Jurnalisme Warga
Sebab Penyesalan Selalu Datang Terlambat
KILAT kepak sayap biru burung cekakak (kingfishers) melintas cepat dan hilang sekejap dalam hektaran lahan sawit di sepanjang mata memandang

OLEH AYU ‘ULYA, Koordinator Perempuan Peduli Leuser, Anggota AJI Banda Aceh, dan Anggota FAMe, melaporkan dari Aceh Tamiang.
KILAT kepak sayap biru burung cekakak (kingfishers) melintas cepat dan hilang sekejap dalam hektaran lahan sawit di sepanjang mata memandang.
Bebauan khas sawit bercampur lembabnya aroma lembah menyeruak kuat ke udara.
Sinyal gawai timbul tenggelam dari dua bar 4G, E, hingga ketiadaan akses sama sekali.
Jalanan sempit, dataran kecokelatan bergelombang, taburan kerikil bebatuan, dan juga lubang-lubang dengan air yang tergenang.
Membutuhkan lebih dari 5 kilometer jarak tempuh menggunakan kendaraan pribadi dengan kondisi jalan demikian jika bertolak dari titik bekas jalur kereta api di Simpang Semadam hingga tiba di Stasiun Restorasi Kawasan Hutan Tenggulun, Aceh Tamiang.
Jika di sepanjang perjalanan sebelumnya pohon pohon sawit berjejer tegap, di lokasi hutan lindung tersebut pepohonan sawit justru telah tumbang, membusuk, tergantikan beragam tumbuhan lainnya: gaharu, durian, cempedak, damar, petai, dan berbagai jenis tanaman keras hutan.
Keberagaman tumbuhan di lokasi restorasi tak hanya terlihat menawan, tetapi juga menawarkan udara yang jauh lebih segar.
“Awal mula masyarakat melakukan restorasi seluas 232 hektare dengan melibatkan tiga kelompok tani (poktan) hutan: Tukul Lestari, Subur Lestari, dan Karya Bersama.
Selama proses restorasi, banyak terjadi perubahan.
Baca juga: Harga TBS Kelapa Sawit Hari Ini Naik, Segini Harga Sawit di Agen Pengumpul di Aceh Selatan
Baca juga: Harga Minyak Goreng Sawit Curah Bertahan Rp 11.500/Kg, Diperkirakan Bakal Naik Lagi
Banjir tetap terjadi, tetapi intensitasnya berkurang,” jelas Amran, Ketua Poktan Tukul Lestari.
Dia tambahkan, tahun 2019 dan 2021 muncul dua poktan lainnya, Sungai Rambe dan Mudah Sepakat, sehingga luas hutan kelola masyarakat kini mencapai 509 ha.
Staf Lapangan Forum Konservasi Leuser (FKL) yang telah menetap di Desa Tenggulun sejak tahun 1977 ini menuturkan bahwa restorasi menargetkan 60 persen tanaman produktif dan 40 % tanaman keras.
Menurutnya, sekitar 30 perwakilan negara dunia pernah singgah ke lokasi restorasi, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Belanda, dan Australia.
Amran memaparkan bahwa kawasan restorasi juga berfungsi sebagai pusat studi dan penelitian keanekaragaman hayati.