Kupi Beungoh
Topik Hangat Aceh, Bendungan Tiro Dicoret dari PSN Hingga Dana Otsus dan Investasi yang Mandek
Menjadi poin penting bahwa, para tokoh ini bukan hanya membicarakan masalahnya saja, tapi juga memberikan ide dan saran.
Penulis: Zainal Arifin M Nur | Editor: Zaenal
“Kalau dana otsus terus ada ya patut bersyukur. Tetapi kita harus sudah siap apabila dihentikan pusat. Bismillah,” tulis Prof TA Sanny melanjutkan uraian tentang diskusinya dengan Rektor USK.
Muslim Armas kemudian membandingkan bagaimana kucuran dana otsus sejak tahun 2008, belum menjadi daya ungkit bagi perekonomian Aceh.
“Kita diberikan dana otsus sehingga APBA kita melebihi APBD Sumut, padahal penduduk Sumut lebih 4 kali penduduk Aceh, tetapi rakyat Sumut lebih makmur dibandingkan rakyat Aceh,” kata Muslim Armas.
Pengusaha berdarah Beureunuen Pidie yang lahir dan besar di Medan Sumatera Utara ini melanjutkan kalimatnya.
“Bagi saya, jika UUPA minta direvisi, selain perpanjangan dana otsus, kita minta kewenangan penuh Aceh dalam hal:
1. Perizinan
2. Lepas pantai 200 mil laut sebagai Zona Ekonomi Aceh
3. Kehutanan
4. APBA dan APBK terutama terkait setoran modal BUMD
5. Investasi
Jika ini dipenuhi Pusat, saya yakin Aceh akan meninggalkan jauh daerah lain.”
Baca juga: Kisah Diaspora Aceh – Muslim Armas, Perekat Perantau Pidie dan Pemilik 8 Perusahaan Level Nasional
Baca juga: Muslim Armas Kembali Pimpin KUPI, Wadah Perekat Perantau Pidie, Ini Catatan Kecil dari Idrus
Diskusi semakin menarik, Prof TA Sanny yang sangat padat dengan aktivitas kembali meluangkan waktu untuk menuliskan pendapatnya tentang dana Otsus dan kewenangan Aceh yang hendaknya dimasukkan dalam revisi UUPA.
“Ini yang harus kita cari solusinya. Ya kalau kewenangan itu harus terus kita diperjuangkan itu sangat ideal dan luar biasa. Akan tetapi sambil jalan juga tampaknya kita harus self correction berbagai hal yang harus kita perbaiki bersama terutama menyangkut character building:
1. Membangun visi dan misi yang kuat tentang Aceh ke depan.
2. Elaborasi manajemen pembangunan secara komprehensif-integral dengan memanfaatkan kearifan lokal
3. Membangun team works yang kuat.
4. Membuat suasana yang kondusif agar investor tidak takut masuk Aceh karena saya pun belum berhasil meyakinkan investor. Padahal saya sudah menggunakan beberapa network saya dengan Jepang, Korea, dan Australia. Bahkan sayapun sudah pernah memanfaatkan network Alm Prof. BJ. Habibie dengan Eropa, tetapi gagal juga.
5. Permasalahan Aceh leadership, ini juga perlu dipikirkan dan digodok dengan matang.
Inilah kira-kira beberapa hal yang harus kita bahas dan kaji untuk perubahan Aceh,” tulis Prof TA Sanny.
“Setuju Prof, perlu terobosan-terobosan baik self correction maupun perjuangan kita ke Pusat. Jika elite di Aceh tidak berubah, maka akan sangat sulit rakyat berubah. Saya kira sudah saatnya kita duduk bersama, singkirkan perbedaan yang ada, fokuskan demi kemajuan Aceh,” timpal Muslim Armas.
Baca juga: Dana Otsus Aceh Habis Tahun 2027, DPRA Diminta Segera Bergerak Invetarisir Pasal UUPA untuk Revisi
Baca juga: Perjuangkan Dana Otsus Tetap Lanjut, DPRA Getol Finalkan Draf Revisi UUPA Lewat Satu Pintu
Jalan Keluar Atas Kebuntuan Birokrasi
Menjelang tengah malam, diskusi semakin menghangat.
Prof TA Sanny menyarankan penting segera duduk bersama untuk mencari jalan keluar atas kebuntuan birokrasi dan solusi terbaik.
“Mohon maaf sekali nih, saya harus mengemukakan satu hal yang sangat penting: Orang pusat itu selalu mengatakan susah memahami cara berpikir ureung Aceh dan kadang tidak klop dengan diskusi yang sedang dipaparkan. Terus terang saya belum juga belum faham dengan tepat apa yang dimaksud,” tulisnya.
Prof TA Sanny hanya bisa menduga ada beberapa penyebab sehaingga orang pusat kerap bilang “susah memahami cara berpikir ureung Aceh dan kadang tidak klop dengan diskusi”. Di antaranya:
1. Ureung belum pandai berdiplomasi/negosiasi/lobbying.
2. Saya tidak tahu apakah karena kapasitas intelektual yang belum memadai
3. Budaya Aceh yang terlalu keras dalam berpendapat (atau hanya suaranya saja keras?) sebab yang kita hadapi itu mayoritas orang Jawa yang lebih mengutamakan itu cita rasa, bukan semata logika.
“Hal-hal seperti ini yang harus kita bahas dalam FGD Tokoh Aceh Nasional. Silahkan yang ahli sosial dan budaya yang membahas dengan mendalam. Itu hanya reka-reka saya saja karena pergaulan saya dengan mereka di berbagai forum nasional. Mohon maaf bila ada salah tafsir karena kita sedang bicara budaya ke Indonesiaan yang multikultural,” ujarnya.
“Itu bahan yang kita perlu bahas besok. Mumpung saya punya waktu di tengah malam,” lanjut TA Sanny dalam postingannya pada pukul 00.17 WIB.
Diskusi hampir berakhir ketika Prof TA Sanny mengucapkan salam dan selamat beristirahat.
Tapi ternyata diskusi kembali berlanjut ketika Hakim Adhoc Tipikor Dr Taqwaddin memosting pendapatnya pada pukul 00.30 WIB.
“Pahamilah orang Aceh secara verstehen dan inheren.
Menyo ta tuoh tueng hatee, kreeh jeut ta raba. Tapi menyo ka teupeeh hatee, bu leubeeh han dipeutaba.”
Menurut Taqwaddin, butuh sentuhan khusus untuk meyakinkan masyarakat di akar rumput, dengan istilah-istilah yang mudah dimengerti dan memberikan dampak langsung bagi kehidupan mereka.
Karena malam sudah larut, diskusi pun mulai meredup.
Tapi hanya beberapa jam kemudian, setelah shalat Subuh, grup kembali aktif dengan berbagai diskusi, termasuk pendapat Prof Dr Nazaruddin Sjamsuddin MA, mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI yang memberikan pendapatnya tentang pelaksanaan PON 2024 di Aceh dan Sumut.
Insya Allah akan kita rangkum di lain kesempatan, dalam bab yang berbeda.(*)
Baca juga: Gubernur Nova Iriansyah Sebut Aceh tak Perlu Takut Jika Dana Otsus Berakhir, Ini Alasannya
*) PENULIS adalah Jurnalis Harian Serambi Indonesia.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI