Jumat, 15 Mei 2026

Kupi Beungoh

Penjajahan Akademik Berbaju Saintifik  

Dulu yang dirampas adalah rempah, tanah, dan tenaga. Kini yang dikuras adalah kecemasan intelektual, keringat peneliti

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Maka S3 kerap diplesetkan secara getir: “stres, stres, senyum” bila lulus; “stres, stres, sinting” bila kandas.

Di banyak kampus, kelulusan doktoral mensyaratkan publikasi di jurnal Scopus. Setelah kantong terkuras untuk studi, mereka masih berhadapan dengan biaya publikasi puluhan juta rupiah.

Inilah ironi open access: artikel terbuka bagi pembaca, tetapi pintu publikasi tetap mahal bagi penulis yang miskin dukungan. Di dalam negeri pun, sebagian jurnal lokal terindeks Scopus memasang tarif di atas sepuluh juta rupiah.

Jurnal Sinta 2 juga tidak sedikit yang meminta biaya di atas dua juta rupiah. Publikasi yang seharusnya menjadi ruang penyebaran ilmu berubah menjadi loket pembayaran.

Memang, tidak semua jurnal Scopus berbayar. Banyak yang masih gratis. Tetapi jalannya panjang, seleksinya ketat, revisinya berlapis, dan tembusnya tidak mudah. Di situlah lukanya: yang gratis sering lama, yang cepat sering mahal, dan yang palsu selalu mengintai mereka yang terdesak.

Akademik akhirnya berubah menjadi jalan tol pengetahuan: gagasan boleh melaju, asal dompet sanggup membayar.

Lebih celaka lagi, mahal belum tentu bermartabat. Banyak peneliti sudah membayar mahal, ternyata masuk perangkap jurnal predator, jurnal discontinued, fake indexing, atau broker publikasi.

Yang hilang bukan hanya uang dan waktu, tetapi juga masa depan artikel. Para broker paham betul luka itu. Mereka datang membawa kata-kata manis: Q1, SSCI, fast publication, guaranteed acceptance, associated journals. Yang mereka jual bukan jurnal. Mereka menjual kepanikan.

Kembalikan Martabat Ilmu

Kritik ini tidak boleh hanya diarahkan ke jurnal global. Negara dan institusi juga harus berkaca. Jangan menyuruh dosen meneliti kalau bensinnya tidak diberi.

Jangan menuntut publikasi internasional kalau dana riset diperlakukan seperti belas kasihan. Jangan menjadikan Scopus sebagai berhala, lalu membiarkan dosen membayar sendiri ongkos ibadahnya.

Negara tidak bisa memanen riset dari ladang yang dibiarkan kering. Jika kampus ingin reputasi, lindungi penelitinya.

Jika institusi ingin artikel internasional, sediakan dana publikasi yang adil. Jika bangsa ingin maju, jangan pisahkan teknologi dari moral, sains dari etika, inovasi dari kemanusiaan.

Bangsa yang membiayai mesin tetapi mengabaikan manusia hanya akan melahirkan teknologi cepat dengan nurani yang lambat.

Kita butuh sistem yang lebih waras. Distribusi hibah harus transparan. Evaluasi proposal harus menempatkan substansi di atas kosmetik administratif. Sosial-humaniora tidak boleh terus diperlakukan sebagai anak tiri akademik: disuruh menjelaskan kerusakan bangsa, tetapi tidak diberi ruang dan dana yang layak untuk bekerja.

Ilmu pengetahuan tidak boleh menjadi barang mewah. Publikasi tidak boleh menjadi alat pemerasan halus. Peneliti dari pinggiran tidak sedang meminta belas kasihan.

Mereka menuntut keadilan pengetahuan. Jika akademik ingin tetap bermartabat, ia harus kembali menjadi rumah kebenaran, bukan pasar tiket menuju pengakuan. Suara dari pinggiran tidak boleh terus dipaksa menjual separuh hidupnya hanya agar dunia mau mendengar.

 

*Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id 

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved