Pojok Humam Hamid
“Rebel” to “Ruler”: Refleksi dan Kontemplasi tentang Zaini Abdullah
Kesepakatan Helsinki 2005 memotong narasi lama Aceh dengan satu keputusan yang brutal dalam kesederhanaannya: perang dihentikan.
Zaini Abdullah memimpin dalam dunia pascakonflik yang penuh ekspektasi.
Perdamaian dianggap sebagai awal dari segalanya: kemakmuran, keadilan distributif, dan percepatan pembangunan.
Tetapi perdamaian tidak bekerja seperti itu.
Ia hanya menghilangkan kekerasan, bukan menghilangkan keterbatasan.
Jalan tetap harus dibangun satu per satu.
Institusi tetap harus diperbaiki perlahan.
Ekonomi tetap tunduk pada logika investasi dan waktu.
Negara tetap berjalan dalam ritme yang tidak pernah sejalan dengan harapan politik.
Di titik ini, romantisme perjuangan berhadapan langsung dengan birokrasi.
Dan birokrasi selalu menang dalam jangka panjang.
Transformasi GAM ke dalam politik elektoral sering disebut sebagai keberhasilan demokratisasi Aceh.
Itu benar, tetapi tidak lengkap.
Karena keberhasilan yang lebih penting - dan lebih sulit - adalah mengubah logika perang menjadi logika pemerintahan.
Perang memberi kepastian moral.
Pemerintahan memberi ambiguitas teknis.
Perang mengidentifikasi musuh.
Pemerintahan mengelola ketidakpuasan.
Perang bergerak cepat.
Pemerintahan bergerak lambat dan sering mengecewakan.
Simbol Eksperimen Sejarah
Zaini Abdullah, dalam posisi itu, bukan hanya gubernur.
Ia adalah simbol dari sebuah eksperimen sejarah: apakah elite pemberontakan bisa menjadi administrator negara tanpa kehilangan legitimasi moralnya, dan tanpa terjebak dalam mitologi masa lalu.
Jawaban atas pertanyaan itu belum final.
Aceh hari ini tidak kembali ke perang.
Itu fakta penting.
Tetapi Aceh juga belum mencapai transformasi penuh yang dijanjikan oleh perdamaian.
Di antara dua titik itu, terdapat ruang panjang bernama “pemerintahan normal” - ruang yang paling tidak heroik dalam sejarah, tetapi paling menentukan dalam kehidupan masyarakat.
Sejarah jarang memberi penghargaan kepada fase ini.
Ia lebih suka perang daripada administrasi, lebih suka revolusi daripada reformasi lambat.
Namun justru di situlah kebenaran berada.
Karena pada akhirnya, transisi dari “rebel” to “ruler” bukan tentang kemenangan moral.
Ia tentang apakah mereka yang pernah menghancurkan sistem mampu membangun sistem yang lebih baik daripada yang mereka hancurkan.
Dan sejarah, seperti biasa, tidak memberikan jawaban cepat.
Ia hanya memberi waktu.
Dan menguji siapa yang mampu bertahan di dalamnya.
*) PENULIS adalah Sosiolog dan mantan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
pojok humam hamid
Zaini Abdullah meninggal
zaini abdullah
Sosiolog humam hamid
humam hamid aceh
Humam Hamid
| Zaini Abdullah: Seorang Dokter yang Menyeberangi Sejarah |
|
|---|
| Ketimpangan Wilayah dan Sumber Daya: Akankah UTU Menjadi Transformator Barsela? |
|
|---|
| Tambang, Leuser, Perubahan Iklim: Undangan Tragedi Masa Depan Aceh |
|
|---|
| Menjelang 20 Bulan Prabowo Berkuasa: Apa Beda Sumitronomics dan Prabowonomics? |
|
|---|
| Revisi Narasi Sejarah Aceh dari Hanya Perang dan Ulama: Saudagar Habib Bugak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Humam-dan-dr-Zaini-Abdullah.jpg)