Breaking News
Kamis, 30 April 2026

KUPI BEUNGOH

Instruksi Presiden Prabowo: Tak Ada Lagi Anak Sekolah Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai

Janji "tahun depan berdiri" adalah komitmen yang akan terus ditagih oleh rakyat sebagai bukti nyata kehadiran negara di garda terdepan pendidikan

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Isa Alima, Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Aceh 

Oleh: Isa Alima*)
 
Sudah terlalu lama wajah pembangunan kita hanya bersolek di etalase kota besar. 

Narasi modernisasi transportasi darat, laut, dan udara sering kali terjebak pada kepentingan ekspansi bisnis dan mobilitas kaum pengusaha. 

Sementara itu, di jantung-jantung desa yang tersembunyi di balik rimbunnya hutan Nusantara, ada jeritan yang nyaris tak terdengar: jeritan anak-anak sekolah yang bertaruh nyawa menyeberangi derasnya arus sungai demi secercah ilmu.
 
Kritik tajam ini bukan tanpa alasan. Ketimpangan akses transportasi antara wilayah urban dan rural telah menciptakan jurang keadilan yang nyata. 

Namun, secercah harapan kini muncul dari Istana. Pembentukan Satuan Tugas Khusus (Satgasus) Darurat Jembatan oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi sinyal bahwa negara mulai memalingkan wajahnya ke arah "titik buta" pembangunan tersebut.

Jawaban Atas "Transportasi Rakyat Jelata"

Bagi rakyat di pelosok, kata "transportasi" tidak butuh definisi yang muluk seperti kereta cepat atau bandara internasional. 

Bagi mereka, transportasi yang paling mewah adalah sebuah jembatan kokoh. 

Jembatan yang menghubungkan rumah dengan sekolah, jembatan yang menyambungkan petani dengan pasar, dan jembatan yang memastikan tidak ada lagi nyawa yang hanyut terbawa arus saat musim penghujan tiba.

 Instruksi Presiden Prabowo untuk membangun 300.000 jembatan di pelosok-pelosok desa adalah sebuah terobosan taktis dari kacamata kebijakan publik. 

Baca juga: Siswa Dua Sekolah di Aceh Barat Masih Belajar di Tenda Pascabencana Banjir

Ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan sebuah "infrastruktur kemanusiaan". 

Proyek ini merupakan jawaban nyata atas apa yang saya sebut sebagai "transportasi rakyat jelata" sebuah hak dasar yang selama ini sering kali terabaikan oleh silau pembangunan jalan tol.
 
Pesan Presiden: "Anak-anakku Sabar, Tahun Depan Berdiri"
 
Kalimat emosional Presiden Prabowo yang meminta anak-anak sekolah untuk bersabar karena jembatan tersebut ditargetkan sudah berdiri tahun depan, adalah sebuah kontrak politik yang sakral. 

Satgasus yang telah dibentuk kini memikul beban sejarah. Desain yang sudah dirancang dengan matang jangan sampai hanya menjadi tumpukan dokumen di atas meja birokrasi yang berdebu.
 
Kita tidak boleh lagi melihat video-video menyayat hati anak-anak di Desa Sirnasari, para pelajar di Nias, hingga pelosok Aceh yang harus pulang sekolah dalam keadaan basah kuyup karena ketiadaan akses.

 Janji "tahun depan berdiri" adalah komitmen yang akan terus ditagih oleh rakyat sebagai bukti nyata kehadiran negara di garda terdepan pendidikan.
 
Melawan "Mafia" Pembangunan Di Pelosok
 
Sebagai pemerhati kebijakan, saya menekankan bahwa urgensi pembangunan 300.000 jembatan ini harus dibarengi dengan pengawasan yang super ketat. 

Pembangunan di daerah terpencil sering kali menjadi ladang subur bagi para koruptor karena jauh dari pantauan mata publik dan media nasional.

Baca juga: Terbitkan Edaran Hari Pertama Sekolah, Disdik Nagan Raya Ajak Guru Lebih Cepat ke Sekolah

Presiden sudah mengingatkan dengan tegas: para koruptor jangan coba-coba menyentuh anggaran untuk "anak negeri" ini. 

Satgasus harus memastikan bahwa setiap rupiah yang dialokasikan benar-benar menjelma menjadi tiang pancang yang kokoh, bukan infrastruktur "seadanya" yang ambruk saat diterjang banjir pertama.
 
Penutup: Keadilan Di Ujung Jembatan 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved