Opini
WFH Tanpa Etika Kerja Islami: Reformasi Ilusi, Efisiensi Fiksi
Apakah WFH benar-benar menghemat, atau sekadar memindahkan beban—dari jalan raya ke ruang tamu, dari negara ke individu?
Di atas semua itu berdiri satu fondasi yang tak tergantikan: ihsan—bekerja bukan karena diawasi, tetapi karena sadar selalu diawasi.
Sistem mengontrol dari luar; ihsan menghidupkan dari dalam. Tanpanya, pengawasan akan terus diperketat; dengannya, kerja tetap bernilai meski tanpa saksi.
Di sinilah garis tegasnya: tanpa etika kerja Islami—tanpa amanah, itqan, dan ihsan—WFH ASN hanyalah ilusi reformasi dan efisiensi semu.
Ia tampak modern, tetapi kosong; bergerak, tetapi tidak maju. Pada akhirnya, WFH bukan soal lokasi, tetapi kualitas kerja.
Bukan sekadar sistem, tetapi kesadaran yang menggerakkannya. Kerja adalah ibadah—yang menuntut akal, integritas, dan tanggung jawab penuh.
Jika etika kerja Islami dihidupkan, WFH menjadi jalan reformasi. Jika tidak, ia tetap menjadi bayangan efisiensi—tanpa substansi.(*)
*) PENULIS adalah Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Shabri-Abd-Majid-Mengulas-Tentang-Nasib-Gajah-Aceh.jpg)