Kupi Beungoh
Ketika Roda Ekonomi Tak Benar-Benar Berputar
Ekonomi memang tampak bergerak, tapi tidak semua ikut di dalam putarannya. Ada yang melaju dengan kecepatan tinggi di jalur atas
Itu masih di wilayah yang dekat dengan pusat kota. Coba kita menengok sedikit lebih jauh ke kabupaten-kabupaten yang nyaris tak tersentuh denyut pembangunan. Di pesisir Aceh Utara, Pidie, hingga Aceh Singkil dan Simeulue, lautnya terbentang indah, tapi sunyi dari geliat ekonomi.
Pantai berpasir putih dan ombak tenang hanya menjadi latar kehidupan nelayan yang berjuang seadanya. Jalan menuju lokasi wisata banyak yang rusak, sinyal telepon kerap hilang, dan tak ada papan informasi atau fasilitas dasar yang layak.
Ironisnya, di tengah potensi alam yang luar biasa, tak ada strategi terarah untuk menghidupkan ekonomi pesisir. Kekayaan laut dan budaya bahari hanya menjadi potensi yang terus dipuja di atas kertas, sementara warganya tetap bergulat dengan kemiskinan dan keterisolasian.
Kondisi ini memperlihatkan bagaimana kesenjangan pembangunan tidak hanya terjadi antar-sektor, tetapi juga antar-wilayah dalam satu provinsi. Dalam bahasa sosiologis, ini menunjukkan adanya ketimpangan struktural spasial, yakni distribusi pembangunan yang tidak merata karena minimnya koordinasi antar-level pemerintahan dan lemahnya partisipasi masyarakat lokal.
Untuk mengatasi hal ini, Aceh perlu mengubah pendekatan pembangunan pariwisata dari sekadar proyek fisik menjadi proses pemberdayaan sosial.
Peningkatan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan pendidikan wisata bagi masyarakat lokal: bagaimana menjaga kebersihan, melayani dengan keramahan, dan menciptakan produk kuliner khas yang higienis serta menarik secara visual.
Pemerintah daerah dapat menginisiasi sekolah pariwisata berbasis komunitas, tempat warga belajar tentang kebersihan lingkungan, manajemen homestay, hingga strategi promosi digital melalui platform seperti TikTok Travel atau Instagram Explore Aceh. Dengan begitu, wisata Aceh tidak hanya menjual pemandangan, tetapi juga menampilkan wajah sosial yang ramah, tertata, dan bermartabat.
Ekonomi yang Memanusiakan
Masalah UMKM sejatinya bukan sekadar tentang pertumbuhan ekonomi, melainkan tentang keadilan sosial yang memberi ruang bagi setiap orang untuk benar-benar hidup dari jerih payahnya sendiri.
Bantuan modal tanpa pendampingan hanya memperpanjang ketimpangan dalam bentuk baru, ketergantungan yang dibungkus jargon pemberdayaan. Yang dibutuhkan hari ini adalah ekonomi yang memanusiakan: sistem yang melihat rakyat kecil bukan sebagai penerima belas kasihan, melainkan sebagai penggerak utama roda kehidupan.
Sebab pada akhirnya, kemajuan tidak diukur dari seberapa cepat ekonomi berputar di laporan resmi, tetapi sejauh mana putaran itu benar-benar menyentuh tanah, menghidupkan pasar kecil, membuka kesempatan bagi yang terpinggirkan, dan menumbuhkan harapan dari bawah. Jika itu belum terjadi, maka sesungguhnya roda ekonomi kita masih berputar di tempat.
Ekonomi sejatinya adalah cerita tentang manusia, tentang siapa yang berdaya, siapa yang tertinggal, dan siapa yang terus berjuang di luar lingkaran arus utama. Selama pembangunan hanya berputar di lingkar elite dan belum menembus ruang hidup masyarakat kecil, maka roda ekonomi itu sesungguhnya masih pincang.
Ia berputar, tapi tak membawa semua ikut bergerak. Dan di situlah ironi terbesar kita hari ini: roda ekonomi tampak bergulir, namun tak benar-benar berputar.
Penulis, Siti Arifa Diana, S.Sos, MA. Kolumnis Literasi dan Sosial. Alumni Magister Sosiologi di Selcuk University, Turkiye.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
| Prabowonomics vs Serakahnomics: Ikhtiar Menjaga Nurani Ekonomi Dunia |
|
|---|
| Menyikapi Peringkat 31 TKA Aceh pada Jenjang SMA/MA Tahun 2025 |
|
|---|
| Belajar Yang Benar Wahai Generasi Muda Aceh Agar Aceh Tidak Diambil Orang |
|
|---|
| Tuan, Jangan Bungkam Suara Kami |
|
|---|
| Dacumesta: Warisan Empat Gampong di Reubee Pidie, Ini Harapan Generasi Muda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Siti-Arifa-Diana-SSos-MA-Kolumnis-Literasi-dan-Sosial.jpg)