Jumat, 24 April 2026

Kupi Beungoh

Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (X) - Islam, Ukraina, dan Cerita Abbas dari Ramallah

Saya menjawab, itu benar, tidak hanya hanya orang Aceh, mayoritas rakyat Indonesia juga pro-Rusia, dan mungkin juga seluruh ummat Islam sedunia.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Ahmad Humam Hamid, Sosilog Aceh. 

Segera ia menukas, “maksud kamu, kami Arab yang selalu berkelahi sesama bukan?

Saya tidak menjawab, lalu dia menyambung.

Ya, hampir semua negara Arab saling berkelahi, dan mereka bertuan ke AS atau Rusia.

Menjelang shalat Asar, di akhir percakapan kami, Abbas bertanya kepada saya.

“Menurut kamu kapan anjing dan babi akan berkelahi secara langsung?”

Sambil bergurau saya menjawab, “ya kapan-kapan”.

Abbas kali ini agak serius.

Ia berkata, “anjing dan babi itu harus berkelahi, tidak saat ini, nanti, tidak generasi kita, generasi anak kita. Kalau juga tidak generasi cucu kita, atau cucu dari cucu kita dan seterusnya”.

Saya kembali tercenung dibuatnya.

Awalnya saya belum sangat menghayati kenapa Abbas melabelkan anjing dan babi untuk AS dan Rusia.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (IV), Georgia dan Kegagalan Barat Menjegal Putin

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (V), Laboratorium Suriah Putin, untuk Ukraina?

Bagi-bagi Wilayah Ottoman

Setelah saya pulang ke Aceh, saya baru mulai membaca sejarah Palestina, kelahiran Israel, sumpah setia dinasti Suud dengan AS, Perang 7 hari Arab-Israel, Perang Yom Kipur, Perdamaian  Mesir Israel, dan rivalitas hegemoni AS dan Rusia-Uni Soviet yang berkelanjutan.

Cuplikan cerita Abbas adalah refleksi sebagian atau mungkin seluruh dunia Islam terhadap keberadaan negara adi kuasa, terutama AS, Rusia, dan para sekutunya, yang berurusan dengan penindasan dan ketidakadilan terhadap ummat Islam.

Abbas adalah saksi hidup betapa orangtuanya diusir dan diperlakukan semena-mena oleh Israel, di tanah airnya sendiri, tempat nenek moyangnya lahir dan hidup selama ribuan tahun.

Abbas dan Palestina dipaksa menerima kenyataan sejarah pada awal abad ke 20 ketika kerajaan Osmani Turki kalah dalam perang dunia I (1914-1918), dari sekutu yang menang pada waktu itu, Inggris Perancis, Rusia, dan AS.

Nasib Palestina mulai ditentukan ketika utusan tiga negara besar bertemu untuk membicarakan skenario pembagian wilayah, jika Turki dan Jerman kalah.

Pertemuan tahun 1916 yang dalam sejarah disebut Kesepakatan Sykes-Pikot, atau juga dikenal dengan Kesepakatan Asia Kecil membuat skenario  pembagian wilayah imperium Ottoman, jika Turki kalah.

Pertemuan itu merupakan kelanjutan dari pertemuan tahun 1915 yang menyebutkan wilayah Ottoman akan dibagi tiga, di mana kota Istanbul di Turki, Bospohorus barat, laut Marmara dan selat Dardanella menjadi milik Rusia, sementara Palestina, Terusan Suez, Arab Saudi, dan daerah sekitarnya menjadi milik Inggris, dan Aleppo Syiria, dan Afrika Utara menjadi milik Perancis.

Semua impian itu akhirnya terlaksana, kecuali Istanbul yang tidak sempat diambil oleh Rusia, karena terjadi revolusi Bolshevik yang yang menyebabkan Tsar Nicholas II dan keluarganya dibunuh.

Istanbul akhirnya diduduki oleh kekuatan empat negara, Inggris, Perancis, Italia dan Yunani, ketika Turki kalah pada tahun 1918.

Istanbul bebas dari pendudukan itu pada tahun 1923, seiring dengan lahirnya Republik Turki.

Ketika Inggris mulai mengambil alih Palestina pada tahun 1918, ayah Abbas baru saja berumur satu tahun, dan  ia bertemu dan kawin dengan Ibu Abbas pada tahun 1950, ketika negara Israel baru saja 2 tahun resmi didirikan. 

Abbas tahu sejarah bahwa negara Israel ada tak lepas dari tanda tangan Menlu Inggris Arthur James Balfour yang ditujukan kepada banker Yahudi terhebat dan terkenal di Eopa, Lionel Walter Roschild pada tanggal 2 November 2017.

Isi surat yang berjumlah 67 huruf itu, yang terkenal dengan deklarasi Balfour itu menyampaikan keputusan Kerajaan Inggris untuk mendukung kaum Yahudi untuk “mempunyai tanah airnya”- di Palestina.

Surat 67 huruf itu kemudian mengakhiri 2.000 tahun pengembaraan Yahudi ke seluruh dunia, dan terus menerus menjadi perkara yang tak pernah selesai sampai dengan hari ini.

Kenapa kerajaan Inggris memberikan dukungan itu?

Inggris harus membayar diaspora Yahudi, khususnya Yahudi Inggris yang telah mendanai sebagian biaya Perang Dunia I.

Inggris juga harus membayar jasa baik peran pemain keuangan internasional Yahudi, terutama Rostchild yang mampu mempengaruhi Presiden AS, Wilson untuk membantu sekutu Eropa- terutama Inggris, Perancis, dan Italia, yang hampir kalah berhadapan dengan Jerman dan Osmani Turki.

Disamping Rostchild, 2 Yahudi lainnya yang sangat terlibat dalam deklarasi Balfour adalah Wizman dan Sokolov.

Seperti yang ditulis sejarawan AS keturunan Yahudi, Martin Kramer (2017) di samping Rostchild, adalah Nahum Sokolow, Chaim Azriel Weizman, keduanya kelahiran Rusia, yang sangat berperan dalam pembuatan deklarasi Balfour.

Weizman adalah ahli biokimia Rusia yang pindah ke Inggris dan dianggap sebagai salah satu Bapak Zionisme internasional yang menjadi tokoh Yahudi Inggris dan jaringan Yahudi Eropa.

Inggris berutang besar kepada Weizman, karena dialah yang menciptakan senjata peledak “cordite”, hasil dari sebuah proses fermentasi kimia yang sangat rumit.

Senjata itu pula yang membuat Inggris sangat terbantu dalam Perang Dunia I.

Weizman, pada masa itu juga sangat berperan dalam mobilisasi berbagai dukungan Yahudi kepada sekutu Perang Dunia I, lewat pemerintah Inggris.

Weizman kemudian menjadi presiden pertama Israel, ketika negara itu diproklamirkan pada tahun 1948.

Tidak heran, Balfour terlibat dalam berbagai komunikasi intens dengan Wiezman, mulai dari persenjataan, penggunaan jaringan Yahudi internasional yang tersebar di antara negara yang saling berperang, berikut dengan dukungan propaganda, karena sebagian media Eropa berada di tangan kaum Yahudi.

Tidak hanya Wiezman, aktor lain yang berada di balik layar deklarasi Balfour adalah Nahum Sokolov, wartawan dan penulis tersohor koran di Polandia, yang kemudian pindah ke Inggris.

Pertemuan para tokoh Yahudi pada Februari 2017 berkeputusan mengirim Sokolov untuk menjadi arsitek deklarasi Balfour kepada pemimpin negara sekutu.

Sokolov dikirim layaknya sebagai negarawan karena sangat cerdas, hati-hati, menguasai banyak bahasa Eropa, berpakaian rapi, nampak sangat bisa dipercaya, dan telah membaca banyak tentang latar belakang perilaku dan kebiasaan pemimpin negara sekutu.

Penampilannya dalam berbagai pertemuan memukau para pemimpin negara sekutu Perang Dunia I.

Ia disukai oleh Balfour, ia membuat Presiden AS, Woodrow Wilson sangat terkesan, dan ia disenangi oleh perdana Menteri Perancis, George Clemenceau.

Kenapa Sokolov sangat signifikan?

Karena dari tangannya lah lahir kata “homeland”- tanah air untuk negara Yahudi Israel, bukan “state”- negara, yang dapat menimbulkan perdebatan panjang, karena sama sekali tidak berdasar dalam pergaulan internasional pada masa itu.

Tidak mungkin perkumpulan beberapa negara pemenang perang, memberi izin kepada sekelompok ras yang tersebar di seluruh dunia sebuah wilayah yang di diduduki dan dimiliki oleh penduduknya-Palestina, untuk dijadikan negara.

Atas alasan itu nama negara ditiadakan dalam deklarasi Balfour, dan Sokolov lah yang mencari kata yang “ambigu” untuk negara, dengan kata “homeland”- tanah air, yang kemudian dalam berbagai perdebatan dianonimkan dengan kata state oleh pihak Yahudi, yang dalam banyak hal juga sangat menyusahkan para negara sekutu dalam berbagi debat international.

Sokolov lah pencipta ambigu dan kerumitan itu.

Disebut dalam tulisan Kramer (2017) Sokolov, mampu meyakinkan Perancis, dan AS untuk mendukung deklarasi Inggris yang ditulis oleh Balfour.

Bagaimana dengan Rusia?

Rusia yang terlibat dalam pergolakan revolusi, tidak menolak, paling kurang tidak ada dokuman resmi Rusia yang menolak terhadap deklarasi Balfour sebagai embrio negara Israel.

Mengulangi cerita Abbas dari Ramallah, kekuatan besar dunia pemenang perang dunia I adalah peletak dasar lahirnya negara Israel, baik Inggris, Perancis, AS, dan Rusia.

Bahwa mereka setelah itu berperang dan mendekati ummat Islam itu adalah perkara berikutnya.

Ketika ayah Abbas betumur 47, masa Inggris mengakhiri pemerintahannya di Palestina, tepatnya pada tahun 1948, negara Israel diproklamirkan.

Diakui atau tidak, proses kelahiran Israel yang “dimasak” selama 20 tahun, tidak terlepas dari kesungguhan gerakan Zionisme Internasional yang mendapat restu dari AS, dan hampir semua kekuatan Eropa.

Uniknya AS dan Rusia- Uni Soviet yang telah mulai bermusuhan secara terang-terangan setelah selesainya Perang Dunia I,-Berlin dan Eropa Timur, Indocina,- semenanjung Korea, Taiwan, bersatu memberi dukungan kuat kepada pendirian Israel pada tahun 1948.

Stalin sangat yakin, kemungkinan besar jaringan Yahudi Rusia “menipu” Stalin, bahwa Israel akan menjadi negara pendukung Rusia di Timur Tengah yang terlanjur telah dekat dengan AS dan sekutunya.

Ia kemudian menyesal, karena Israel kemudian segera merapatkan dirinya dengan AS dan sekutunya di Eropa.

Kembali ke cerita Abbas dari Ramallah, calon doktor kimia pada saat kami kuliah, dia pasti tahu dan membaca sejarah kaumnya, sejarah negaranya.

Dia tahu betapapun AS dan Rusia berkelahi dan berkonflik di berbagai tempat di dunia, dari dulu hingga saat ini, terhadap penderitaan rakyat Palestina, merekalah aktor besar yang melahirkan negara Israel.

AS dan Rusia-Uni Sovietlah lah biang keladi konflik besar Timur Tengah dan ketika hari ini mereka berkonflik di tempat lain seperti Ukraina, itu urusan mereka.

Saya sekarang baru mengerti kenapa Abbas melabelkan anjing dan babi kepada dua negara besar itu.

Israel, bermula dari deklarasi Balfour, dan berlanjut dengan pengakuan dalam Sidang Umum PBB pada tahun 1949, setahun setelah proklamasi kemerdekaan, tepatnya pada tanggal 11 Mei 1949.

Dua pertiga anggota PBB menyetujui penerimaan itu.

Bagi Abbas, baik deklarasi Balfour maupun diterimanya Israel ke dalam PBB, tidak lepas dari dua aktor besar yang bermusuhan itu, AS dan Rusia.

Baca juga: Joe Biden Tolak Permintaan Presiden Ukraina, Konflik NATO dengan Rusia Akan Jadi Perang Dunia III

Baca juga: Model Rusia, Pengecam Keras Vladimir Putin di Media Sosial Ditemukan Tewas Dalam Koper

Umat Islam di Antara Blok Barat dan Komunis

Refleksi cerita Abbas menjelaskan kenapa hari ini ummat Islam pro-Rusia.

Sesungguhnya sikap pro kontra ummat Islam terhadap kedua negara ini, tidak lebih dari ayunan bandul suka-benci yang relatif.

Ketika Perang Timur Tengah pada tahun 1967 dan berukutnya, kekuatan AS dan Rusia bertarung di medan perang antara Israel dan negara-negara Arab.

AS mendukung Israel, Rusia-Soviet membantu negara-negara Arab.

Sebagian ummat Islam kecewa, karena harus memilih antara blok barat AS dengan blok kumunis, Uni Soviet.

Sebagiannya pragmatism, pokoknya berkawan dulu, walau sebentar dengan blok komunis, yang penting Israel harus dikalahkan.

Ketika Rusia-Uni Soviet menduduki Afghanistan, simpati ummat Islam ke AS mulai mengalir.

AS mendukung pejuang Mujahidin dengan memberikan persenjataan dan bantuan keuangan yang luar biasa.

Ketika hari ini tentara dan pejuang Ukraina menggunakan peluncur roket FIM-92 Stinger, itu adalah senjata yang diberikan oleh AS kepada pejuang Mujahidin Afghanistan, Gulbuddin Hekmatyar.

Stinger adalah senjata missil yang diujukan untuk menembak pesawat tempur Rusia yang seringkali jatuh.

Seringkali pada tahun tujuhpuluhan, kedai kopi kecamatan di banyak tempat di Aceh penuh pengunjung, minum kopi sambil mendengar cerita satu atau dua orang yang mendengar BBC tentang perang di Afghanistan.

Rutinitas pagi yang berlangsung tahunan itu menjadi alat pengkur opini publik, betapa rakyat sangat senang dengan AS karena telah membantu ummat Islam di Afghanistan.

Mereka lupa apa yang telah terjadi di Timur Tengah, terutama bagaimana Rusia menolong Mesir dan Suriah, dan bagaimana pula AS membantu Israel.

Mereka tidak tahu itu tidak ada urusannya dengan agama, itu hanya tidak lebih dari persaingan hegemoni negara adikuasa.

Hampir sebagian anak muda Aceh menghafal nama Hekmatyar, dan sebagian sangat senang dengan Menlu AS Alexander Haig yang secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Hekmatyar.

Sikap ummat Islam kembali berubah membenci AS ketika Presiden Bush memborbadir Afghanistan dalam rangka pencariannya dan balas dendam terhadap Osama bin Laden yang dianggap menjadi biang peledakan Twin Tower di New York pada September 2001.

Kebencian itu semakin bertambah dengan invasi Irak yang berkelanjutan dengan pendudukan.

Tak terhitung penderitaan rakyat Irak, baik Sunni maupun Syiah akibat agresi itu.

Ummat Islam menjadi bingung harus memihak ke siapa ketika kedua negara itu ikut cawe-cawe di Suriah.

Kedua mereka bersatu untuk memerangi pejuang Islam, ISIL-ISIS, namun mempunyai tujuan akhir yang berbeda.

Rusia ingin Assad tetap berkuasa, AS ingin rezim itu diganti dengan pemerintah yang pro-AS.

Residu kebencian itu masih besar terhadap AS dibandingkan dengan Rusia, apalagi bagi sebagian ummat Islam di Indonesia, termasuk di Aceh, Assad adalah penganut Islam Syiah, yang bagi banyak orang dianggap ancaman terhadap Islam Sunni.

Sebuah situasi yang sangat ambigu.

Ketika hari ini Rusia menyerang Ukraina, karena residu kebencian terhadap AS belum pupus akibat pasca 11 September 2001 dan perang Irak, ummat Islam kemudian menjadi pro-Rusia, tidak peduli salah siapa.

Apalagi ketika Putin mampu memukau ummat Islam dengan secara implisit memancing Zelensky, Presiden Polandia untuk menyatakan dirinya Yahudi.

Kemarahan ummat Islam semakin bertambah.

Sudah sampaikah harapan Abbas dari Ramallah tentang saling gigit kedua makhluk itu?

Dapatkah kiasan Abbas terhadap dua makhluk tak halal itu jadi pedoman untuk ummat? (BERSAMBUNG)

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved