Jumat, 1 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Perjanjian Dagang AS-Indonesia: Ketahanan Pangan Prabowo dalam Ancaman

Taktik keras Donald Trump sudah menjadi rahasia dunia: menaikkan tarif secara sepihak, menekan lawan dagang

Tayang:
Editor: Zaenal
Serambinews.com
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Foto direkam pada acara program Apit Awe, di studio Serambinews.com, Februari 2026. 

Jagung, tulang punggung pakan ternak dan unggas, akan diimpor sekitar 1,6 juta ton senilai US$855 juta.

Harga jagung AS yang lebih murah menekan harga lokal dan membebani petani di sentra produksi. 

Tanpa proteksi harga atau skema penyangga yang kuat, para petani menghadapi risiko tersingkir secara bertahap.

Selain itu, dengan asumsi luas tanam kedelai mencapai 200.000 hektare yang tersebar di provinsi utama seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat, sektor kedelai menyerap sekitar 14 juta hari kerja dengan nilai upah mencapai Rp910 miliar. 

Meskipun padat karya, para petani tetap meraih keuntungan melalui efisiensi input, yang secara nyata menjaga likuiditas ekonomi lokal serta kesejahteraan rumah tangga di pedesaan. 

Data ini menegaskan bahwa sektor pertanian bukan hanya soal pangan, tapi juga soal ekonomi dan stabilitas sosial di wilayah pedesaan.

Gandum, meski belum diproduksi secara signifikan di dalam negeri, menjadi simbol ketergantungan Indonesia pada impor. 

Sekitar 5 juta ton gandum senilai US$1,25 miliar akan masuk pasar domestik tanpa kuota atau tarif bertahap. 

Dominasi satu negara pemasok tetap berisiko bagi kedaulatan pangan jangka panjang, terutama bila terjadi gejolak harga global atau gangguan pasokan.

Baca juga: Prabowo–Trump Sahkan Perjanjian Dagang Timbal Balik, Atur Tarif hingga Operasi Freeport-Boeing

Jalan Berbeda Cina, Vietnam, Brazil, Jepang, dan Korea

Di sisi lain, respons negara lain terhadap tekanan AS berbeda-beda. 

Cina memilih melawan, tetap membeli komoditas AS dalam jumlah besar, tetapi memberlakukan kuota, tarif, dan subsidi untuk melindungi petani domestik. 

Vietnam mengambil jalur kompromi terukur, membuka akses bagi komoditas tertentu tanpa sepenuhnya membuka pasar. 

Brazil mengandalkan kekuatan produksinya sendiri sebagai eksportir besar kedelai dan jagung dunia. 

Jepang dan Korea membuka akses pasar terbatas, namun tetap mempertahankan proteksi untuk sektor pertanian yang sensitif.

Indonesia tampaknya mengambil jalur berbeda. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved