KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai - Bagian 3, Luka yang tak Terlihat, Duka yang tak Berkesudahan
Perang ini ambisi Benjamin Netanyahu dan Donald Trump, bahkan mengajak negara-negara lain agar berada di belakang mereka.
Statistik korban bukan sekadar angka, melainkan jeritan kemanusiaan yang meminta untuk didengar.
Karena itu, menghentikan perang dan kembali ke meja perundingan bukan hanya pilihan politik, tetapi sebuah keharusan moral.
Perdamaian adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran yang lebih besar.
Tanpa itu, luka akan terus menganga, dan duka akan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Semoga dapat bersiap untuk perdamaian abadi.
*) PENULIS adalah anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI)
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Rakyat tidak Pakai Dolar, Tapi Tetap Merasakan Getarnya |
|
|---|
| Aceh di Persimpangan: Ketika Mimpi Besar Tersandera Lemahnya Tata Kelola dan Krisis Prioritas Publik |
|
|---|
| Kita Punya Emas Energi, Tapi Mengapa Aceh Selalu Gelap? |
|
|---|
| Merdeka di Bendera, Gelap di Rumah Rakyat: PLN dan Janji yang Padam |
|
|---|
| Retaker UKMPPD dan Sistem Pendidikan Dokter |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-_-Analis-Kebijakan-_-20260329.jpg)