TOPIK
Puisi
-
jika rumah adalah tempatku berpulang
maka engkau adalah udara di dalamnya
-
Maaf. Hujan di kota itu telah kubungkus
Kusatukan bersama corat coret, malam,
-
rumput muda di tepi jalanan kota
tumbuh liar menuju ketiadaan
-
Ada yang mengertap di bunga layu
Diantara bunga-bunga rekah
-
Biar mataku meramal matamu
mengeja satu persatu jumlah dusta
-
hei, biarkan aku sendiri saja!
kau duduklah di sebelah sana
-
kata-kata takkan bisa mengungkap
apalagi berucap
-
mencari titik
bukan sebatas bayang
-
mungkin dunia memang mulai merangkak senja
tapi tidak dengan cintamu
-
Dipanggang matahari siang itu
Hembusan angin laut gemuruh di pucuk dedaunan
-
desember ini
ringan waktu melaju
-
Sisa darah yang kubawa dari tanah merah
lapuk di nadi menjadi buih-buih kecemasan
-
di Mangarao ada yang sukar ditafsirkan
orang-orang datang entah kapan
-
Di sebuah masa
Kita pernah bersama
-
apakah menjaring matahari
lebih berarti daripada menatap bulan bagimu
-
Hujan turun lebih rajin dari biasanya
Rinduku jelmaan rintik gerimis
-
Adawiyah menari dan cintaku tumpah sepanjang hari
tubuhnya halus bagai angin kecil terhembus
-
sejenak
sejenak kau akan merasakannya
-
kaki kaki telanjang dijilat ombak
gadis mancung berlaria
-
aku ingin menjadi lubang di ujung sepatumu
kaulihat ujung jempolmu bergoyang-goyang
-
pada lembaran kertas tak bersalah
pena mulai menulis makian tak pantas
-
izinkan aku bertamu
di bisu kelam
-
kuterawangi mimpi
di pelupuk magrib
-
Tumbuh pohon kasur di bumi rencong.
Kapas-kapas tua dan biji berwarna hitam
-
ampuni aku Tuhan, demi ibuku.
yang penuh kisah
-
Di sudut kayangan
malam dipintal menjadi pernak-pernik embun
-
menyulut cinta dan cita berkala
bercengkerama mimpi tiap senja
-
aku tak sedang jatuh cinta
sebab di kota ini, yang aku dapati bukan bunga
-
Ada sesuatu di rongga hidung,
ia mendesak ke luar,
-
biarkan jemuran bermain hujan
janganlah kau mengkhawatirkan
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved