Kupi Beungoh
Menyembelih "Sifat Dan Perilaku kebinatangan" di Hari Raya Kurban
Hari Raya Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga momentum membunuh sifat egois, tamak, dan perilaku kebinatangan.
Mereka lupa bahwa tanpa rakyat, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam berbagai pelajaran sejarah, ketika perang, krisis, dan berbagai persoalan terjadi, rakyatlah modal utama. Tentunya rakyat yang kaya, cerdas, dan sejahtera merupakan kekuatan utama dalam membantu negara.
Kalau rakyat miskin, bagaimana bisa membantu negara? Menghidupi diri sendiri saja sekarang banyak yang tidak mampu, bahkan ada yang putus asa, stres, dan depresi.
Sadarlah wahai pemimpin muslim dan pejabat muslim, dari pusat sampai daerah, kalian memiliki kewajiban menjaga ukhuwah dan menyejahterakan rakyat. Bukankah jika rakyat miskin, negara ini akan hancur? Apakah itu yang kita inginkan?
Contoh lain, kita melihat pemimpin dan pejabat muslim sibuk dengan wanita, tahta, dan jabatan, yang semua itu merupakan jebakan dan fitnah untuk menghancurkan umat Islam. Sebagian besar pemimpin dan pejabat muslim meletakkan harta, tahta, dan wanita di hati mereka, sementara agama dan syariat tidak lagi dianggap penting.
Ini menjadi pertanda besar bahwa kehancuran nyata akan datang bagi umat Islam, sampai suatu hari nanti umat Islam menjadi budak di negeri sendiri.
Sadarlah wahai pejabat, wahai pemimpin di negeri ini, wahai umat Islam, kalian sedang dihancurkan.
Kembalilah kepada syariat Islam wahai umat Islam. Kalian sedang dihancurkan secara terang-terangan maupun diam-diam. Belajarlah dan ajarkan kepada diri serta keturunanmu Al-Qur'an, Sunnah Nabi, dan segala kandungan di dalamnya, karena itulah penyelamat dan kekuatan. Ingatlah, Al-Qur'an dan Sunnah Nabi adalah teropong masa depan bagi umat Islam.
Kedua, sembelihlah sikap keserakahan dan ketamakan, yaitu keinginan menguasai segala hal dan menimbun harta demi kepuasan pribadi, terutama di kalangan pemimpin ketika berkuasa. Dengan kekuasaannya, mudah baginya mendapatkan apa pun dari negeri ini.
Hal ini dapat dilihat dari:
Penyalahgunaan wewenang seperti korupsi anggaran publik dan pemanfaatan jabatan untuk memperkaya diri sendiri maupun kroni.
Merusak lingkungan dengan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan atau mengeluarkan izin pemanfaatan SDA kepada pihak luar yang memicu bencana ekologis seperti banjir bandang dan tanah longsor, sebagaimana yang terjadi di Aceh.
Sampai sekarang, setiap hujan turun, banjir bandang terus terjadi hingga menimbulkan trauma, stres, dan depresi mendalam bagi rakyat Aceh yang terkena dampaknya.
Adakah yang benar-benar peduli kepada korban banjir bandang ini? Saya melihat belum maksimal. Korban banjir bandang kehilangan harapan hidup, stres, bahkan hampir depresi karena penanganan dan bantuan yang diberikan masih setengah hati.
Ketiga, sembelihlah kesenjangan sosial dalam bentuk kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat kecil dan memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin.
Contohnya adalah agresivitas dan kekerasan, yaitu bersikap bengis atau menggunakan kekuatan secara semena-mena untuk menindas yang lebih lemah, serta membuat kebijakan yang menzalimi dan merugikan rakyat.
Sejatinya, pemimpin, pejabat, dan pemerintah yang benar hadir untuk menyejahterakan rakyat dan memikirkan kebutuhan rakyat. Itu merupakan amanah jabatan sekaligus janji politik yang pernah mereka sampaikan saat kampanye.
| Sensasi Jinto Kude, Tradisi Unik dari Aceh Tenggara yang Penuh Makna |
|
|---|
| Saree: Antara Deru Tol dan Harapan Karbon |
|
|---|
| Dari Balik Kabut Gayo: Mengalirkan Berkah Kurban Terbanyak ke Jantung Lintas Iman |
|
|---|
| “Islam-Politik” di Era Modern: Historiografi Karantina Rubiah dan Kontekstualisasi Haji 2026 |
|
|---|
| Hari Raya Idul Adha Qurban: Bukti Cinta dan Pengorbanan terhadap Tuhan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Ainal-Mardhiah-SAg-MAg-Dosen-Pendidikan-Agama-Islam-UIN-Ar-Raniry-Banda-Aceh.jpg)