Jumat, 17 April 2026

KUPI BEUNGOH

Nilai TKA Aceh: Antara Harapan, Kenyataan, dan Alarm bagi Pemangku Pendidikan

Ironisnya, kondisi tersebut terjadi di tengah besarnya anggaran pendidikan yang selama ini dialokasikan pemerintah daerah. 

Editor: Subur Dani
Serambinews.com/HO
Dr. Jalaluddin, Wakil Rektor Universitas Serambi Mekkah, alumnus Program Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Medan 

Oleh: Dr. Jalaluddin, M.Pd*)

Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) nasional yang diadakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kembali menghadirkan kabar yang kurang menggembirakan bagi dunia pendidikan Aceh. 

Berdasarkan data terbaru, Aceh berada di peringkat 31 dari 38 provinsi di Indonesia dalam capaian nilai TKA

Posisi ini tentu bukan sekadar angka statistik, tetapi menjadi cermin nyata kondisi kualitas pendidikan di daerah yang selama ini mengklaim pendidikan sebagai prioritas pembangunan.

Baca juga: Nilai TKA Bahasa Inggris Siswa Aceh Rendah, Disdik Lakukan Evaluasi dan Cari Solusi

Tes ini diperuntukkan bagi jenjang pendidikan akhir di setiap tingkatan sekolah, yaitu: SD/MI/Sederajat: Kelas 6; SMP/MTs/Sederajat: Kelas 9; SMA/MA/SMK/MAK/Sederajat: Kelas 12.

Tujuan pelaksanaan TKA antara lain untuk mengukur capaian akademik: Menilai penguasaan konsep, kemampuan berpikir kritis (HOTS), serta penerapan pengetahuan murid sesuai kurikulum.

Kemudian validator SNBP: Khusus untuk kelas 12, nilai TKA akan berperan sebagai validator nilai rapor dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

Baca juga: Menyikapi Peringkat 31 TKA Aceh pada Jenjang SMA/MA Tahun 2025

Tujuan lain, penyetaraan hasil belajar: Memastikan standar akademik yang terstandar di seluruh Indonesia.

Terakhir, sebagai refleksi mutu pendidikan: Data hasil TKA digunakan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 

TKA direncanakan mulai diberlakukan sebagai pengganti Ujian Nasional (UN) pada tahun 2025 dan 2026.

Tantangan Serius

Jika ditelusuri lebih jauh, capaian nilai TKA anak-anak Aceh pada beberapa mata pelajaran utama menunjukkan fakta yang memprihatinkan. 

Rata-rata nilai Matematika berada di kisaran 34, Bahasa Indonesia sekitar 50, dan Bahasa Inggris bahkan masih di bawah 25. 

Baca juga: Wagub Mediasi Perselisihan Bupati–Wabup Pijay, Ribut Soal Kewenangan

Angka-angka ini menggambarkan bahwa kemampuan akademik siswa Aceh, terutama dalam bidang literasi dan numerasi, masih menghadapi tantangan serius.

Ironisnya, kondisi tersebut terjadi di tengah besarnya anggaran pendidikan yang selama ini dialokasikan pemerintah daerah. 

Aceh termasuk daerah yang memiliki komitmen anggaran pendidikan cukup besar. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved