Kupi Beungoh
Mengetuk Pintu Hati Serambi Mekkah dan Normalisasikan Kesehatan Mental di Aceh
Aceh, wilayah yang dijuluki Serambi Mekkah, bukan sekadar titik geografis di ujung Sumatera, melainkan sebuah ruang peradaban yang dibangun di
Oleh: Hilma Fauzia *)
Aceh, wilayah yang dijuluki Serambi Mekkah, bukan sekadar titik geografis di ujung Sumatera, melainkan sebuah ruang peradaban yang dibangun di atas fondasi keteguhan iman dan sejarah perjuangan yang panjang.
Namun, di balik kemegahan spiritualitasnya, Aceh menyimpan luka yang dalam parut psikologis. Luka itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya akibat konflik berkepanjangan.
Sudah saatnya kita mengetuk pintu hati kolektif masyarakat Aceh untuk mulai menormalisasi perbincangan tentang kesehatan mental, sebagai langkah krusial menuju pemulihan peradaban yang utuh.
Luka Sejarah dan Trauma yang Mengendap
Sejarah mencatat masyarakat Aceh telah mengalami serangkaian kekerasan struktural, mulai dari perang kolonial hingga penerapan status Daerah Operasi Militer (DOM) pada periode 1989-1998.
Tragedi DOM, yang digambarkan sebagai “ladang pembantaian” (killing fields), telah meninggalkan ribuan janda dan anak yatim, serta menciptakan “neurosa psikologis” massal.
Baca juga: JKA, Senyar, dan Otsus: Ujian Serius atau Kembali “Lagee Biasa”?
Banyak warga yang mengalami penyiksaan keji, kehilangan sanak saudara tanpa kejelasan, hingga pelecehan martabat yang menghancurkan harga diri manusia.
Trauma ini bukan sekadar statistik ia adalah ingatan sosial (social memory) yang jika tidak disembuhkan secara sistematis, akan terus menjadi “bara” yang mengganggu stabilitas jiwa masyarakat Aceh.
Spiritualitas sebagai Benteng, Bukan Penghambat
Seringkali, isu kesehatan mental di masyarakat religius terbentur pada stigma bahwa gangguan jiwa adalah tanda kurangnya iman.
Namun, perspektif psikologi klinis dan pendidikan agama menunjukkan bahwa spiritualitas Islam justru merupakan faktor protektif yang kuat.
Nilai-nilai seperti tawakkul (berserah diri), sabar, syukur, dan zikir berfungsi sebagai strategi koping religius yang meningkatkan resiliensi individu terhadap stresor psikososial.
Baca juga: Trust Issue: Sinyal Darurat Kesehatan Mental atau Sekedar Drama Remaja
Normalisasi kesehatan mental di Aceh berarti mengintegrasikan psikoterapi berbasis nilai Islam ke dalam kehidupan sehari-hari.
Peran ulama sebagai pemimpin informal menjadi sangat vital dalam memberikan kekuatan mental dan menjadi mitra bagi para konselor untuk menyembuhkan trauma masa lalu.
Kita harus memahami bahwa mencari bantuan profesional untuk kesehatan mental tidak mengurangi nilai keimanan, melainkan sebuah ikhtiar untuk menjaga nafs (jiwa) sebagaimana diperintahkan dalam agama.
Tantangan Baru di Era Digital
Kini, Aceh tidak hanya berhadapan dengan luka lama, tetapi juga kerentanan baru di era digital.
Mahasiswa dan generasi muda Aceh kini terpapar pada risiko stres, kecemasan, dan depresi yang dipicu oleh adiksi media sosial, kelelahan digital (digital fatigue), hingga perundungan siber (cyberbullying).
Baca juga: Jangan Remehkan Basa-basi, Penelitian Ungkap Obrolan Sederhana Baik untuk Kesehatan Mental
Pengurangan interaksi tatap muka meningkatkan rasa kesepian di tengah keramaian dunia maya.
Hal ini menuntut adanya intervensi kesehatan mental yang lebih modern dan mudah diakses tanpa mengenyampingkan kearifan lokal.
Memulihkan Aceh pasca-trauma membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fisik, diperlukan rehabilitasi mental dan sosial yang menyeluruh.
Normalisasi kesehatan mental dapat dimulai dari berhenti melabeli gangguan mental sebagai “Aceh Pungo”(Aceh Gila) yang merendahkan, dan mulai melihatnya sebagai kondisi kesehatan yang memerlukan empati serta penanganan medis/psikologis.
Melatih relawan dan tokoh masyarakat dalam keterampilan konseling efektif yang mampu mendampingi korban tanpa memaksa mereka menceritakan kembali pengalaman traumatisnya secara menyakitkan.
Membangun kurikulum pendidikan dan layanan konsultasi yang memadukan pendekatan klinis dengan bimbingan spiritual.
Baca juga: Saat Stigma Kesehatan Mental Membungkam Remaja di Aceh
Mengetuk pintu hati Serambi Mekkah berarti mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengakui bahwa “kami terluka, dan kami berhak untuk sembuh."
Hanya dengan jiwa yang sehat, masyarakat Aceh dapat kembali berdiri tegak, mengelola kekayaan alamnya dengan bijak, dan mewujudkan negeri yang Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafur negeri yang aman, sentosa, dan penuh ampunan Tuhan. (*)
*) Penulis adalah Mahasiswa Semester 4 Program Studi Psikologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Di Balik Kritik Terhadap Mualem, Ada Perjuangan Besar untuk Aceh |
|
|---|
| Dari PCOS Menuju Era PMOS |
|
|---|
| Mafia Sitasi Permalukan Pendidikan Aceh : Ketika Akademik Indonesia Terjebak Ilusi Scopusisasi |
|
|---|
| Perang dan Damai Bagian -19, Krisis Energi, Resesi Global dan Urgensi Perdamaian |
|
|---|
| JKA Kiamat Sebagai Program Sejuta Umat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hilma-Fauzia.jpg)