Breaking News
Rabu, 27 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Ironi Ramadhan: Takwa di Mimbar, Mark-Up di Anggaran?

Riset Tren Vonis Korupsi 2014–2023 bahkan menunjukkan kerugian negara melampaui Rp291,5 triliun.

Tayang:
Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Guru Besar Ekonomi Islam dan Koordinator Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. 

Ramadhan mengajarkan empati dan keadilan. Maka ironinya menjadi pahit jika di bulan solidaritas, hak publik justru dikorbankan oleh rente.

Puasa yang hanya menahan lapar, tetapi tidak menahan keserakahan, kehilangan ruhnya. Allah mengingatkan: perubahan suatu kaum bergantung pada perubahan diri mereka (QS. Ar-Ra’d: 11). Reformasi hati tanpa reformasi sistem rapuh; reformasi sistem tanpa reformasi hati manipulatif.

Aceh memiliki legitimasi syariah. Jika nilai Ramadhan benar-benar dihidupkan, syariah menjadi sistem integritas, bukan slogan. Jika tidak, Ramadhan akan terus datang dan pergi—sementara pola lama tetap bertahan. Dan ketika agama kuat di mimbar tetapi lemah di anggaran, yang runtuh bukan hanya kepercayaan publik, tetapi makna syariah itu sendiri.

Hari Ketika Semua Ditimbang

Pada akhirnya, korupsi bukan sekadar urusan pengadilan dunia. Al-Qur’an mengingatkan: “Barang siapa mengerjakan kebaikan dan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya” (QS. Az-Zalzalah: 7–8).

Rasulullah SAW menegaskan bahwa manusia akan ditanya tentang hartanya—dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan (HR. Tirmidzi). Tidak ada rupiah yang hilang dari pencatatan-Nya. Tidak ada dana desa yang luput dari perhitungan-Nya. Tidak ada mark-up yang bisa dinegosiasikan di hadapan-Nya.

Jika Ramadhan gagal menumbuhkan kesadaran itu, yang tersisa hanyalah ritual tanpa ruh—ibadah bergerak, tetapi hati tak berubah.

Ketika moral publik terkikis, kepercayaan rakyat pun perlahan runtuh. Kita tidak ingin takwa hanya bergema di mimbar, sementara mark-up berbisik di anggaran?

Ramadhan datang bukan sekadar ibadah tahunan, tetapi cermin integritas kekuasaan. Jika cermin itu masih memantulkan jurang antara takwa di mimbar dan mark-up di anggaran, maka pekerjaan moral kita jelas belum selesai.

Semoga Ramadhan menjadi junnah—benteng dari godaan korupsi—bukan hanya di bulan suci ini, tetapi dalam setiap keputusan sepanjang tahun.

*) PENULIS adalah Guru Besar Ekonomi Islam dan Koordinator Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved