Pojok Humam Hamid
Penyakit Akar Busuk Negara dan Tragedi Hari Ini
Yang paling mendesak, oligarki yang telah melakukan kesalahan berjilid-jilid harus ditindak tanpa pandang bulu.
Sebuah lonjakan yang menimbulkan tanda tanya.
Apakah belanja ini untuk membela rakyat? Atau justru bersiap menghadapi rakyat?
Sementara itu, program-program mahal seperti Makan Bergizi Gratis senilai Rp335 triliun digulirkan tanpa peta jalan yang jelas, berpotensi menjadi proyek anggaran tanpa keberpihakan.
Lebih menyakitkan lagi, publik menyaksikan proyek-proyek mercusuar yang membebani, seperti Koperasi Merah Putih.
Koperasi desa ini akan mengelola dana jumbo dengan narasi nasionalis yang kabur, dan mekanisme pertanggungjawaban yang gelap.
Di saat kelas menengah tergerus, angka pengangguran naik, harga pangan tak terkendali, dan upah stagnan, negara justru asyik membiayai ilusi, bukan solusi.
Baca juga: Vonis Banding Mantan Pejabat Langsa Mustafa ST Diperberat Jadi 5 Tahun
Penyakit akar busuk
Semua ini adalah gejala luar dari penyakit akar busuk yang telah lama tumbuh.
Ada korupsi sistemik, rente kekuasaan, politik dinasti, rangkaian kebijakan elitis, dan kegagalan menyusun prioritas nasional.
Jamur putih itu adalah kompromi-kompromi kecil yang dibiarkan tumbuh--hingga kini menjelma penyakit yang menyebar ke seluruh tubuh republik.
Semua masalah kita hari ini sama sekali bukan dari kejadian eksternal. Kita sedang menghadapi infeksi internal.
Masalah kita bukan semata-mata defisit fiskal atau fluktuasi ekonomi global.
Masalah kita adalah negara yang kehilangan rasa malu dan arah moral.
Yang membuat situasi ini lebih genting adalah konteks eksternal yang sedang berlangsung.
Kita tidak hanya sedang terluka dari dalam, tapi juga sedang menghadapi arus zaman paling bergolak dalam lima puluh tahun terakhir.
Pertarungan geopolitik global sedang memuncak.
| Irwandi, Mualem, dan “Peunutoh”: “JKA Bandum” vs “JKA Kudok” - Akankah Lahir Paradoks Kebijakan? |
|
|---|
| MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu? |
|
|---|
| Makar atau Tak Nyaman? Membaca Mujani, Amsari, Fahri Hamzah, dan Mahfud MD |
|
|---|
| Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah |
|
|---|
| Komunikasi Publik Menteri Purbaya: Kebingungan Teknokratis, Krisis Nasional, atau Tarian Populis? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Humam-32.jpg)