Kupi Beungoh
Membangun Resiliensi Rumah Sakit dalam Menghadapi Bencana
Resiliensi rumah sakit dapat dimaknai sebagai kemampuan rumah sakit mengantisipasi, menyerap, beradaptasi dan pulih dengan cepat dari dampak bencana.
Situasi ini memperlihatkan bahwa ketahanan rumah sakit tidak hanya ditentukan oleh kekuatan bangunan tetapi juga oleh kesiapan sistem secara menyeluruh.
Dalam menghadapi realitas tersebut, pembangunan resiliensi rumah sakit menjadi agenda strategis yang harus dilakukan secara terencana, bertahap dan berkelanjutan.
Resiliensi rumah sakit dapat dimaknai sebagai kemampuan rumah sakit untuk mengantisipasi, menyerap, beradaptasi dan pulih dengan cepat dari dampak bencana sambil tetap mempertahankan fungsi layanan esensial.
Untuk mewujudkan hal tersebut, terdapat beberapa tahapan utama yang perlu dilakukan oleh rumah sakit.
Pertama yakni melakukan identifikasi dan asesmen risiko bencana. Rumah sakit perlu melakukan pemetaan risiko secara komprehensif dengan mengidentifikasi source of disturbance atau sumber gangguan yang berpotensi memengaruhi operasional rumah sakit.
Di Aceh, sumber gangguan ini mencakup risiko gempa bumi, banjir, longsor, angin kencang, gangguan jaringan listrik, hingga kegagalan sistem komunikasi.
Asesmen risiko tidak hanya berfokus pada ancaman eksternal tetapi juga pada kerentanan internal rumah sakit seperti ketergantungan pada satu sumber listrik, lokasi ruang genset yang rawan bencana atau sistem penyimpanan oksigen yang tidak aman.
Dalam proses asesmen ini, rumah sakit perlu menilai area sistem yang paling berpotensi terdampak dengan menggunakan prinsip high value priority yaitu memprioritaskan perlindungan terhadap fungsi dan unit yang memiliki nilai paling kritis bagi keselamatan pasien dan keberlanjutan layanan.
Instalasi gawat darurat, ruang operasi, ICU, sistem kelistrikan, suplai air, dan logistik medis harus menjadi fokus utama.
Dengan pendekatan ini, rumah sakit dapat mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif dan berbasis risiko.
Tahapan kedua adalah perencanaan. Perencanaan resiliensi rumah sakit harus dimulai jauh sebelum bencana terjadi dengan meningkatkan kapasitas internal rumah sakit.
Hal ini mencakup penyusunan Standar Prosedur Operasional (SPO) kebencanaan yang jelas, aplikatif dan mudah dipahami oleh seluruh staf rumah sakit.
SPO ini harus mengatur alur komando, mekanisme evakuasi, pengelolaan lonjakan pasien, serta pengamanan fasilitas vital.
Pembentukan Incident Command System (ICS) di tingkat rumah sakit menjadi langkah strategis untuk memastikan adanya struktur komando yang jelas saat bencana terjadi.
ICS memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat, terkoordinasi dan berbasis tanggung jawab yang tegas.
| Ketika Kebencian Membunuh Akal Sehat Bangsa |
|
|---|
| Interprofessional Education: Nyata atau Hanya Teori Semata? |
|
|---|
| Pentingnya Strategi Pembangunan yang Menempatkan Tata Kelola sebagai Prioritas Utama |
|
|---|
| Jangan Biarkan Emosi Mengalahkan Logika dalam Pengelolaan Gas Andaman |
|
|---|
| Dayah dan Tantangan Pembinaan Karakter di Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-Brury-Apriadi-Husaini-MKMFISQua-0101.jpg)