Selasa, 5 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai - Bagian 5, Kampanye Penghentian Perang Menuju Perdamaian

Namun demikian penghentian perang bukanlah tujuan akhir, melainkan langkah awal menuju perdamaian yang sejati. 

Tayang:
Editor: Subur Dani
for serambinews
Yunidar Z.A. M. Si. C.L.D.A 

Sebaliknya, perdamaian positif adalah kondisi di mana keadilan sosial, kesetaraan, dan kesejahteraan tercapai, sehingga potensi konflik dapat diminimalisasi secara berkelanjutan.

Dalam perspektif ini, perang tidak hanya disebabkan oleh kekerasan langsung (direct violence), tetapi juga oleh kekerasan struktural (structural violence) seperti ketimpangan ekonomi, ketidakadilan politik.

Selain itu juga marginalisasi sosial, dan kekerasan kultural (cultural violence) yang melegitimasi tindakan kekerasan melalui ideologi atau narasi tertentu.

Tiga Tahapan

Berdasarkan pemikiran teori tersebut, kampanye penghentian perang harus diarahkan pada tiga tahapan utama.

Pertama, peacekeeping, yaitu upaya menghentikan kekerasan langsung melalui gencatan senjata dan intervensi internasional, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK - PBB).

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 2, Catatan Perjalanan ke Pulau Sabang

Kedua, peacemaking, yaitu proses negosiasi dan diplomasi untuk mencapai kesepakatan damai antar pihak yang berkonflik.

Ketiga, peacebuilding, yaitu pembangunan kembali struktur sosial, politik, dan ekonomi yang adil guna mencegah terjadinya konflik berulang.

Dalam konteks global, upaya ini perlu didukung penuh oleh lembaga internasional seperti DK - PBB yang memiliki mandat menjaga perdamaian dunia.

Selain itu, nilai-nilai demokrasi, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta supremasi hukum internasional harus menjadi fondasi utama dalam menciptakan tatanan global yang damai dan berkelanjutan.

Dalam dinamika diplomasi Indonesia, semangat perdamaian juga tercermin dalam berbagai pertemuan internasional.

Kunjungan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, yang bertemu langsung dengan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, di Solo pada 2 April 2026, menjadi salah satu contoh penting dalam upaya dukungan kampanye perdamaian. 

Dalam pertemuan tersebut, disampaikan kondisi konflik yang sedang berlangsung serta harapan akan dukungan internasional untuk menciptakan perdamaian.

Pernyataan yang menekankan pentingnya penghentian perang menunjukkan bahwa stabilitas global tidak dapat dicapai tanpa adanya komitmen bersama untuk mengakhiri konflik kekerasan.

Dubes Iran untuk Indonesia menyatakan langsung bahwa “Saya menyampaikan laporan kondisi terakhir negara kami yang diserang oleh Zionis Israel dan Amerika Serikat. Beliau menyampaikan dukungan terhadap bangsa Iran,” ujar Boroujerdi. (https://www.msn.com).

Semua Menginginkan Perdamaian

Di berbagai belahan dunia, masyarakat sipil juga memainkan peran penting dalam mendorong terciptanya perdamaian. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved