Kupi Beungoh

Gubernur Aceh: Marzuki, Luhut Panjaitan, dan Ganti Kelamin Partai Aceh – Bagian V

Menurut berita berkembang, kalangan DPR Aceh pada awalnya menginventarisir tiga putra Aceh yang mempunyai kualifikasi untuk calon pj gubernur Aceh.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Segera saja terbaca dan diketahui secara terbatas di kalangan elit di Jakarta dan di Aceh tentang koneksi strategis calon pejabat itu dengan orang atau lembaga yang dekat dengan pusat kekuasaan.

Yang dituju adalah presiden Jokowi, yang akan memberikan keputusan akhir terhadap calon yang akan dipilih.

Segera terasa misalnya, Indra Iskandar,-sekjen DPR-RI medapat dukungan yang kuat dan sangat serius dari ketua DPR-RI, Puan Maharani.

Safrizal, pejabat Depdagri yang pernah menjadi penjabat gubernur Kalimantan Selatan, juga dinilai sebagai calon kuat, karena direkomendasi oleh Surya Paloh.

Ketua DPP Nasdem itu merupakan sosok kunci politik pemerintahan Jokowi sebelum pencalonan Anies.

Melalui Paloh, diyakini akan membuat Safrizal mendapat kepercayaan Presiden Jokowi.

Tidak banyak berita yang berkembang tentang Ahmad Marzuki pada masa itu, kecuali ia mendapat dukungan sosok “prominent” sekaligus “eminent” di lingkaran Jokowi, Luhut Binsar Panjaitan.

Ia menjagokan Marzuki untuk menjadi penjabat gubernur Aceh.

Dari perkembangan awal yang ada pada saat itu, hampir dapat dipastikan Indra akan mendapat kepercayaan pemerintah, karena dari berita yang berkembang, Puan Maharani telah berhasil meyakinkan presiden untuk menunjuk Indra menjadi penjabat gubernur Aceh.

Sebelumnya nama Safrizal juga menjadi pesaing ketat, namun kemungkinan besar, karena Surya Paloh telah mencalonkan Anies sebagai calon presiden, suara Paloh tidak “keramat” lagi seperti sebelumnya.

Dari sejumlah sumber yang berkembang, tercium tentang sikap Paloh bahkan prinsip Paloh tentang siapa yang harus menjadi penjabat gubernur Aceh.

Yang terekam dan terbaca adalah sekalipun kadar nasionalisme Paloh terhitung kental, akan tetapi tentang penjabat gubernur Aceh, Paloh bersikap “harus” putra Aceh.

Ia yakin dan perçaya bahwa ada putra-putra terbaik Aceh di tingkat nasional yang mampu dan memenuhi kualifikasi untuk jabatan itu.

Ketika ia menjagokan Safrizal, itu tak lebih dari pilihan akal sehat.

Bagi Paloh, Safrizal adalah salah satu putra Aceh terbaik di Departemen Dalam Negeri yang menjabat eselon I.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved