Kupi Beungoh
Ketika Roda Ekonomi Tak Benar-Benar Berputar
Ekonomi memang tampak bergerak, tapi tidak semua ikut di dalam putarannya. Ada yang melaju dengan kecepatan tinggi di jalur atas
Sebagian besar hanya memiliki keterampilan produksi terbatas, seperti membuat keripik atau tape. Produk yang dihasilkan memang punya rasa khas, tetapi cenderung monoton, nyaris tidak berinovasi dari tahun ke tahun. Produsen terus memproduksi keripik singkong dengan rasa dan kemasan yang sama, tanpa strategi branding atau pemasaran digital yang memadai.
Baca juga: Ketrampilan Warga Binaan di Lapas Perempuan Sigli, Mengelola Sampah Menjadi Pupuk Kompos
Padahal, jika menengok ke daerah lain seperti Meureudu di Pidie Jaya, misalnya kue Ade, olahan berbahan ubi yang kaya cita rasa dan makna budaya. Kue ini sejatinya sudah menjadi bagian penting dalam ritual sosial Aceh seperti khanduri, namun pengelolaannya masih belum disentuh inovasi kreatif.
Bayangkan jika para produsen Sare dan Meureudu diberi pelatihan terpadu, bukan hanya mengolah, tetapi juga mengemas, memasarkan, dan menceritakan produknya secara digital.
Kue Ade bisa dikembangkan dalam versi modern: Ade Mini Series dengan varian rasa keju, durian, atau pandan, dikemas estetik dengan sentuhan motif bordir Aceh.
Sementara olahan singkong Sare bisa naik kelas menjadi brownies cassava atau cassava cheese stick yang dipasarkan melalui media sosial, katalog digital, atau bahkan virtual store berbasis komunitas lokal.
Dengan pendekatan semacam ini, UMKM tidak hanya menjual produk, tapi juga menjual identitas dan cerita budaya , hal yang kini menjadi kekuatan utama ekonomi kreatif global.
Bahkan, saya mengamati saat ini media sosial seperti TikTok dan berbagai platform e-commerce telah menjadi ruang baru bagi ekonomi rakyat untuk tumbuh.
Banyak pelaku UMKM dari daerah lain yang berhasil memperluas pasar lewat konten kreatif ,menampilkan proses produksi, kisah di balik produk, hingga cara penyajiannya.
Dengan proyeksi digital semacam ini, produk lokal Aceh tidak lagi terjebak dalam pasar tradisional yang sempit, tetapi mulai menembus ruang-ruang baru di dunia maya yang lebih kompetitif dan modern.
Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk beradaptasi , bukan meninggalkan akar budaya, melainkan menanamkannya di tanah baru bernama ekonomi digital.
Menengok dari Pesisir
Jika mengamati sektor pariwisata, arah kebijakan mualem yang menekan pembangunan wisata berbasis budaya Islami sebenarnya memiliki landasan ideal yang kuat: menjaga moralitas publik sekaligus mempromosikan identitas Aceh.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa industri pariwisata Aceh masih berjalan stagnan dan belum menemukan bentuk yang kokoh. Potensi yang melimpah belum sepenuhnya diolah menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.
Ambil contoh wilayah pesisir. Di Lhoknga, misalnya, geliat ekonomi pariwisata mulai tampak: deretan warung modern, kafe tepi pantai, hingga resort kecil tumbuh dengan wajah baru yang lebih tertata. Para pelaku UMKM di sana mulai memahami bagaimana mengelola pengalaman wisata, memadukan antara pelayanan, estetika ruang, dan kebutuhan wisatawan modern.
Namun, di wilayah lain seperti Lhok Mee yang memiliki pasir putih dan panorama laut yang tak kalah memukau, keadaan masih jauh dari kata maju. Infrastruktur dasar seperti jalan akses, hingga kebersihan area wisata masih terbengkalai.
Tak jarang, hewan ternak dibiarkan berkeliaran di sekitar pantai, meninggalkan kotoran di area publik, menciptakan kesan kumuh yang mencederai potensi wisata itu sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Siti-Arifa-Diana-SSos-MA-Kolumnis-Literasi-dan-Sosial.jpg)