sakit dalam Menghadapi Bencana
Resiliensi rumah sakit dapat dimaknai sebagai kemampuan rumah sakit mengantisipasi, menyerap, beradaptasi dan pulih dengan cepat dari dampak bencana.
*) Oleh: dr Brury Apriadi Husaini MKM,FISQua
ACEH merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi.
Secara geografis, Provinsi Aceh berada pada pertemuan lempeng tektonik aktif dan memiliki garis pantai yang panjang, topografi pegunungan serta pola iklim ekstrem yang menjadikannya rentan terhadap bencana, baik gempa bumi , tsunami, banjir bandang, tanah longsor dan bencana hidrometeorologi lainnya.
Pengalaman traumatis tsunami 2004 tidak hanya membentuk ingatan kolektif masyarakat Aceh tetapi juga menegaskan bahwa kesiapsiagaan dan ketahanan sistem pelayanan publik khususnya rumah sakit merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditawar.
Dalam konteks bencana, rumah sakit memiliki peran ganda yang sangat krusial.
Di satu sisi, rumah sakit adalah fasilitas pelayanan kesehatan esensial yang harus tetap berfungsi pada saat krisis.
Di sisi lain, rumah sakit sendiri merupakan entitas yang sangat rentan terhadap dampak bencana.
Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada akhir tahun 2025 memberikan gambaran empiris yang nyata mengenai lemahnya ketahanan sejumlah rumah sakit dalam menghadapi tekanan bencana berskala luas.
Kerusakan infrastruktur, gangguan sistem pendukung serta terputusnya akses transportasi menunjukkan bahwa resiliensi rumah sakit belum sepenuhnya terbangun secara sistematis.
Data empiris pada kejadian bencana hidrometeorologi Aceh pada akhir tahun 2025 menunjukkan adanya kerusakan masif pada sejumlah rumah sakit, terutama di wilayah rawan banjir dan longsor.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada bangunan fisik seperti ruang rawat inap, instalasi gawat darurat dan gudang logistik, tetapi juga pada fasilitas vital penunjang layanan kesehatan. Gangguan pasokan listrik menyebabkan alat medis kritis seperti ventilator, inkubator dan mesin anestesi tidak dapat berfungsi secara optimal.
Sistem air bersih juga mengalami kerusakan sehingga mengganggu standar sanitasi dan prosedur pencegahan serta pengendalian infeksi.
Lebih jauh, terputusnya koneksi internet juga menghambat sistem informasi rumah sakit, pencatatan rekam medis elektronik serta koordinasi rujukan pasien antar fasilitas kesehatan.
Masalah lain yang sangat krusial adalah terputusnya akses jalan menuju rumah sakit akibat banjir dan longsor. Kondisi ini berdampak langsung pada terganggunya transportasi pasien, distribusi logistik obat obatan, suplai oksigen medis serta mobilisasi tenaga kesehatan.
Rumah sakit yang seharusnya menjadi pusat penanganan korban justru mengalami keterisolasian sehingga kemampuan memberikan pelayanan kesehatan menjadi sangat terbatas.
| Ketika Kebencian Membunuh Akal Sehat Bangsa |
|
|---|
| Interprofessional Education: Nyata atau Hanya Teori Semata? |
|
|---|
| Pentingnya Strategi Pembangunan yang Menempatkan Tata Kelola sebagai Prioritas Utama |
|
|---|
| Jangan Biarkan Emosi Mengalahkan Logika dalam Pengelolaan Gas Andaman |
|
|---|
| Dayah dan Tantangan Pembinaan Karakter di Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-Brury-Apriadi-Husaini-MKMFISQua-0101.jpg)