Rabu, 3 Juni 2026

Kupi Beungoh

Kisah Nja’ Ali, Jago Bedah Lintas Zaman

emaja Gampong Peulanggahan, Banda Aceh ini diterima sebagai Helper Burger Zieken Venpleger Bijzender Bembte (asisten perawat pasien umum) yang bekerja

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Yeni Hardika
IST
Kisah Nja’ Ali, Jago Bedah Lintas Zaman. 

Oleh: Azhar Abdullah Panton*) 

Tidak banyak yang tahu, kalau bangsa Aceh memikili seorang ahli bedah lintas zaman.

Kredibilitasnya telah diakui sejak zaman kolonial hingga zaman kemerdekaan.

Hebatnya, ia bukanlah seorang dokter, tapi hanya seorang perawat berijazah Sekolah Rakyat (SR) yang memulai karir di Militair Hospital (Rumah Sakit Militer) Pemerintah Hindia-Belanda di Kutaraja (selanjutnya disingkat RSMHB).  

Bangsa Aceh dimaksud adalah Nja’ Ali (Nyak Ali-PUEBI).

Saat usia 16 tahun, bermodalkan ijazah SR, Ali melamar pekerjaan di RSMHB yang kala itu juga populer dengan nama RS Pante Pirak.

Remaja Gampong Peulanggahan, Banda Aceh ini diterima sebagai Helper Burger Zieken Venpleger Bijzender Bembte (asisten perawat pasien umum) yang bekerja di bagian zaal (bangsal), terhitung 1 Juli 1913. 

Setahun kemudian, pria kelahiran Tapaktuan, 21 Juli 1897 ini dipindahkan ke bagian operatie kamer (ruang bedah) dan verband kamer (ruang perban).

Disinilah Ali mulai berkenalan dan berinteraksi dengan dunia pembedahan hingga di kemudian hari ia diakui sebagai ahli bedah. 

Baca juga: Kesabaran Nabi Muhammad SAW Sebagai Kunci Suksesnya Dakwah

Dua windu bertugas sebagai asisten perawat, pada tahun 1930, kepala RSMHB, WG Nelessen menaikkan jabatannya menjadi Burger-Zieken Venpleger (perawat pasien umum).

Enam tahun setelahnya (1936), karir Ali di RS yang selesai dibangun 1880 ini semakin menanjak. Ia diangkat sebagai penanggung jawab perawat. 

Berkat ketekunan, keuletan, dan dedikasinya dalam mengemban tugas, dokter bedah Belanda mengapresiasi kinerja Ali.

Sedikit demi sedikit ia mulai menurunkan ilmunya, sampai akhirnya Ali menguasai ilmu pembedahan dengan baik. 

Atas prestasi dan pengabdiannya, pada tahun 1941, Kepala Jawatan Kesehatan Militer Pemerintah Hindia-Belanda yang berkedudukan di Bandung mengangkat Ali sebagai Hospital Assistant (asisten RS).

Ia diberikan kartu identitas Militair Geneeskundige Dienst (layanan kesehatan militer).

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved