KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai - Bagian 3, Luka yang tak Terlihat, Duka yang tak Berkesudahan
Perang ini ambisi Benjamin Netanyahu dan Donald Trump, bahkan mengajak negara-negara lain agar berada di belakang mereka.
Dalam konflik modern, angka-angka penderitaan terus bertambah. Perang di Suriah telah menewaskan lebih dari 500.000 orang, dengan lebih dari 6,8 juta pengungsi ke luar negeri dan sekitar 6 juta lainnya mengungsi di dalam negeri.
Di Yaman, konflik yang melibatkan Houthi movement diperkirakan telah menyebabkan lebih dari 377.000 kematian, di mana sebagian besar bukan karena pertempuran langsung, tetapi akibat kelaparan, penyakit, dan runtuhnya sistem kesehatan.
Ini menunjukkan bahwa dampak perang jauh melampaui medan tempur.
Mendorong perdamaian
Setiap angka tersebut sejatinya adalah wajah manusia, anak anak yang kehilangan orang tua, ibu yang kehilangan anak, keluarga yang kehilangan masa depan.
Lebih dari 100 juta orang di dunia saat ini hidup dalam kondisi pengungsian akibat konflik dan kekerasan. Ini adalah krisis kemanusiaan global yang tidak bisa lagi diabaikan.
Perang juga menciptakan duka kolektif bagi peradaban manusia. Infrastruktur hancur, ekonomi runtuh, pendidikan terhenti, dan generasi muda kehilangan kesempatan untuk berkembang.
Dalam kondisi ini, peradaban tidak hanya mundur, tetapi juga kehilangan arah. Tidak ada kemajuan yang dapat dibangun di atas puing-puing kehancuran dan penderitaan.
Dalam konteks ini, perang modern yang melibatkan jaringan aktor seperti Hezbollah semakin memperumit penyelesaian konflik.
Perang menjadi panjang, tidak pasti, dan penuh dengan kepentingan tersembunyi. Tidak ada kemenangan sejati, yang ada hanyalah akumulasi korban yang terus bertambah.
Melihat besarnya angka korban dan kedalaman duka yang ditimbulkan, maka tidak ada alasan moral maupun kemanusiaan untuk melanjutkan perang.
Dunia tidak membutuhkan lebih banyak senjata, tetapi membutuhkan lebih banyak dialog.
Baca juga: Kuba Terancam? Trump Lempar Sinyal Keras soal Target Berikutnya
Dunia tidak membutuhkan lebih banyak konflik, tetapi membutuhkan lebih banyak keadilan, dan perdamaian.
Di sinilah peran Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi sangat penting untuk segera mendorong penghentian perang baik di Iran maupun konflik di tempat lain dan membuka kembali ruang negosiasi, perundingan damai.
Gencatan senjata, diplomasi aktif, dan komitmen terhadap hukum internasional harus menjadi prioritas utama.
Pada akhirnya, setiap detik perang yang berlangsung berarti bertambahnya korban, bertambahnya luka, dan bertambahnya dukka.
| Ilusi Kesejahteraan dalam Angka Desil |
|
|---|
| Pak Harun, China, dan ‘Penguasa Baru’ Dunia |
|
|---|
| Alokasi TKD Bencana Tak Adil, Bukti Nyata Bobroknya Keadilan Kebijakan |
|
|---|
| Menjaga Ruh Keistimewaan Aceh melalui MPA, MAA, dan Badan Dayah |
|
|---|
| Arsitek Transformasi UIN Ar-Raniry: Kepemimpinan Visioner dan Harmonis Prof Mujiburrahman |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-_-Analis-Kebijakan-_-20260329.jpg)