KUPI BEUNGOH
Nilai TKA Aceh: Antara Harapan, Kenyataan, dan Alarm bagi Pemangku Pendidikan
Ironisnya, kondisi tersebut terjadi di tengah besarnya anggaran pendidikan yang selama ini dialokasikan pemerintah daerah.
Berbagai program peningkatan mutu guru juga kerap digelar, mulai dari pelatihan, workshop, hingga seminar pendidikan.
Baca juga: VIDEO - Ratusan Emak-Emak Demo Pendopo Bupati Aceh Timur, Tuntut Kejelasan Data Korban Banjir
Namun jika indikator akademik nasional masih menunjukkan capaian yang rendah, maka pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah: di mana letak persoalan sebenarnya?
Sudah saatnya kita berhenti merasa puas dengan berbagai program yang bersifat seremonial.
Pelatihan dan Infrasturkut Bukan Indikator
Pendidikan tidak cukup hanya diukur dari banyaknya kegiatan pelatihan atau jumlah pembangunan fisik sekolah.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kualitas proses pembelajaran yang berlangsung setiap hari di ruang kelas.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa proses pembelajaran di banyak sekolah masih berjalan secara konvensional.
Metode mengajar yang terlalu berorientasi pada hafalan membuat siswa kurang terlatih untuk berpikir kritis, menganalisis masalah, dan memecahkan persoalan secara logis.
Baca juga: Bahlil Segera Bahas Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi Sepulang Temani Prabowo dari Luar Negeri
Padahal kemampuan tersebut merupakan kompetensi utama yang diukur dalam berbagai evaluasi akademik modern, termasuk TKA.
Di sisi lain, budaya literasi dan numerasi juga belum tumbuh secara kuat.
Minat membaca di kalangan siswa masih relatif rendah, sementara kemampuan memahami teks secara mendalam juga belum berkembang secara optimal.
Jika fondasi literasi ini lemah, maka tidak mengherankan jika capaian akademik siswa juga tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Kondisi ini seharusnya menjadi alarm serius bagi semua pemangku kepentingan pendidikan di Aceh.
Tanggung Jawab Bersama
Pemerintah daerah, dinas pendidikan, sekolah, hingga perguruan tinggi perlu melakukan evaluasi secara jujur dan menyeluruh terhadap sistem pendidikan yang selama ini berjalan.
Kita tidak boleh menutup mata terhadap fakta bahwa persoalan pendidikan sering kali terjebak pada pendekatan administratif dan program rutin, sementara kualitas pembelajaran yang sesungguhnya belum menjadi perhatian utama.
Tanpa pembenahan yang menyentuh substansi proses belajar, berbagai program peningkatan mutu pendidikan hanya akan menjadi agenda tahunan tanpa dampak yang berarti.
Baca juga: VIDEO - Detik-detik Fasilitas Minyak Inggris di Irak Dilalap Api, Serangan Drone Iran Hantam Erbil
kupi beungoh
opini serambi
opini serambinews
opini pembaca
TKA
Pendidikan Aceh
Dinas Pendidikan Aceh
Meaningful
Serambi Indonesia
Opini
| Refleksi Lima Tahun Blok B: Saatnya Aceh Menuntut Trasparansi dan Keadilan Distributif |
|
|---|
| Pelajaran Tangkulo dari Kebun Pak Yusuf |
|
|---|
| Merawat Identitas Serambi Mekkah di Tengah Arus Modernisasi |
|
|---|
| Penundaan Persetujuan PoD I Gubernur Aceh: Antara Romantisme Sejarah dan Realisme Investasi Global |
|
|---|
| Asap Rokok di Momen Lebaran: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Ginjal Keluarga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Jalaluddin-S-Pd-MPd-Wakil-Rektor-USM_Pengurus-Huda-Banda-Aceh.jpg)