Pojok Humam Hamid
Keamanan vs Perdamaian: Marco Rubio, Netanyahu, Ayalon, dan Masa Depan Palestina
Menurut Ayalon, perdamaian dengan Palestina bukan sekadar pilihan moral, melainkan langkah strategis yang tak terelakkan
Secara global, pengakuan negara Palestina oleh negara-negara seperti Prancis, Finlandia, Kanada, Malta, dan Inggris mencerminkan arus perubahan dalam opini internasional.
Meskipun langkah ini tidak langsung mengubah peta politik di lapangan, pengakuan ini memberikan perhatian baru pada hak-hak Palestina.
Negara-negara besar ini memberi sinyal kuat bahwa Palestina tidak dapat lagi dikesampingkan, dan hak mereka untuk memiliki negara yang merdeka harus dipertimbangkan dalam setiap pembicaraan perdamaian.
Namun, ada satu hal yang sangat jelas.
Palestina adalah sebuah bangsa yang terperangkap di antara kekuatan yang lebih besar, dengan hak yang harus dihormati.
Masyarakat Palestina, yang telah hidup dalam pengungsian dan ketidakpastian selama puluhan tahun, memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri dan mengakhiri penderitaan mereka.
Pengakuan negara Palestina bukan hanya langkah simbolis, tetapi tindakan moral yang tak bisa ditunda lebih lama.
Dunia tidak bisa terus bersembunyi di balik kebijakan status quo yang tidak menguntungkan siapa pun.
Jika Israel ingin memastikan keamanan yang berkelanjutan, perdamaian yang adil adalah jawabannya.
Bukannya mengabaikan aspirasi Palestina, dunia dan Israel harus menerima kenyataan bahwa negara Palestina yang merdeka bukanlah ancaman bagi Israel, tetapi solusi yang lebih baik dan lebih stabil untuk semua pihak yang terlibat.
Sudah waktunya bagi Israel dan AS untuk berhenti memandang masa depan Palestina dengan kacamata militeristik dan mulai berpikir lebih panjang.
Sebuah perdamaian yang adil adalah keamanan yang sejati.
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Artikel dalam rubrik Pojok Humam Hamid ini menjadi tanggung jawab penulis.
| Irwandi, Mualem, dan “Peunutoh”: “JKA Bandum” vs “JKA Kudok” - Akankah Lahir Paradoks Kebijakan? |
|
|---|
| MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu? |
|
|---|
| Makar atau Tak Nyaman? Membaca Mujani, Amsari, Fahri Hamzah, dan Mahfud MD |
|
|---|
| Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah |
|
|---|
| Komunikasi Publik Menteri Purbaya: Kebingungan Teknokratis, Krisis Nasional, atau Tarian Populis? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/humam-hamid-di-acara-diaspora-global-aceh.jpg)