Jurnalisme Warga
Rihlah sang Hajah Menuju Baitullah
Ibadah haji menjadi salah satu rukun Islam yang dilaksanakan dengan sebagai sebuah keharusan bagi yang memiliki kemampuan untuk memenuhinya
Tak sampai di situ, para mutawif laki-laki yang seharusnya mendampingi seluruh jemaah haji (termasuk jemaah perempuan) justru sering terlibat dalam tidak kriminalitas tersebut.
Nederlandsch-Indisch Consulaat te Djeddah akhirnya menetapkan kebijakan adanya mutawif perempuan dan dokter perempuan yang secara khusus menangani jemaah haji perempuan selama melaksanakan ibadah haji. Dalam pelbagai arsip yang tersimpan di konsulat itu, memang jarang sekali ditemukan sebuah catatan yang secara khusus menuliskan tentang aktivitas jemaah haji perempuan di Makkah. Mereka yang tercatat umumnya hanya sebatas data administratif saja, khususnya mereka yang menjadi mutawif, pengajar di Jeddah, dan mereka yang sudah lebih dulu menetap di sana. Selebihnya, jemaah haji perempuan diwakili oleh mahramnya masing-masing atau mutawif yang sedari awal menjadi penanggung jawab mereka selama perjalanan.
Hubungan antara mutawif dan jemaah sering kali didasarkan pada hubungan kekeluargaan. Misalnya, ada sanak keluarga yang sudah lebih duluan tinggal di tanah suci, kemudian mereka menyediakan tempat tinggal khusus dan berupaya mengajak sanak keluarga lainnya dan/atau saudara sekampungnya untuk melaksanakan ibadah haji dengan didampingi oleh mutawif tersebut.
Oleh sebab itu, jemaah haji perempuan cenderung ikut serta sedari awal sebagai istri dan pendamping dari mahramnya (saudara laki-laki, dan sebagainya).
Memoar yang ditulis oleh Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakusuma kemudian diterbitkan dengan judul Mijn Reis naar Mekka tahun 1924, memotret banyak sekali aktivitas dari jemaah haji perempuan selama perjalanan yang ditempuhnya.
Bagi mereka yang tinggal menetap di Makkah, jemaah perempuan itu memiliki pekerjaan utama sebagai penjahit, pedagang, dan pengajar.
Sebuah arsip Konsulat Jeddah mengungkapkan: Laporan Bedevaartverslag tahun 1914, memuat daftar nama dan pekerjaan dari setiap jemaah asal Hindia Belanda yang menetap di sana. Jemaah perempuan yang menetap dan tercatat, di antaranya, Nyi Haji Habibah, Nafisah, dan Marijan.
Meski pemerintah kolonial saat itu menilai pendidikan di Makkah memiliki kualitas yang minim, akan tetapi tetap saja jumlah pelajar dari Hindia Belanda terus mengalami peningkatan.
Mereka sengaja datang untuk belajar kepada ulama Jawi, di sekolah Arab, pada berbagai lembaga pendidikan seperti Madjlis Assyura atau Saulatiyah al-Hindiyah, serta mengikuti pengajian di Masjidil Haram.
Pada sisi ini, para perempuan juga terlibat dalam tradisi keilmuan. Pada 1914, tercatat tiga guru perempuan asal Hindia Belanda, yakni Nyi Haji Arnah, Marijam, dan Asyari yang membuka kelas terbatas di rumah mereka.
Namun, terdapat juga kenyataan pahit bahwa ada segelintir jemaah haji perempuan yang akhirnya harus tersandung kasus perbudakan di tanah suci. Permasalahan perbudakan yang turut menjadi bahaya laten dari jemaah haji perempuan ini turut menjadi perhatian pihak konsulat pada masa itu.
Dalam sebuah arsip konsulat berjudul “Letter from the Netherlands Embassy in Constantinopel”, disebutkan adanya jemaah haji perempuan yang menjadi korban penipuan dan berakhir menjadi budak yang diperdagangkan di pasar budak.
Adapun dalam arsip lain didapati juga seorang jemaah haji perempuan yang dapat meloloskan diri dari perbudakan yang menjeratnya dan melapor ke kantor konsulat. Akhirnya, pihak Nederlandsch-Indisch Consulaat te Djeddah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk memulangkannya ke kampung halaman.
Pelajaran penting yang dapat kita petik dari pelbagai cerita tersebut adalah, seperti apa pun perjalanan yang ditempuh pasti memiliki ceritanya masing-masing.
Rihlah (lawatan) para hajah tersebut akan segera hadir di Jakarta dalam sebuah pameran untuk merawat ingatan dari setiap jejak mereka di Tanah Haram.
Jurnalisme Warga
penulis jurnalisme warga
Penulis JW
Rihlah sang Hajah Menuju Baitullah
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Asyiknya Belajar Alam di Sungai Lhok Buloh |
|
|---|
| Kepedulian Bupati Syech Muharram terhadap Aksara Arab Melayu melalui Program ‘Beut Kitab bak Sikula’ |
|
|---|
| Memetik Hikmah dari Peluncuran Buku MemoryGraph |
|
|---|
| Kenduri di Makam Putroe Sani, Dari Kejayaan Sultan Iskandar Muda ke Sunyi Makam Permaisuri |
|
|---|
| Mengoptimalkan Potensi Gedung Karantina Haji Pulau Rubiah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/MELINDA-RAHMAWATI-2025.jpg)