Opini
WFH Tanpa Etika Kerja Islami: Reformasi Ilusi, Efisiensi Fiksi
Apakah WFH benar-benar menghemat, atau sekadar memindahkan beban—dari jalan raya ke ruang tamu, dari negara ke individu?
Di titik ini, ketidaksinkronan menjadi terang—WFH dipaksakan berjalan, sementara sistem belum siap menggantikannya.
Baca juga: 5 Fakta WFH Pegawai Swasta 2026: Cuma 1 Hari, Gaji Tetap Aman hingga Banyak Sektor Dikecualikan
Persoalannya tidak berhenti pada teknologi. Sistem bisa dibangun, aplikasi bisa diperbanyak, tetapi tanpa etika, semuanya kehilangan makna.
Dalam Etika Kerja Islami (EKI), kerja bukan sekadar tugas, melainkan ibadah yang menuntut kerja keras, itqan, akuntabilitas (amanah), transparansi, dan keadilan.
Nilai-nilai ini bukan sekadar ideal, tetapi terbukti menjaga komitmen dan kualitas kerja (Ali & Al-Owaihan, 2008).
Kerja tidak pernah netral. Ia bernilai pahala ketika dijalankan dengan amanah, dan bernilai dosa ketika disia-siakan.
Bekerja bukan karena atasan, tetapi karena Allah. Dia Maha Melihat (Al-Bashir)—mengetahui yang tampak dan tersembunyi, niat sebelum tindakan, dan kualitas di balik hasil. Firman Allah SWT: “...bekerjalah, Allah akan melihat pekerjaanmu…” (QS. At-Taubah: 105).
Bahkan dalam sunyi rumah, ketika pengawasan manusia melemah, pencatatan amal tidak pernah berhenti: “...ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi, mencatat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infitar: 10–12) walaupun amal—sekecil apa pun—tidak akan hilang: “....kebaikan seberat dzarrah, Allah melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7).
Di situlah ihsan bekerja: “Engkau beribadah seakan-akan engkau melihat Allah; jika tidak, maka Dia melihatmu.” (HR. Muslim). Ketika sistem tidak mengawasi, kesadaranlah yang menjaga.
Karena itu, WFH bukan soal fleksibilitas, tetapi kapasitas etika. Tanpa fondasi itu, digitalisasi hanya mempercepat kehampaan, dan WFH berubah menjadi efisiensi semu—bergerak tanpa kemajuan.
Dalam kerangka EKI, kegagalan ini tampak jelas: ketika kerja keras melemah, kerja menjadi pasif; tanpa itqan, kualitas menurun; tanpa amanah, waktu disalahgunakan; tanpa transparansi dan akuntabilitas, kinerja kehilangan arah.
Dalam kerangka ini, kerja menjadi cermin moral: amanah bernilai pahala, pengabaian bernilai dosa.
Tantangan: Digital Setengah Jadi, Etika Setengah Hati
Tantangan WFH bukan sekadar teknis, tetapi kegagalan simultan antara sistem dan perilaku—lahir dari sistem yang belum siap dan kultur yang belum berubah.
Pertama, kesenjangan e-government. Infrastruktur, kapasitas SDM, dan koordinasi masih lemah; digital hadir, tetapi belum matang dan terintegrasi (World Bank, 2022).
Kedua, WFH melampaui kesiapan sistem. Tahap transaction belum tercapai; layanan masih bergantung pada kehadiran fisik.
Ketika ASN bekerja dari rumah, sistem tetap “menuntut kantor”. Hasilnya: pelayanan melambat, respons melemah, kualitas tidak konsisten—bukan efisiensi, melainkan pergeseran masalah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Shabri-Abd-Majid-Mengulas-Tentang-Nasib-Gajah-Aceh.jpg)