Jurnalisme Warga
Bahasa Aceh di Ambang Sunyi
Pernahkah Anda duduk di warung kopi atau masuk ke toko-toko di pusat Kota Banda Aceh dan kemudian memperhatikan bahasa apa yang paling
INAS GHINA, Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, melaporkan dari Kota Jantho, Aceh Besar
Pernahkah Anda duduk di warung kopi atau masuk ke toko-toko di pusat Kota Banda Aceh dan kemudian memperhatikan bahasa apa yang paling sering terdengar?
Benar, bukan lagi bahasa Aceh. Sangat jarang. Yang terdengar justru bahasa Indonesia, bahkan terkadang bercampur dengan bahasa Inggris ala anak gaul Jakarta Selatan.
Sistem sapaan Abang-Kakak pun kadang berubah menjadi Mas-Mbak layaknya sapaan di Jawa sana.
Ada apa dengan kita? Padahal, kita hidup di tanah yang sejak dulu dikenal dengan kebanggaan terhadap identitas keacehannya: budaya, adat, dan tentu saja bahasa. Akan tetapi, sekarang bahasa Aceh seakan semakin berkurang peminatnya. Anak-anak muda lebih banyak bercakap dalam bahasa Indonesia, bahkan di dalam rumah. Bahasa Aceh mulai kalah bersaing, bukan karena tidak penting, tapi karena mulai dilupakan.
Banyak orang tua merasa lebih aman dan nyaman mengajarkan bahasa Indonesia dan bahkan bahasa Inggris sejak dini. Alasan mereka, agar anak tidak bingung saat masuk sekolah. Namun, tanpa disadari, anak tumbuh besar tanpa pernah benar-benar akrab dengan bahasa leluhurnya. Akibatnya, makin banyak generasi muda yang mengerti bahasa Aceh, tetapi tidak bisa mengucapkannya dengan lancar.
Lebih parah lagi, ada yang merasa malu saat berbicara dalam bahasa Aceh di depan umum, termasuk di sekolah atau di kampus.
Saya pernah pergi ke kampung-kampung di Aceh Besar, tempat yang seharusnya menjadi benteng terakhir bahasa Aceh. Di sana, saya saksikan pemandangan yang membuat hati miris: seorang ibu berbicara kepada anaknya dalam bahasa Indonesia, lengkap dengan pelafalan “t” yang tebal, khas gaya formal.
Ketika saya bertanya kenapa tak menggunakan bahasa Aceh, jawabannya sederhana: Supaya anaknya tidak terdengar aneh saat berbicara di sekolah.
Fenomena ini tampak sepele, tapi sebenarnya sangat berbahaya. Bahasa Indonesia tidak perlu diajarkan di rumah. Anak-anak akan mempelajari dengan sendirinya lewat televisi, sekolah, dan pergaulan. Justru bahasa Acehlah yang harus kita tanamkan dari awal karena jika bukan dari keluarga, dari mana lagi anak akan mewarisinya?
Ini menyedihkan. Sebab, bahasa bukan cuma soal bicara, tetapi juga soal siapa kita. Lewat bahasa, kita mewarisi cara berpikir, cerita masa lalu, bahkan nilai-nilai hidup dari nenek moyang kita. Kalau bahasa itu hilang, hilang pulalah warisan itu.
Kita sering marah ketika budaya kita—seperti batik atau rendang—diklaim oleh negara lain. Namun, bagaimana kalau justru bahasa kita sendiri hilang bukan karena dicuri, melainkan karena tidak kita jaga? Coba bayangkan, kalau bahasa bisa dengan mudah diklaim, mungkin saja sudah ada negara lain yang berusaha mengakuinya sebagai milik mereka. Namun kenyataannya, bahasa tidak bisa dicuri. Ia hanya bisa hilang kalau kita sendiri yang berhenti menggunakannya.
Banyak orang mengira bahasa baru bisa terancam punah kalau penuturnya tinggal sedikit. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Menurut Ravindranath dan Cohn dalam tulisan Can a Language with Millions of Speakers Be Endangered? (2014), jumlah penutur yang besar bukan jaminan sebuah bahasa aman dan tetap eksis. Yang paling menentukan justru apakah bahasa itu diwariskan ke generasi muda dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari atau tidak.
Contohnya, bahasa Jawa—jumlah penuturnya lebih dari 68 juta orang—tetapi UNESCO sudah memasukkannya dalam kategori “terancam punah” karena generasi mudanya makin jarang menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Nah, kalau bahasa sebesar itu saja bisa terancam, bagaimana dengan bahasa Aceh yang penuturnya diperkirakan kurang dari tiga juta orang?
Di tengah arus modernisasi dan kuatnya pengaruh bahasa Indonesia, posisi bahasa Aceh jauh lebih rentan. Kalau tidak ada kesadaran bersama untuk menurunkannya ke generasi berikutnya, bukan tidak mungkin bahasa ini akan makin jarang terdengar dan perlahan-lahan menghilang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/INAS-GHINA-OKEEE.jpg)