Kupi Beungoh
Mango Gayo, Tradisi Undangan yang Mulai Tergerus Zaman
Mango bukan sekadar ajakan untuk hadir dalam sebuah acara, melainkan simbol penghormatan, etika, dan kekerabatan.
Meski tak bisa dihindari, pergeseran ini perlu mendapat perhatian serius.
Provinsi Aceh memiliki Majelis Adat Aceh (MAA) yang diharapkan mampu memberikan penegasan dan solusi atas perubahan ini.
Jika memang diperbolehkan, lembaga tersebut harus menjalankan fungsinya untuk menjaga agar adat dan budaya Aceh, khususnya Gayo Lues, tetap lestari dan tidak kehilangan jati diri di masa mendatang.
*) PENULIS adalah Pemerhati Adat dan Budaya Gayo Lues.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi dari setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel Kupi Beungoh lainnya di SINI
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Buniyamin-S-Gayo-Lues.jpg)