Pojok Humam Hamid
MSAKA21: Tiga Indra, Aceh Lhee Sagoe, dan “Soft Hegemonic Transition” - Bagian XI
Sejarah Aceh, khususnya proses Islamisasinya, justru menawarkan kisah transisi yang halus dan cerdas--sebuah proses yang tidak menghapus masa lalu
Aceh menunjukkan bagaimana kekuasaan Islam tumbuh bukan dari pemaksaan, tetapi dari kemampuan mengartikulasikan dirinya dengan struktur nilai, adat, dan simbol yang sudah mengakar.
Dengan demikian, Islam menjadi hegemon bukan karena meruntuhkan kekuasaan lama, tetapi karena berhasil menanamkan maknanya ke dalam fondasi lama itu sendiri.
Dalam konteks ini, konsep “soft hegemonic transition” menjadi alat analisis yang kuat.
Ia menjelaskan bagaimana kekuasaan baru bisa berkuasa tanpa konfrontasi tajam dengan sistem lama.
Berbeda dengan hegemonik koersif, yang memaksakan dominasi melalui kekuatan militer atau ideologi yang menyingkirkan yang lama, soft hegemonic transition berlangsung secara kultural, simbolik, dan bertahap.
Ia menciptakan konsensus, bukan konflik.
Baca juga: MSAKA21: Indrapuri, Candi yang Menjadi Masjid - Bagian IX
Islam Bukan Ancaman
Islam di Aceh hadir bukan sebagai ancaman, tapi sebagai kelanjutan yang lebih tinggi dan lebih utuh dari struktur lama yang telah ada.
Proses ini juga menjelaskan kenapa masyarakat Aceh mampu menerima Islam secara cepat dan menyeluruh.
Islam tidak datang dengan wajah asing atau merusak, tapi sebagai bagian dari “penyempurnaan” nilai-nilai lokal.
Para ulama dan penyebar Islam menggunakan bahasa lokal, menghormati adat, bahkan menggunakan simbol-simbol lama untuk membingkai ajaran baru.
Di titik ini, Islam menjadi hegemon bukan karena menghancurkan, tapi karena ia mampu menjalin hubungan yang kuat dengan struktur budaya yang sudah tertanam.
Bukti-bukti historis juga menunjukkan bahwa perubahan di Aceh bukan terjadi secara tiba-tiba.
Tidak ada catatan besar tentang pemberontakan budaya terhadap Islam.
Yang ada justru proses panjang dakwah, pernikahan politik, dan adaptasi sosial yang menciptakan legitimasi baru secara bertahap.
Struktur keulamaan Aceh pun dibangun dengan mengadopsi model pendidikan lokal dan luar, yang kemudian dilebur menjadi sistem dayah.
Meaningful
pojok humam hamid
sejarah Aceh
sejarah aceh lhee sagoe
sejarah hindu di aceh
opini serambinews
humam hamid aceh
sejarah kerajaan aceh
| Irwandi, Mualem, dan “Peunutoh”: “JKA Bandum” vs “JKA Kudok” - Akankah Lahir Paradoks Kebijakan? |
|
|---|
| MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu? |
|
|---|
| Makar atau Tak Nyaman? Membaca Mujani, Amsari, Fahri Hamzah, dan Mahfud MD |
|
|---|
| Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah |
|
|---|
| Komunikasi Publik Menteri Purbaya: Kebingungan Teknokratis, Krisis Nasional, atau Tarian Populis? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/prof-ahmad-humam-hamid-4.jpg)