Kupi Beungoh
Dari PCOS Menuju Era PMOS
Evolusi medis! PCOS kini berganti nama menjadi PMOS. Simak penjelasan Prof. Rajuddin tentang revolusi diagnosis & kesehatan sistemik perempuan.
Oleh: Prof. Dr. dr. Rajuddin, SpOG(K), Subsp.FER
Selama puluhan tahun, dunia kedokteran mengenal istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) sebagai salah satu gangguan endokrin reproduksi paling umum pada perempuan usia reproduksi.
Artikel The Lancet edisi 12 Mei 2026 berjudul “Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome, the New Name for Polycystic Ovary Syndrome: A Multistep Global Consensus Process” menyatakan bahwa istilah PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) secara global mulai bertransformasi menjadi PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome).
Perubahan ini didasarkan pada pertimbangan ilmiah bahwa istilah “polycystic” selama ini dinilai kurang tepat dan berpotensi menyesatkan, karena memberi kesan seolah-olah inti penyakit hanya berkaitan dengan “kista ovarium”.
Padahal, bukti ilmiah mutakhir menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan gangguan multisistem yang melibatkan aspek endokrin, metabolik, ovarium, reproduksi, dermatologis, psikologis, hingga risiko kardiometabolik yang luas.
Bagi sebagian orang, perubahan ini mungkin tampak sekadar pergantian istilah akademik. Namun, dalam dunia ilmu kedokteran, nomenklatur bukan persoalan tata bahasa.
Nama suatu penyakit membentuk cara dokter memahami penyakit, cara pasien memaknai dirinya, cara sistem kesehatan membangun kebijakan, bahkan cara penelitian dikembangkan dan didanai.
Karena itu, perubahan dari PCOS menjadi PMOS sesungguhnya mencerminkan revolusi dalam cara pandang terhadap salah satu sindrom perempuan paling kompleks di abad modern ini.
Ketika Nama Menjadi Masalah
Istilah “polycystic ovary” sejak lama sebenarnya masih menimbulkan persoalan ilmiah. Banyak pasien datang dengan kecemasan karena mengira dirinya memiliki “kista ovarium” yang berbahaya atau memerlukan operasi.
Padahal, pada mayoritas kasus PCOS, gambaran “polycystic” pada ultrasonografi bukanlah kista patologis seperti endometrioma atau tumor ovarium. Yang terlihat hanyalah kumpulan folikel kecil akibat gangguan maturasi (matang) folikel.
Di sinilah problem nomenklatur mulai muncul. Nama PCOS terlalu menitikberatkan pada ovarium dan “kista”, sementara penyakit ini sesungguhnya jauh lebih luas.
Banyak perempuan dengan PCOS justru datang dengan obesitas, resistensi insulin, diabetes, gangguan metabolik, jerawat berat, hirsutisme, depresi, infertilitas, gangguan ovulasi, hingga peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Konsensus global yang dipublikasikan oleh The Lancet menegaskan bahwa istilah PCOS tidak lagi mampu merepresentasikan realitas ilmiah terkini. Nama lama dianggap berkontribusi terhadap keterlambatan diagnosis, fragmentasi pelayanan, rendahnya pemahaman publik, dan bahkan stigma sosial terhadap perempuan.
Masalah stigma ini sangat penting, terutama di negara-negara dengan kultur yang menempatkan kesuburan sebagai identitas utama perempuan. Kata “ovary” dan “cyst” sering diasosiasikan dengan infertilitas permanen.
Tidak sedikit pasien muda mengalami kecemasan psikologis berat hanya karena mendengar dirinya “berkista” atau “sulit punya anak”, padahal perjalanan klinis penyakit ini sangat beragam dan banyak pasien tetap dapat hamil dengan tata laksana yang tepat dari dokter yang tepat.
PMOS: mencerminkan penyakit yang sesungguhnya
Nama baru yang disepakati adalah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS). Pemilihan istilah ini bukan keputusan spontan, melainkan hasil proses konsensus global yang melibatkan lebih dari 14.000 responden, organisasi pasien, ahli endokrinologi, ginekolog, dokter fertilitas, termasuk penulis, ahli metabolik, peneliti, serta kelompok advokasi lintas negara.
Istilah “polyendocrine” menegaskan bahwa gangguan ini melibatkan banyak sistem hormonal secara bersamaan. Selama ini publik cenderung memahami PCOS hanya sebagai gangguan ovarium.
Padahal, inti masalahnya jauh lebih kompleks: hiperandrogenisme, gangguan pulsasi GnRH dan LH, resistensi insulin, disfungsi adipokin, hingga interaksi neuroendokrin.
Komponen “metabolic” dimasukkan karena bukti ilmiah menunjukkan bahwa resistensi insulin merupakan salah satu fondasi utama penyakit ini. Bahkan pada perempuan dengan berat badan normal, gangguan sensitivitas insulin tetap dapat ditemukan.
Meta-analisis internasional menunjukkan bahwa pasien dengan PCOS memiliki peningkatan risiko diabetes tipe 2, dislipidemia, hipertensi, fatty liver disease, dan penyakit kardiovaskular.
Sementara istilah “ovarian” tetap dipertahankan karena ovarium memang menjadi organ sentral dalam manifestasi klinis penyakit ini. Gangguan folikulogenesis, anovulasi kronik, haid tidak teratur, infertilitas, dan peningkatan AMH tetap merupakan bagian penting dari spektrum PMOS.
Dengan demikian, PMOS mencoba menghadirkan nomenklatur yang lebih jujur terhadap ilmu pengetahuan modern.
Pergeseran Paradigma Kedokteran Perempuan
Perubahan nama ini sesungguhnya mencerminkan pergeseran paradigma besar dalam kesehatan perempuan. Selama bertahun-tahun, gangguan reproduksi perempuan sering dipersempit hanya pada fungsi fertilitas. Perempuan dianggap “sakit” ketika tidak bisa hamil, sementara aspek metabolik, psikologis, dan kualitas hidup sering kali diabaikan.
Padahal PMOS bukan sekadar persoalan reproduksi, melainkan kondisi kronik multisistem yang memengaruhi kesehatan perempuan sepanjang hidup. Perempuan dengan PMOS memiliki risiko depresi dan kecemasan yang lebih tinggi.
Mereka juga lebih rentan mengalami gangguan citra tubuh akibat obesitas, jerawat, dan hirsutisme. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan peningkatan risiko gangguan tidur dan obstructive sleep apnea.
Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah gangguan tidur serius yang ditandai dengan berhentinya napas secara berulang (total atau sebagian) saat tidur akibat penyumbatan saluran napas bagian atas. Kondisi ini menyebabkan kadar oksigen menurun, sering terbangun, dan tidur tidak berkualitas, dengan gejala utama berupa mendengkur keras dan kantuk berlebihan di siang hari.
Karena itu, tata laksana PMOS tidak boleh lagi bersifat parsial. Pendekatan “yang penting haid lancar” atau “yang penting hamil” sudah tidak relevan lagi.
Tata laksana modern harus melibatkan pendekatan multidisiplin: obstetri-ginekologi, endokrinologi reproduksi, nutrisi, psikiatri atau psikologi, dermatologi, hingga kedokteran olahraga. Di era kedokteran presisi, PMOS memperlihatkan bagaimana satu penyakit dapat memiliki spektrum biologis yang sangat luas.
Implikasi untuk pendidikan kedokteran
Perubahan nomenklatur ini juga memiliki implikasi besar bagi pendidikan kedokteran, termasuk di Indonesia.
Kurikulum mahasiswa kedokteran dan PPDS obstetri-ginekologi perlu beralih dari pendekatan organ-based menjadi sistem-based. Mahasiswa harus memahami bahwa diagnosis PMOS tidak boleh hanya didasarkan pada hasil ultrasonografi.
Pada remaja, misalnya, ovarium multifolikular dapat menjadi variasi fisiologis pubertas.
Karena itu, pedoman internasional terbaru ini bahkan tidak lagi menganjurkan USG sebagai dasar diagnosis PMOS pada remaja.
Diagnosis lebih menekankan pada kombinasi gangguan ovulasi dan hiperandrogenisme. Ini penting untuk mencegah overdiagnosis dan labeling yang tidak perlu. Banyak remaja mengalami kecemasan psikologis berat setelah diberi label PCOS hanya berdasarkan gambaran pada USG.
Selain itu, pendidikan dokter harus mulai menempatkan PMOS sebagai bagian dari epidemi penyakit metabolik secara global. Dunia menghadapi peningkatan obesitas, sedentary lifestyle, konsumsi ultra-processed food, dan gangguan metabolik sejak usia muda. Dalam konteks ini, PMOS bukan hanya isu reproduksi, tetapi juga isu kesehatan masyarakat.
Tantangan implementasi, meski secara ilmiah perubahan ini sangat kuat, implementasinya tentu tidak sederhana. Sistem rekam medis, kode ICD, buku ajar, guideline nasional, jurnal ilmiah, hingga sistem pembiayaan kesehatan seperti BPJS memerlukan adaptasi secara bertahap.
Konsensus The Lancet sendiri menyebutkan adanya masa transisi global selama 3 tahun. Selama periode ini, istilah PMOS kemungkinan akan digunakan berdampingan dengan PCOS untuk menghindari kebingungan klinis dan administratif.
Indonesia juga perlu berhati-hati dalam proses adopsi. Sosialisasi kepada dokter layanan primer sangat penting agar perubahan nama tidak menimbulkan kebingungan baru di masyarakat.
Di sisi lain, momentum ini dapat menjadi peluang untuk memperkuat literasi kesehatan perempuan di Indonesia. Pada akhirnya, perubahan dari PCOS menjadi PMOS mengajarkan satu hal penting, yaitu ilmu pengetahuan selalu berkembang. Apa yang dahulu dianggap benar bisa menjadi tidak memadai lagi, ketika bukti ilmiah baru terus bermunculan.
Kedokteran modern tidak boleh terjebak dalam istilah yang diwariskan sejarah tetapi kehilangan relevansi ilmiahnya. Nama penyakit harus membantu pemahaman, bukan menciptakan kebingungan.
PMOS mungkin memang terdengar lebih panjang dan lebih kompleks dibandingkan PCOS. Namun, kompleksitas itu justru mencerminkan kenyataan biologis dari penyakit ini.
Dan mungkin di situlah makna terpenting dari perubahan ini: dunia akhirnya mulai melihat kesehatan perempuan bukan sekadar persoalan ovarium, melainkan sebagai bagian utuh dari sistem biologis, metabolik, psikologis, dan sosial yang saling terhubung. (email:rajuddin@usk.ac.id)
Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Mafia Sitasi Permalukan Pendidikan Aceh : Ketika Akademik Indonesia Terjebak Ilusi Scopusisasi |
|
|---|
| Perang dan Damai Bagian -19, Krisis Energi, Resesi Global dan Urgensi Perdamaian |
|
|---|
| JKA Kiamat Sebagai Program Sejuta Umat |
|
|---|
| Saatnya Aceh Berani: Membangun Pendidikan yang Berdaya Saing |
|
|---|
| Menata JKA, Melindungi Hak Rakyat Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-dr-Rajuddin-SpOGK-SubspFER-17-11.jpg)