M SHABRI Abd Majid, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Kebangkitan tidak selalu dimulai dari grafik makro atau angka pertumbuhan. Ia sering dimulai dari gerak sunyi—dari tangan yang memberi, dari hati yang peduli, dari pasar kecil yang kembali ramai menjelang berbuka. Namun di titik inilah pertanyaan itu layak kita ajukan dengan jujur. Jika Ramadhan yang kita jalani berulang setiap tahun mengajarkan empati, distribusi, dan keadilan; jika ia menjanjikan rahmat dan melipatgandakan pahala sedekah hingga tujuh ratus kali; jika ia disebut melahirkan individu bertakwa—yang seharusnya menjadi aktor ekonomi pejuang kesejahteraan berkeadilan—mengapa hidup kita belum banyak berubah? Mengapa kemiskinan masih bertahan? Mengapa setiap krisis selalu terasa lebih berat di pundak yang sama?
Mungkin yang kurang bukan ritualnya, melainkan keberanian menjadikan nilai sebagai sistem. Takwa seharusnya menjelma menjadi integritas dalam jabatan, kejujuran dalam pasar, dan keberpihakan dalam kebijakan. Tanpa keberanian struktural itu, rahmat akan terus hadir sebagai potensi—bukan transformasi.
Ramadhan dalam serpihan bencana bukanlah ironi. Ia adalah cahaya yang menyelinap di antara retakan—menguatkan, menata ulang keseimbangan, dan mengingatkan bahwa di tengah ekonomi yang ringkih, rahmat yang bekerja adalah awal dari ketahanan yang lebih kokoh dan bermartabat. Marhaban ya Ramadhan 1447H. Semoga keberkahan Ramadhan tidak hanya kita rasakan, tetapi kita wujudkan.
*) PENULIS adalah Profesor di bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id.