Minggu, 19 April 2026

Kupi Beungoh

Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi

Perjalanan ke Manado penuh cerita: dari isu global Iran hingga hangatnya toleransi di kota tepi laut. Kisah nyata yang membuka sudut pandang baru.

Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
Yunidar ZA, Anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI). 

Oleh : Yunidar Z.A 

SETELAH tertundanya perdamaian dalam dialog dalam pertemuan strategis di Islamabad, Pakistan.

Masyarakat Internasional tetap berharap perundingan dilanjutkan, dan kembali untuk menurunkan tensi kekerasan. 

Namun gencatan senjata sebagai jeda kemanusiaan masih tetap berlanjut dan aktivitas di Iran saat ini 90 persen berjalan Kembali.

Kota Teheran mulai macet, untuk sekolah juga perkuliahan di Universitas masih dilakukan secara daring online, ada beberapa kampus dikabarkan hingga akhir semester online termasuk kampus yang telah terjadi serangan, demikian laporan diaspora Aceh, Laini Lukman, yang sedang menempuh melanjutkan studi di Ahlulbayt University Jurusan Hukum Pidana dan Kriminologi dari Iran, melalui pesan singkat WhatsApp, pekan lalu pada waktu saya di Kota Manado..  

Waktu menunjukkan pukul 06.23 WIB ketika saya memesan layanan transportasi daring menuju Stasiun Manggarai.

Lalu lintas Jakarta yang biasanya padat tampak lebih bersahabat, sehingga hanya dalam waktu sekitar 17 menit saya telah tiba di stasiun keberangkatan kereta bandara. Senin 13 April 2026.

Di Stasiun Manggarai Jakarta Selatan, di sini saya melakukan proses pembelian tiket yang berlangsung cepat dan efisien. Mesin tiket mandiri memudahkan penumpang memilih tujuan, sementara sistem pembayaran yang terintegrasi, mulai dari QRIS hingga kartu ATM, menjadi cerminan kemajuan layanan transportasi publik di Jakarta.

Dengan tarif Rp 85.000, sekali jalan dari Manggarai ke Airport Soeta di Tangerang Banten. Saya mendapatkan akses ke salah satu moda transportasi paling tepat waktu di Jakarta, Kereta Bandara Soekarno-Hatta.

Baca juga: Perang dan Damai

Kereta berangkat tepat pukul 07.00 WIB. Ketepatan waktu ini menjadi keunggulan utama yang sulit ditandingi moda transportasi lain di tengah dinamika ibu kota.

Dalam perjalanan sekitar 47 menit, kereta melaju stabil, berhenti di beberapa titik yang telah ditentukan sebelum akhirnya tiba di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 07.49 WIB.

Bagi pelaku perjalanan dengan jadwal ketat, kereta bandara adalah pilihan rasional efisien, bebas hambatan, dan relatif terjangkau. Saya sendiri selalu memilih tiba lebih awal di bandara.

Waktu tunggu bukanlah waktu yang terbuang, melainkan ruang produktif untuk membaca, menyusun jadwal dan catatan pekerjaan, serta mengonfirmasi agenda pertemuan yang akan dijalankan.

Penerbangan menuju Manado dijadwalkan pukul 09.30 WIB. Sambil menunggu, saya menata kembali rencana perjalanan, memastikan setiap agenda tersusun rapi.

Dalam setiap perjalanan, kesiapan bukan hanya soal waktu, tetapi juga kesiapan mental untuk menyerap pengalaman baru dalam setiap perjalanan, menikmati makanan lokal, dan kehidupan Masyarakat, juga mendalami terkait perdamaian, politik, hukum, dan keamanan.

Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan letak geografis, tetapi juga awal dari perjumpaan dengan sebuah kota yang dikenal luas sebagai simbol toleransi di Indonesia. Manado bukan hanya tujuan, melainkan ruang belajar tentang keberagaman yang hidup dalam keseharian masyarakatnya.

Saya juga pernah hadir sebagai peserta dalam konferensi internasional Pekan Kerukunan Internasional dan Konferensi VI Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) se-Indonesia yang juga dihadiri oleh beberapa Negara Sahabat diselenggarakan di Manado, Sulawesi Utara, pada November 2021.

Baca juga: Perang dan Damai : Bagian 1

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 2, Catatan Perjalanan ke Pulau Sabang

Yunidar Z.A (Analis Kebijkan – Instruktur Nasional Moderasi Beragama)
Yunidar Z.A (Analis Kebijkan – Instruktur Nasional Moderasi Beragama) (Dok SERAMBINEWS.COM/HO)

Manado Harmoni di Tepi Laut

Pesawat mendarat setelah berputar-putar selama 30 menit, kesempatan ini saya nikmati untuk melihat dengan jelas kota Manado dan sekitarnya, diuntungkan juga saya duduk di kursi 39 K, dekat jendela.

Awalnya saya sampai ke teman di kursi sebelah bahwa pesawat ini sepertinya telah berputar dua kali kemudian, pilot mengumumkan permohonan maaf karena tidak dapat mendarat sesuai jadwal karena padatnya penerbangan di Bandara Sam Ratulangi, Kota Manado, sekitar pukul 14.00 WITA lewat, akhirnya pesawat mendarat juga, lega rasanya. Perbedaan waktu dan suasana langsung terasa. 

Kota ini menyambut dengan udara yang lebih segar dan ritme kehidupan yang tampak lebih tenang. Dari bandara, saya melanjutkan perjalanan menuju hotel dan menginap di Swiss-Belhotel Manado, sebuah titik strategis untuk memulai aktivitas.

Agenda kerja dimulai dengan kunjungan ke beberapa kolega dan teman menikmati kuliner khas ikan segar Manado terutama ikan cakalang dan tuna, daging dan rahangnya  menjadi menu spesial, Interaksi yang terbangun dalam kunjungan ini keakraban dan cerita perdagangan masa lalu kota Manado dari Tiongkok Cina dan Arab, kemudian pada masa Kolonial kedatangan bangsa Eropa memperlihatkan dinamika masyarakat dan tumbuhnya rasa toleransi yang terus dipelihara. Manado menawarkan sesuatu yang lebih dalam, pengalaman sosial tentang toleransi.

Sore harinya, saya dijemput oleh sahabat lama Bang Mundhar, mobil putih dengan logo Trans Continent (TC) dulunya dikenalkan oleh Bapak Ismail Rasyid CEO, PT Trans Continent.

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 3, Luka yang tak Terlihat, Duka yang tak Berkesudahan

Perusahaan penyedia jasa logistik, freight forwarding, dan multimodal transport terkemuka yang didirikan pada tahun 2003 oleh Ismail Rasyid. Berfokus pada pengiriman, pengangkutan, penyimpanan barang (warehousing), dan customs clearance, perusahaan ini melayani berbagai industri.

Pada saat saya hadir pada Konferensi Kerukunan Umat Beragama di Kota Manado, waktu itu bahkan saya diajak ke Bitung Kawasan Berikat Gudang (TC). Mundhar, lulusan Politeknik Lhokseumawe, Aceh, terkenal “Kota Petrodolar”. Ia kini sebagai Koordinator PT TC Wilayah Timur, yang baru saja kembali dari Kantor TC Gorontalo.

Pertemuan berlangsung hangat di kawasan boulevard tepi Pantai sunbae yang dikenal sebagai pusat kuliner dan interaksi sosial. Di tempat ini, keberagaman tampak nyata, pengunjung dari berbagai daerah bahkan mancanegara hadir dalam satu tempat bibir Pantai yang sama.

Kami menikmati hidangan khas Manado, terutama olahan ikan tuna yang terkenal segar dan kaya rasa. Di sela-sela makan, saya berbincang dengan seorang pelayan yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Korea.

Ia bercerita bahwa kemampuannya diperoleh dari menonton drama Korea. Sebuah gambaran sederhana tentang bagaimana globalisasi budaya berinteraksi dengan kehidupan lokal.

Perjalanan berlanjut ke sebuah kedai kopi unik yang memanfaatkan mobil klasik (vw kodok) sebagai ruang usaha. Di sana, kami menikmati kopi tanpa gula, membiarkan aroma dan rasa asli kopi berbicara.”Tak ada kopi tak ada cerita”. Ungkapan maestro seniman Indonesia asal dataran tinggi gayo aceh, Fikar W Eda. 

Angin laut yang berhembus lembut, suara ombak yang tenang, serta keramaian pengunjung, suasana muda-mudi yang penuh keceriaan, warna warni cara berpakaian menciptakan atmosfer yang sulit dilupakan oleh pandangan mata para pria dan Wanita muda.

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 4, Pertemuan Islamabad Jalan Menuju Perdamaian

Malam semakin larut, namun percakapan justru semakin hidup. Kami berdiskusi tentang pekerjaan, pengalaman, hingga dinamika sosial di berbagai daerah.

Saya juga bertemu dengan perantau asal Aceh di boulevard kopi aceh “Waroeng Aceh Duta Serambi, Kopi Aceh dan Mie Aceh” yang berbagi cerita tentang kehidupan di Manado. Ia mengungkapkan bahwa di tanah rantau, peluang ekonomi lebih terbuka, meskipun kerinduan terhadap kampung halaman tetap ada.

Di titik ini, saya memahami bahwa toleransi bukan sekadar slogan. Ia hadir dalam interaksi sehari-hari, dalam percakapan, dalam kerja sama, dan dalam saling menghargai perbedaan.

Manado menunjukkan bahwa keberagaman dan keberagaman tidak harus melahirkan konflik, tetapi justru dapat menjadi sumber kekuatan sosial.

Perjalanan ini bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang makna yang ditemukan. Di kota Manado ini, saya melihat bagaimana harmoni dapat tumbuh dari kesederhanaan, dan bagaimana perbedaan dapat dirawat menjadi kebersamaan, harmoni sosial dan harmoni dalam toleransi beragama. 

Manado, dengan segala dinamika dan kehangatannya, memberi pelajaran bahwa perdamaian sejatinya dimulai dari cara manusia saling memandang dan memperlakukan satu sama lain.

Masyarakat Internasional menanti keikhlasan pemimpin Amerika Serikat dan Israel menghentikan agresi militer ke Iran juga menghormati nilai-nilai kemanusiaan dengan melanjutkan peradaban manusia yang harmoni. BERSAMBUNG..

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 5, Kampanye Penghentian Perang Menuju Perdamaian

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 6, No King: Protes Rakyat AS, Kembali ke Demokrasi Menuju Perdamaian

 

*) PENULIS adalah Analis Kebijakan – Alumnus Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved