Rabu, 13 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Manajer Koperasi Merah Putih: Mampukah Menjaga Amanah Syariah?

Banyak kebijakan lahir dengan niat baik, pidato yang meyakinkan, serta harapan publik yang tinggi. 

Tayang:
Editor: Subur Dani
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Muhammad Nasir, Dosen Tetap pada Magister Keuangan Islam Terapan Politeknik Negeri Lhokseumawe dan Nazhir di Lembaga Wakaf Gen Cahaya Peradaban Lhokseumawe. 

Oleh: Muhammad Nasir*)

Sejarah sering memperlihatkan ironi yang sama. Program besar dimulai dengan tepuk tangan, tetapi tidak semuanya berakhir dengan kepercayaan.

Bangsa ini tidak pernah kekurangan gagasan besar. Yang sering hilang justru kemampuan menjaga amanah ketika kekuasaan, anggaran, dan kepentingan mulai bertemu dalam satu ruang yang sama. 

Banyak kebijakan lahir dengan niat baik, pidato yang meyakinkan, serta harapan publik yang tinggi. 

Namun tidak sedikit yang perlahan kehilangan arah ketika berhadapan dengan tata kelola yang rapuh dan integritas pengelola yang melemah.

Di titik itulah sebuah program mulai kehilangan ruhnya.

Koperasi sejatinya lahir bukan sekadar sebagai badan usaha. Ia dibangun sebagai jalan moral untuk menjaga keadilan ekonomi rakyat kecil. 

Mohammad Hatta bahkan menempatkan koperasi sebagai wujud nyata gotong royong ekonomi bangsa, tempat keuntungan tidak hanya diukur dengan angka, tetapi juga keberpihakan kepada rakyat.

Baca juga: Pemuda Meunasah Masjid Tolak Pembangunan Koperasi Merah Putih di Lapangan Bola

Karena itu, tidak ada gagasan ekonomi yang lebih mudah menyentuh hati publik selain koperasi. 
Ia membawa nama desa, rakyat kecil, persaudaraan, dan hari ini juga membawa nama syariah.

Melalui program Koperasi Merah Putih Syariah (KMP), negara kembali menaruh harapan besar pada desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional. 

Program ini diproyeksikan menjadi simpul baru ekonomi rakyat yang menghubungkan pembiayaan, distribusi pangan, logistik, hingga penguatan UMKM desa.

Gagasannya besar. Bahkan sangat mulia. Namun semakin besar sebuah program, semakin besar pula tanggung jawab moral yang mengikutinya. 

Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan hanya keberhasilan koperasi, melainkan kepercayaan rakyat kepada negara, masa depan ekonomi desa, dan wibawa ekonomi syariah itu sendiri.

Sejarah mengajarkan satu pelajaran penting. Krisis besar jarang dimulai dari niat buruk. Ia lebih sering lahir dari pengawasan yang melemah, euforia yang berlebihan, dan keyakinan bahwa semua akan berjalan baik tanpa disiplin tata kelola yang kuat.

Baca juga: Prabowo Resmikan 8.672 Kopdes Merah Putih Akhir Mei 2026, Rekrut 30 Ribu Manajer Profesional

Dan ketika amanah mulai kehilangan makna, keruntuhan biasanya hanya tinggal menunggu waktu.

Hidup di Statistik, Mati di Realitas

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved