Jurnalisme Warga

Bahasa Aceh di Ambang Sunyi

Pernahkah Anda duduk di warung kopi atau masuk ke toko-toko di pusat Kota Banda Aceh dan kemudian memperhatikan bahasa apa yang paling

Editor: mufti
IST
INAS GHINA, Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, melaporkan dari Kota Jantho, Aceh Besar 

“Memangnya kenapa, kalau bahasa Aceh punah? Bukankah kita masih punya bahasa Indonesia?”

Pertanyaan itu terdengar logis di permukaan, tapi coba bayangkan: Anda berada di Jakarta, kota tempat ratusan suku dan etnis Indonesia berkumpul. Di tengah keragaman itu, bagaimana Anda membuktikan bahwa Anda orang Aceh? Lewat kartu identitas? Orang Makassar pun bisa membuat kartu identitas di Banda Aceh. Lewat wajah? Wajah kita bisa saja mirip orang India, kulit mungkin gelap, atau malah terlihat seperti orang Arab. Semuanya tidak cukup jadi bukti. Satu-satunya identitas yang tak bisa dipalsukan, yang benar-benar lahir dari dalam diri, adalah bahasa.

Ketika Anda berbicara dalam bahasa Aceh, tak perlu penjelasan panjang. Orang langsung tahu siapa Anda dan dari mana asalmu. Jika bahasa itu hilang, maka hilang pulalah penanda paling autentik dari keacehan kita.

Bahasa Aceh memang tidak akan punah dalam semalam. Namun, jika kita terus membiarkannya terlupakan, maka dalam satu atau dua generasi, kita bisa benar-benar kehilangannya. Saat itu tiba, penyesalan tak akan mampu mengembalikannya. Maka, sebelum bahasa Aceh benar-benar sunyi, mari kita hidupkan kembali dengan cinta, kebanggaan, dan keberanian.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Tentu, menghidupkan kembali bahasa Aceh bukan perkara mudah. Langkah-langkah besar seperti membuat konten digital, menulis buku, atau mengajarkannya di sekolah memang penting. Namun, bagi sebagian orang yang belum lancar berbahasa Aceh, itu bisa terasa terlalu jauh. Bahkan upaya Pemerintah Aceh yang mewajibkan penggunaan bahasa Aceh satu hari dalam seminggu di lingkungan perkantoran pun terasa berat bagi mereka yang belum mahir menggunakan bahasa tersebut.

Untuk itu, mari kita mulai dari langkah kecil. Apresiasi orang yang bertutur dalam bahasa Aceh, tunjukkan antusiasme, senyum, atau bahkan ucapan “keren!” karena mereka sedang menjaga warisan kita. Cobalah ucapkan satu atau dua kata dalam bahasa Aceh saat memesan kopi di warung. Ulangi kata-kata yang kita tahu, meski hanya sedikit. Tanamkan pada anak-anak bahwa bisa berbahasa Aceh bukan hanya keren, itu adalah prestasi. Tidak semua orang mampu melakukannya.

Pelestarian bahasa tidak harus dimulai dari hal besar. Kadang, perubahan bermula dari satu kata, satu senyum, satu kebanggaan kecil yang tumbuh setiap hari.

Bahasa Aceh adalah suara ‘dodaidi’ nenek kita saat meninabobokan cucunya, doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus, dan cerita rakyat yang mengajarkan kebijaksanaan hidup. Jika suara itu hilang, siapa yang akan menceritakan ulang kisah kita? Apakah kita rela menjadikan sunyi sebagai warisan?

Sudah sepatutnya kita bangga bisa menguasai lebih dari satu bahasa. Menjadi bilingual, bahkan multilingual, bukan hanya keren, itu adalah kekayaan. Bukankah itu sebuah keistimewaan? Maka jangan merasa malu, justru buat mereka iri: tunjukkan kepada dunia bahwa kita tumbuh dengan warisan budaya yang lebih luas, lebih dalam, dan lebih beragam yang semuanya dimulai dari penguasaan bahasa daerah (Aceh).

Kalau bukan kita yang menjaga dan bangga dengan bahasa Aceh, siapa lagi? Jangan sampai suatu hari nanti, kita hanya bisa mengenang bahasa Aceh lewat buku sejarah atau lagu-lagu lama. Sebelum benar-benar sunyi, mari kita hidupkan kembali bahasa Aceh dengan bangga, dengan cinta, dan harapan.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved