Opini
Artificial Intelligence dan Martabat Publikasi Ilmiah yang Tercoreng
Di tangan yang benar, Artificial Intelligence menjadi asisten riset. Di tangan yang salah, ia berubah menjadi mesin pembuat kredibilitas palsu.
Kasus Kopenhagen menunjukkan satu hal penting: AI tidak menciptakan kecurangan akademik dari nol, tetapi dapat mempercepat dan mempercantik bentuk-bentuk lama kecurangan.
Fabrikasi data, manipulasi identitas, afiliasi palsu, metode fiktif, dan klaim riset yang tidak dapat diverifikasi kini bisa dibungkus dalam bahasa yang lebih rapi dan istilah yang lebih meyakinkan.
Larangan paling penting adalah membiarkan AI menggantikan kerja ilmiah.
AI tidak boleh dipakai untuk menciptakan data palsu, memperindah hasil, menyamarkan kelemahan metode, atau menulis analisis yang tidak dipahami penulisnya sendiri.
Jika AI digunakan untuk analisis data, pembuatan kode, pengolahan gambar, atau klasifikasi teks, prosesnya harus dapat dijelaskan dan diaudit.
Journal of Medical Internet Research (JMIR) menekankan tiga prinsip penting dalam penggunaan AI: akuntabilitas, transparansi, dan kerahasiaan.
Penulis harus memeriksa fakta, memastikan referensi tidak palsu, tidak mencantumkan AI sebagai ko-penulis, dan menjelaskan penggunaan AI bila berdampak pada isi naskah.
Penelaah dan editor pun tidak boleh mengorbankan kerahasiaan naskah ketika memakai AI dalam proses evaluasi (Leung et al., 2023).
Artikel American Chemical Society Energy Letters (ACS Energy Letters) mengingatkan bahwa AI dapat mengubah publikasi ilmiah secara mendasar.
Ia membuka peluang baru dalam pencarian literatur dan perumusan ide, tetapi juga dapat mempercepat lahirnya naskah ilmiah semu, artikel serial, dan sistem paper mills yang tampak rapi secara bahasa, tetapi kosong secara intelektual (Grimaldi & Ehrler, 2023).
Inilah bahaya zaman baru: kebohongan tidak lagi datang dengan wajah kasar. Ia bisa datang dengan abstrak yang tertata, metodologi yang terdengar meyakinkan, dan kalimat yang bersih. Namun, teks yang lancar tetapi tidak dipikirkan tetaplah kosong. Artikel yang indah tetapi tidak bertanggung jawab tetaplah rapuh.
Kajian di Journal of Korean Medical Science menunjukkan dua wajah AI dalam publikasi.
AI dapat membantu pencarian literatur, analisis data, manajemen sitasi, pemeriksaan bahasa, pemilihan jurnal, bahkan deteksi manipulasi gambar dan paper mills.
Namun, manfaat itu berjalan bersama risiko bias, distorsi, irrelevansi, misrepresentasi, plagiarisme, naskah fabrikatif, dan referensi palsu (Koçak, 2024).
Karena itu, AI tidak boleh menjadi topeng akademik. Ia tidak boleh membuat penulis tampak memahami sesuatu yang sebenarnya tidak ia kuasai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-M-Shabri-Abd-Majid-Prof-Bidang-Ilmu-Ekonomi-USK-Banda-Aceh.jpg)