Senin, 13 April 2026

Pojok Humam Hamid

Strategi “Ie Bu Peudah” Mesin Perang Iran Melawan AS–Israel - Bagian II

Masing-masing tampak sederhana, tetapi bersama-sama membentuk kekuatan yang sulit diprediksi.

Editor: Subur Dani
Serambinews.com
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Foto direkam pada acara program Apit Awe, di studio Serambinews.com, Februari 2026. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Dalam strategi Iran, kekuatan bukan hanya soal senjata tunggal, melainkan kemampuan meramu berbagai unsur kecil menjadi tekanan strategis yang terus-menerus dan berlapis.

Drone murah, rudal jelajah, perangkat perang elektronik, peluncur yang berpindah cepat, serta jaringan sekutu regional, semuanya bekerja seperti dedaunan, rempah, dan kelapa parut dalam semangkuk ie bu peudah.

Baca juga: Strategi “Ie Bu Peudah” Mesin Perang Iran Melawan AS–Israel - Bagian I

Masing-masing tampak sederhana, tetapi bersama-sama membentuk kekuatan yang sulit diprediksi.

Drone Iran, dari seri Mohajer, Shahed, hingga Ababil, mungkin tampak kecil dan murah, tetapi ketika diluncurkan dalam gelombang serangan jenuh, mereka mampu membuka celah pertahanan musuh, menjadi umpan bagi sistem anti-rudal canggih, dan menyebarkan gangguan elektronik ringan yang mengacaukan radar dan komunikasi lawan.

Setiap unit mungkin tampak sepele, tetapi keberadaan ratusan drone yang bergerak serentak menimbulkan tekanan konstan, memaksa lawan membagi perhatian dan sumber daya, mengurangi efektivitas pertahanan mereka secara keseluruhan.

Baca juga: Marathon Geopolitik, dan Yatim Internasional : Membaca Iran Lewat Vali Nasr

Rudal jelajah, termasuk Soumar dan Hoveyzeh, menambahkan dimensi lain pada ramuan ini.

Terbang rendah, sulit dideteksi radar, dan mampu mengubah lintasan di udara, rudal-rudal ini membawa hulu ledak yang cukup besar untuk merusak instalasi militer atau pangkalan logistik. 

Kemampuannya untuk diluncurkan dari berbagai platform-daratan, laut, atau bahkan dari drone-menambah ketidakpastian, memaksa pertahanan lawan menebak arah dan waktu serangan.

Baca juga: Perang Iran, BoP, dan Kritik Tajam Anies kepada Prabowo

Dalam kombinasi dengan drone, rudal jelajah seperti rempah yang meledak di mulut, memberi tekanan lebih besar meski tiap unit sendiri terlihat sederhana.

Perangkat perang elektronik dan peluncur yang berpindah cepat bertindak sebagai bumbu tajam dalam ramuan ini.

Gangguan radar, sinyal palsu, dan mobilitas peluncur membuat lawan sulit membaca situasi, memperlambat respons mereka, dan memberi peluang lebih besar bagi drone dan rudal untuk mencapai target.

Baca juga: Weapon of The Weak: Strategi Iran Menjinakkan Kekuatan Super Power

Unsur ini menambahkan dinamika yang membuat pertahanan lawan tidak stabil, memecah fokus mereka, dan memaksa alokasi sumber daya lebih besar dari yang seharusnya.

Jaringan sekutu regional menambah lapisan tekanan lain. Dari Lebanon hingga Yaman, dari Irak hingga Suriah, ancaman datang dari berbagai arah.

Kehadiran sekutu memungkinkan Iran membuka banyak front tanpa menambah senjata berat tambahan, memaksa lawan membagi fokus dan berjaga di banyak titik. 

Baca juga: VIDEO - Kapal Induk USS Abraham Lincoln Mundur Usai Alami Kerusakan, Iran Klaim Serang

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved