Minggu, 3 Mei 2026

Kupi Beungoh

Ketika Yang Manis Tidak Selalu Baik, Refleksi Konsumsi Gula Kita

Di tengah menjamurnya bisnis minuman kopi dan teh kekinian, penerapan pajak ini mendatangkan kekhawatiran dari para pelaku bisnis MBDK.

Tayang:
Editor: Firdha Ustin
FOR SERAMBINEWS.COM
dr. Ade Oktiviyari, M.Sc, Dosen Universitas Syiah Kuala (USK) dan Dewan Penasehat Forum Lingkar Pena Aceh 

Tidak hanya di Indonesia, di berbagai negara lain mulai dari Afrika hingga US, MBDK dianggap sebagai masalah yang mengancam kesehatan masyarakat secara luas.

Berbagai pendekatan dilakukan, mulai dari edukasi, pemberian himbauan, regulasi penjualan dan pemasaran, hingga pembatasan dan pemberian pajak tinggi untuk MBDK.

Di Indonesia, isu ini sudah berhembus dari tahun 2016 hingga sekarang.

Meski belum disahkan, berbagai aksi sudah dilakukan oleh masyarakat untuk memastikan terbitnya peraturan perpajakan yang nantinya akan membuat minuman berpemanis dalam kemasan ini dikenai pajak.

Semakin tinggi gula dalam minuman, pajaknya akan semakin besar.

Dengan demikian, diharapkan produsen akan melakukan perubahan, mulai dari perubahan harga, komposisi, target konsumen, dan pada akhirnya diharapkan menurunkan angka konsumsi MBDK.

Meski demikian, sebelum aturan cukai ini ditetapkan, masyarakat dapat mengambil langkah terlebih dahulu dengan mulai menaruh perhatian terhadap konsumsi MBDK, terutama terhadap anak-anak.

Hal ini dapat dilakukan dengan menaruh perhatian lebih pada label nutrisi pada produk, dan menghindari produk dengan nilai kalori dan gula yang tinggi.

Membaca label nutrisi dan menyadari sepenuhnya konsekuensi dari konsumsi gula berlebih akan mempengaruhi perilaku dalam konsumsi gula.

Konsumsi MBDK dapat dikurangi berlahan-lahan, hingga menjadi 1 kali per minggu, atau bahkan kurang dari itu, ini berlaku tidak hanya untuk MBDK dari pabrik, namun juga untuk minuman berpemanis yang dijual di kaki lima, warung, kafe, dan gerai-gerai makanan.

Mengurangi konsumsi MBDK berarti mengurangi timbulnya resiko penyakit kardiovaskular, pencernaan, gigi mulut, infertilitas, hingga kanker.

Bagi remaja dan anak-anak, mengontrol konsumsi gula juga berperan besar untuk memperbaiki penyerapan nutrisi dan mencegah malnutrisi, stunting, dan obesitas.

Selain mencegah dan membatasi konsumsi MBDK, solusi lain bisa berupa perubahan pola konsumsi minuman.

Mulai dari pengurangan kebiasaan minum manis dan memperbanyak minum air putih, susu tanpa campuran gula, air kelapa, atau teh dan kopi tanpa gula.

Penyajian minuman ini tanpa gula akan memberikan keuntungan untuk kesehatan tanpa mengundang bahaya konsumsi gula berlebih.

Seperti teh dengan kandungan flavonoid-nya yang terbukti bagus untuk menangkal radikal bebas.

Atau kopi dengan kandungan kafein yang jika dikonsumsi secara moderat, dapat meningkatkan konsentrasi dan kewaspadaan, serta menurunkan resiko demensia.

*) PENULIS adalah Dosen Universitas Syiah Kuala (USK) dan Dewan Penasehat Forum Lingkar Pena Aceh

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

(Serambinews.com/Firdha Ustin)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved