Opini
Artificial Intelligence dan Martabat Publikasi Ilmiah yang Tercoreng
Di tangan yang benar, Artificial Intelligence menjadi asisten riset. Di tangan yang salah, ia berubah menjadi mesin pembuat kredibilitas palsu.
Dalam dunia ilmiah, kalimat indah tanpa verifikasi hanyalah kabut yang memakai jas laboratorium.
Karena itu, AI tidak dapat menjadi penulis. Nama penulis adalah tanda tanggung jawab, bukan sekadar tanda produksi teks.
Penulis harus mampu menjelaskan data, mempertahankan metode, menjawab kritik, mengakui kesalahan, dan memikul konsekuensi etis dari naskahnya. AI tidak memiliki kesadaran moral untuk semua itu.
Baca juga: Artificial Intelligence, Antara Ancaman dan Kemudahan
Deklarasi, Bukan Ketakutan
Penerbit besar dunia pada dasarnya tidak sedang memusuhi Artificial Intelligence. Mereka sedang menata adabnya.
Elsevier, misalnya, membolehkan penggunaan AI untuk menyintesis literatur, mengorganisasi isi, memperbaiki bahasa, dan meningkatkan keterbacaan.
Namun, Artificial Intelligence tidak boleh menggantikan pemikiran kritis, keahlian, dan evaluasi manusia. Penulis tetap wajib meninjau, memverifikasi, menyunting, dan bertanggung jawab atas seluruh isi naskah (Elsevier, 2025).
Sikap ini lebih matang daripada sekadar melarang. Sebagian jurnal kecil masih terlalu kaku, seolah naskah yang disentuh AI otomatis kehilangan martabat ilmiah.
Padahal yang merusak bukan AI sebagai alat, melainkan AI yang disembunyikan, tidak diperiksa, dan dipakai untuk menutupi kemalasan berpikir. Yang perlu dijaga bukan kemurnian palsu dari alat bantu, melainkan kejujuran proses dan akuntabilitas penulis.
Dalam soal deklarasi, Resnik dan Hosseini (2026) menawarkan batas yang lebih proporsional. Penggunaan AI sebaiknya wajib diungkap ketika disengaja dan substansial, misalnya untuk menghasilkan isi, menganalisis data, membuat gambar, menyusun interpretasi, atau memengaruhi kesimpulan.
Sebaliknya, penggunaan ringan untuk ejaan, tata bahasa, atau perbaikan kejelasan kalimat tidak perlu diperlakukan sebagai pelanggaran besar.
Elsevier juga meminta penggunaan AI yang relevan dinyatakan melalui AI declaration statement, mencakup nama alat, tujuan penggunaan, dan tingkat pengawasan penulis.
Pemeriksaan dasar ejaan, tata bahasa, dan tanda baca tidak perlu dideklarasikan. Namun, jika AI masuk ke proses riset, penggunaannya harus dijelaskan di bagian metode bila relevan.
Maka, yang dibutuhkan bukan fobia teknologi, melainkan kejujuran yang terukur.
Deklarasi sederhana sudah cukup: “Dalam penyusunan naskah ini, penulis menggunakan [nama alat] untuk penyuntingan bahasa dan peningkatan kejelasan.
Penulis telah membaca, merevisi, dan bertanggung jawab penuh atas isi akhir naskah.” Kalimat seperti ini bukan tanda kelemahan. Justru ia menunjukkan kedewasaan akademik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-M-Shabri-Abd-Majid-Prof-Bidang-Ilmu-Ekonomi-USK-Banda-Aceh.jpg)