Kupi Beungoh
Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XXIII) - 9 Mei dan Hadiah Putin Untuk Rusia
Akhir minggu ini perang Ukraina telah memasuki hari ke 72 dengan kondisi yang masih terus berlanjut, terutama di kawasan timur dan selatan neger itu
Kemampuan drone AS terbukti lebih hebat dari drone Turki Bayraktar TB2 yang digunakan Ukraina selama ini untuk menyerang tentara Rusia.
Kini diam-diam Ukraina semakin banyak mengirim tentaranya untuk pelatihan menggunakan berbagai alat perang baru di negara-negara pro Ukrainia yang disponsori AS dan NATO.
Tidak hanya itu, kongsi intelijen AS, NATO, dan Ukraina kini semakin terbukti.
Sekalipun ada beberapa hal yang tidak tersiarkan, ledakan besar yang melumpuhkan kapal perang Moskva Rusia April yang lalu, dapat terjadi karena peran AS yang memberi informasi, alat pelacak canggih, dan berbagai instrumen pelengkap lainnya.
Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XV) - Kinzhal, Mie Razali, Canai Mamak, dan Stringer
Moskva adalah salah satu kapal perang Rusia canggih yang tergabung dalam komando wilayah Laut Hitam Rusia yang sedang menggempur Ukraina dengan serangan laut.
Serangan itu kini membuat Rusia berpikir dua kali untuk melancarkan serangan pendaratan amphibi ke pesisir timur selatan Ukraina yang belum dikuasai Rusia.
Apa sebenarnya kini yang sedang dipikirkan AS dan NATO bersama dengan Ukraina adalah menguras sebanyak mungkin energi Rusia dengan berbagai cara.
Sehingga Rusia akan sangat lelah untuk melanjutkan peperangan dan penguasaan Ukraina.
Apa yang akan dilakukan adalah membuat Rusia untuk lebih tenggelam lebih dalam lagi untuk menguasai kawasan timur-selatan Ukraina.
Jika pun Rusia mampu menguasai kawasan itu, maka babak selanjutnya yang akan dikerjakan adalah sebuah “marathon” perang yang tak pernah henti sejauh tentara dan rakyat Ukraina mau dan mampu melakukannya.
Jika benar Rusia mampu menduduki kawasan timur-selatan Ukraina, kali ini AS tidak akan membiarkan kejadian di Georgia terulang, dimana Rusia cukup leluasa membentuk dua negara boneka Rusia di kawasan itu, Abkhazia dan Ossetia Selatan.
AS dan sekutunya kini ingin mengulangi pelajaran yang pernah dialami oleh kedua negara itu -AS dan Rusia/Uni Soviet ketika menduduki Afghanistan, termasuk ketika AS gagal mengurus Irak dalam beberapa tahun terakhir ini.
Persoalannya sangat kecil, mampu menduduki, namun tak pernah mampu menguasai.
Seperti diketahui, presiden Biden pernah menyebutkan AS mengeluarkan biaya setiap hari sekitar 300 juta dolar selama 20 tahun.
Itu artinya tidak kurang dari 2 triliun dolar uang AS habis selama menduduki Afghanistan.
Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XIX) - Stratak Putin, PAHE, dan Cot Kafiraton
Namun angka itu mendapat tantangan dari peneliti Unversitas Brown (Watson Institute 2022) yang menyebutkan seluruh biaya perang dan non perang AS di Afghanistan berjumlah tidak kurang dari 5.8 triliun dolar.
Sebelum AS keluar dari Afghanistan tahun yang lalu, AS juga menghentikan pendudukannya di Irak, dengan hasil yang juga tidak seperti yang diharapkan.
Paling sedikit perang Irak juga telah menguras belanja AS tidak kurang dari 2 triliun dolar.
Belanja itu digunakan baik untuk keperluan peperangan maupun non peperangan, namun dengan tujuan penundukan, penguasaan, den pengaturan negara Irak.
Berapa Uni Soviet menghabiskan belanja ketika meduduki Afghanistan antara tahun 1979-1989? Tidak ada angka yang sangat pasti untuk itu, walaupun beberapa spekulasi menyebutkan sekitar 70 miliar AS.
Namun karena menjalani perang dan pendudukan yang panjang, pengeluaran belanja Uni Soviet nyaris dihabiskan untuk belanja perang itu, dan keuangannya kemudian menjadi bangkrut.
Diantara sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991, belanja perang Afghnistan diakui sebagai faktor utama.
Dimulai dengan penyatuan Jerman Barat dan Timur pada tahun 1989, melemahnya aliansi militer Pakta Warsawa, akhirnya Uni Soviet bubar.
Kini ,selain bantuan di lapangan dengan berbagai alat canggih peperangan dan kerjasama intelijen militer, AS dan sekutunya sedang bekerja keras untuk menggerogoti ekonomi dan keuangan Rusia dengan berbagai sanksi.
Hal itu memang tak mudah, akan tetapi karena “ketakutan” terhadap Putin, hampir seluruh anggota NATO di Eropa kini semakin serius untuk menerapkan sanksi.
Tidak hanya itu, dua negara yang berbatasan dengan Rusia yang telah cukup lama netral dalam Perang Dunia I dan II, Swedia dan Finlandia, hampir dipastikan segera akan bergabung menjadi anggota NATO.
Ketika Putin mengancam penggunaan senjata nuklir, termasuk ancaman Rusia terakhir terhadap Inggris dengan bom nuklir raksasa Poseidon.
Sebenarnya Putin sadar bahwa kali ini banyak pihak yang tidak diam dengan tindakan agresi Putin telhadap Ukraina,dan sangat jau berbeda ketika ia menggempur Chehniya,dan Georgia.
Ia kini telah melihat ancaman itu dengan terang benderang yang ditujukan bukan hanya untuk Rusia, tetapi utamanya untuk dirinya sendiri.
Sejarah kalah-menag Rusia-Uni Soviet, bukanlah barang baru, namun setiap kekalahan selalu memberi dampak besar terhadap negeri itu.
Kekalahan perang Crimea (1853-1856) yang dimenangkan oleh aliansi Ottoman Turki, Inggris, dan Perancis, membuat kaisar Rusia bankrut, dan dipaksa keluar dari ekpansi Eropah.
Rusia akhirnya memperluas wilayahnya ke Asia, sampai ke Siberia dan Manchruria.
Hanya beberapa tahun setelah perluasan wilayah imperium Rusia di wikayah Samaudra Pasifik, Rusia berhadapan dengan Jepang.
Pasalnya perselisihan tentang Korea dan Manchuria dengan kerajaan Jepang. Perang yang hanya berlangsung sekitar 20 bulan, yang dikenal dengan Russo Japanese War, dimenagnkan oleh Jepang.
Baca juga: Taktik Perang Putin Berhasil, Minyak dan Gas Rusia Bikin Uni Eropa Diambang Perpecahan
Kelanjutanya dinasti Romanov digulingkan oleh Revolusi Bolshevik, dan Rusia ditransformasikan menjadi Uni Soviet.
Apa yang menjadi sangat penting untuk dicatat dari sejarah kekalahan Rusia/ Uni Soviet, termasuk kekalahan di Afghanistan pada tahun 1989 adalah, setiap kekalahan selalu memberikan dampak besar terhadap formasi negara, termasuk pergantian rezim.
Putin tidak mau itu terulang, dan ia tahu dengan sangat apa konsekuen terhadap dirinya kalau Rusia kalah, baik dari negara musuh, maupun dari rakyat Rusia sendiri.
Hanya dengan memahami konteks inilah, ancaman penggunaan senjata nuklir Putin dapat dimengerti.
*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ahmad-humam-hamid_sosiolog-guru-besar-universitas-syiah-kuala_ai.jpg)