Kupi Beungoh
Ketika Yang Manis Tidak Selalu Baik, Refleksi Konsumsi Gula Kita
Di tengah menjamurnya bisnis minuman kopi dan teh kekinian, penerapan pajak ini mendatangkan kekhawatiran dari para pelaku bisnis MBDK.
Banyak faktor yang berkaitan dengan tingginya konsumsi MBDK di Indonesia.
Selain dari banyaknya variasi dan rasa yang enak, harga yang murah, dan juga kemudahan akses untuk membeli.
Penjual MBDK bertebaran pada semua level mulai dari harga 1000 rupiah hingga ratusan ribu rupiah.
Dari warung kecil di gang hingga kafe mewah di mall. Variasinya juga sangat beragam: penjual kopi dan teh kekinian, jus buah, susu kemasan, sirup, minuman energi, hingga aneka minuman serbuk di warung-warung kecil.
Tidak hanya karena rasa yang enak dan sifat manis yang adiktif, marketing MBDK juga menjadikan MBDK populer sebagai bagian dari gaya hidup.
Imej yang ditampilkan adalah sehat (susu kemasan dan jus kemasan), gaul dan kekinian (teh, kopi, dan minuman boba), dan enerjik (minuman isotonik dan penambah stamina).
Selain itu, ada salah kaprah di masyarakat bahwa susu dan jus buah termasuk dalam minuman sehat dan bukan MBDK.
Asumsi ini memiliki potensi bahaya laten. Karena anggapan bahwa susu dan jus sehat, orang tua bisa saja memberikan susu dan jus secara berlebihan pada bayi dan balita. Ini dapat berujung pada malnutrisi, stunting, dan obesitas pada anak usia dini.
MBDK dan Efeknya pada Kesehatan
Jika berbicara mengenai gula, sebagian besar masyarakat sudah mengerti dan mampu mengkaitkan konsumsi gula dalam MBDK dengan efeknya pada kerusakan gigi dan penyakit diabetes. Sayangnya, efek dari konsumsi gula berlebih tidak hanya itu.
Pengaruh gula berlebih tidak hanya mengakibatkan diabetes, namun gula juga dapat memicu penyakit jantung, kanker, kerusakan hormon, gangguan perilaku pada anak dan remaja, dan bahkan memicu infertilitas.
Tidak hanya itu, gula juga dikaitkan dengan rusaknya flora normal pada tubuh.
Konsumsi gula diketahui memiliki efek langsung pada kenaikan tekanan darah, yang akhirnya memicu penyakit jantung.
Selain itu, konsumsi gula memberikan stimulus berlebih pada produksi sejumlah hormon yang mempengaruhi mood.
Efeknya pada anak-anak dan remaja bisa terlihat melalui perubahan perilaku dan kecenderungan sikap agresif.
| Kupiah Meukeutop dan Nama Besar Kampus Aceh: Menjaga atau Mengerdilkan? |
|
|---|
| Refleksi Hardiknas: Alarm Karakter dan "Eksploitasi Keikhlasan" |
|
|---|
| Serahkan Urusan pada Ahlinya, Jika Tidak Maka Tunggulah Kehancuran |
|
|---|
| Mendesain Ulang Arah Pendidikan Kita |
|
|---|
| Stigma Gembel, Mengapa Jalan Kaki di Banda Aceh Dipandang Sebelah Mata? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-Ade-Oktiviyari-MS.jpg)