Kupi Beungoh
Membangun Resiliensi Rumah Sakit dalam Menghadapi Bencana
Resiliensi rumah sakit dapat dimaknai sebagai kemampuan rumah sakit mengantisipasi, menyerap, beradaptasi dan pulih dengan cepat dari dampak bencana.
Selain itu, rumah sakit perlu secara rutin melakukan simulasi dan pelatihan bencana untuk menguji efektivitas rencana yang telah disusun.
Pelatihan tidak hanya bersifat teknis dan klinis tetapi juga mencakup aspek mental dan psikologis tenaga kesehatan mengingat tekanan kerja yang tinggi saat bencana sering kali berdampak pada kesehatan mental petugas. Ketiga yakni pelaksanaan, yang meliputi respon, keberlanjutan layanan dan pemulihan pascabencana.
Pada fase respon, rumah sakit harus mampu mengaktifkan sistem komando, melakukan triase korban secara efektif serta memastikan layanan esensial tetap berjalan meskipun dalam kondisi keterbatasan. Keberlanjutan layanan menjadi tantangan besar terutama ketika infrastruktur dasar terganggu.
Oleh karena itu, kesiapan infrastruktur seperti genset cadangan yang aman dari bencana, sumber air alternatif serta sistem komunikasi darurat menjadi kebutuhan mutlak.
Selain itu, ketersediaan dana darurat yang fleksibel sangat penting agar rumah sakit dapat mengambil keputusan cepat tanpa terhambat oleh birokrasi keuangan.
Dana ini dapat digunakan untuk pengadaan logistik mendesak, perbaikan sementara fasilitas atau mobilisasi sumber daya tambahan.
Pada fase pemulihan, rumah sakit perlu fokus pada perbaikan layanan, pemulihan kapasitas operasional serta dukungan psikososial bagi tenaga kesehatan dan pasien.
Terakhir ialah pembelajaran. Setiap bencana harus dipandang sebagai sumber pembelajaran berharga bagi rumah sakit.
Proses learning and evaluation perlu dilakukan secara sistematis untuk menilai efektivitas seluruh strategi penanggulangan bencana yang telah diterapkan.
Evaluasi ini mencakup aspek perencanaan, koordinasi, kinerja sumber daya manusia serta ketahanan infrastruktur.
Hasil evaluasi kemudian menjadi dasar untuk melakukan rebuilding dengan prinsip build back better yakni membangun kembali rumah sakit dengan kualitas yang lebih baik, lebih aman dan lebih adaptif terhadap risiko bencana di masa depan.
Pengalaman Aceh menunjukkan bahwa membangun resiliensi rumah sakit bukanlah pilihan melainkan keharusan.
Tanpa rumah sakit yang tangguh, dampak bencana akan semakin meluas dan korban jiwa sulit diminimalkan.
Oleh karena itu, komitmen seluruh pemangku kepentingan, manajemen rumah sakit, pemerintah daerah, tenaga kesehatan serta masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan sistem pelayanan kesehatan yang mampu bertahan dan bangkit di tengah bencana.
Resiliensi rumah sakit adalah investasi jangka panjang untuk keselamatan, kemanusiaan dan keberlanjutan pelayanan kesehatan di daerah rawan bencana seperti Aceh. (*)
*) PENULIS adalah Dosen Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG)
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA BERITA SERAMBINEWS.COM LAINNYA DI SINI
| Ketika Kebencian Membunuh Akal Sehat Bangsa |
|
|---|
| Interprofessional Education: Nyata atau Hanya Teori Semata? |
|
|---|
| Pentingnya Strategi Pembangunan yang Menempatkan Tata Kelola sebagai Prioritas Utama |
|
|---|
| Jangan Biarkan Emosi Mengalahkan Logika dalam Pengelolaan Gas Andaman |
|
|---|
| Dayah dan Tantangan Pembinaan Karakter di Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-Brury-Apriadi-Husaini-MKMFISQua-0101.jpg)