KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai - Bagian 3, Luka yang tak Terlihat, Duka yang tak Berkesudahan
Perang ini ambisi Benjamin Netanyahu dan Donald Trump, bahkan mengajak negara-negara lain agar berada di belakang mereka.
Apa yang dapat mendasari negosiasi, ketika para pihak harus menyadari bahwa mereka tidak dapat mencapai tujuan mereka dengan kekerasa.
Bahwa kekerasan memerlukan biaya yang sanagt besar untuk dilanjutkan, kompromi, pengakuan, dialog dan memerlukan sebuah tranformasi yang sangat kompleks, memerlukan kampenye internasional yang luas untuk menhentikan perang dan gencatan senjata.
Karena perang bukan sebuah ilusi, perang ciptaan manusia yang rasional namun tidak berperadaban, untuk hasrat dan nafsu kekuasaan.
Perang bukan sekadar dentuman senjata, ledakan bom, atau pergeseran peta kekuasaan.
Di balik itu semua, perang adalah kisah panjang tentang luka, sukka dan duka yang tidak selalu tampak di permukaan.
Konflik yang melibatkan aktor provokator serangan awal yang dilakukan oleh Zionis Yahudi Benjamin Netanyahu dan dukungan dari Donald Trump, serta kemudian terjadi eskalasi antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat, memperlihatkan bahwa setiap keputusan politik yang berujung pada perang akan selalu berimplikasi pada penderitaan manusia, ekologi alam yang luas dan mendalam.
Luka akibat perang tidak hanya berupa kerusakan fisik, tetapi juga luka batin, gila (pungoe massal) yang membekas sepanjang hayat.
Namun, untuk memahami kedalaman luka itu, kita tidak bisa mengabaikan angka-angka yang berbicara.
Dalam Perang Dunia II, sekitar 70 –85 juta manusia kehilangan nyawa. Artinya, setiap hari selama perang tersebut berlangsung, puluhan ribu manusia gugur, sia-sia.
Sementara dalam Perang Dunia I, lebih dari 16 juta orang tewas dan sekitar 20 juta lainnya terluka.
Angka ini menunjukkan bahwa perang bukan hanya membunuh, tetapi juga menyisakan generasi yang hidup dalam penderitaan fisik dan mental.
Duka perang semakin nyata ketika melihat tragedi di Hiroshima dan Nagasaki.
Lebih dari 200.000 orang meninggal akibat bom atom, dan ribuan lainnya meninggal dalam tahun-tahun berikutnya akibat radiasi.
Baca juga: Iran Ultimatum Negara Sekitar, Risiko Perang Besar Mengintai?
Bahkan hingga kini, dampak kesehatan masih dirasakan oleh keturunan para korban.
Ini adalah bukti bahwa satu peristiwa perang dapat menciptakan duka lintas generasi.
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-_-Analis-Kebijakan-_-20260329.jpg)